Seksualitas dalam Fikih Islam - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Seksualitas dalam Fikih Islam

Seksualitas dalam Fikih Islam

3. S3ksualitas dalam Fikih Islam



harisehat.com | Fikih dalam makna generiknya adalah pengetahuan dan pemahaman tentang sesuatu. Sebagai disiplin ilmu, fikih dipahami sebagai suatu pengetahuan hukum Islam yang dirumuskan para ahli hukum Islam (mujtahid) melalui proses penalaran terhadap ayat-ayat Alquran dan teks hadis yang berhubungan dengan perbuatan manusia yang berakal dan dewasa.[39] Sedangkan dalam terminologi ushuliyyun (para pakar usul fikih), fikih didefinisikan sebagai ilmu tentang hukum-hukum shara’ yang bersifat praktis yang digali dari dalil-dalil yang terperinci. [40]


Hukum fikih dirumuskan biasanya sebagai jawaban dari berbagai persoalan atau kasus hukum yang berkembang di dalam masyarakat dan dalam kurun waktu tertentu. Oleh karena itu berbeda dengan teks Alquran dan hadis yang tidak bisa diubah, fikih malah bersifat dinamis dan fleksibel bisa berubah sesuai dengan perubahan kondisi, keadaan, tempat dan waktu. Dalam suatu kaidah fikih disebutkan “perubahan fatwa hukum disesuaikan dengan perubahan waktu, tempat, kondisi, niat dan tradisi”.[41]

 Secara historis, terbentuknya wacana fikih bukan hanya sebagai upaya untuk mengimplementasikan pesan-pesan teks Alquran dan hadis dalam sebuah rumusan hukum yang bersifat praktis-realistis saja. Didalamnya terdapat unsur subjektifitas dan ideologi yang mencampurinya, disadari maupun tidak. Meskipun berawal dari sebuah panggilan keagamaan, tidak berarti fikih steril dari pengaruh (intervensi) nilai-nilai tertentu, baik ideologi, politik, ras, maupun budaya secara keseluruhan. Syafiq Hasyim mencontohkan Al-Mawardi ketika mengkonstruksikan fikih politiknya (fiqh al-siyasah) dalam bukunya Al-Ahkam Al-Sulthaniyah, akan berbeda dengan rumusan fikih politiknya Ibn Taimiyyah yang menganut garis keras mazhab Hanbali, meskipun motivasi utama mereka sama yaitu mengaktualisasikan nilai-nilai siyasah Islamiyah dalam bentuk yang realistis dan empiris.[42]


 Perbedaan dalam mengkonstruk wacana fikih didasarkan pada paradigma fikih yang berbeda. Paradigma adalah teori-teori, metode-metode, fakta-fakta, eksperimen-eksperimen yang telah disepakati bersama dan menjadi pegangan bagi aktivitas ilmiah para ilmuwan.[43] Bidang fikih mengalami persaingan paradigma (paradigm war) yakni pertama dijumpai paradigma rasionalistik Hanafi yang kemudian ditolak oleh paradigma tekstualistik Maliki. Kemudian paradigma tekstualistik Maliki ditolak oleh sintesis teks dan rasio Syafi’i. Paradigma sintesis teks dan rasio Syafi’i ditolak oleh paradigma tekstualistik Ibn Hazm azh-Zahiri. [44]

Dalam soal s3ksualitas perempuan, mazhab Hanafi yang memiliki paradigma rasionalistik memiliki pandangan lebih maju. Menurut mereka, perempuan berhak menuntut hubungan intim kepada suaminya dan apabila istri menghendaki, suami wajib mengabulkannya. Mazhab Maliki juga menyetujui pendapat ini. Menurut mereka, suami wajib mengabulkan tuntutan s3ksualitas istrinya selama tidak ada halangan. Hubungan s3ksual harus dilakukan secara sehat. Ini berarti relasi s3ksual, dan kesediaan kedua pihak untuk saling menerima dan memberi hendaknya dilakukan secara tulus dan bukan paksaan.[45]

Relasi s3ksual suami-istri untuk saling menerima dan memberi ini diantaranya bisa terlihat dalam praktik pencegahan kehamilan dengan menggunakan metode senggama terputus (coitus interuptus). Untuk melakukan metode ini mazhab fiqih Maliki, mazhab Hambali dan mazhab Hanafi menjelaskan bahwa senggama terputus boleh dilakukan asal istri mengizinkannya. Hal ini dilakukan sebagai pemenuhan hak istri untuk merasakan kenikmatan s3ksual /orgasme yang biasanya tidak terjadi bila menggunakan metode tersebut sehingga suami wajib meminta izin dalam praktiknya.[46] Bahkan dalam mazhab Maliki bila melakukan senggama terputus tanpa izin istri, maka suami wajib memberikan ganti rugi berupa uang. Jumlahnya lumayan besar yaitu membayar 10 dinar setiap kali senggama terputus dilakukan tanpa persetujuan istri. [47] Bila diukur dengan rupiah, 1 dinar seharga Rp. 1,933,450 maka 10 dinar berarti Rp. 19,334,500. Hal ini menunjukkan betapa hak menikmati s3ksual bagi istri begitu diperhatikan.


Catatan Kaki:

[40] Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh (Mesir: Dar al-Fikr, t.t.), 56.

[41] Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, I‟lam Muwaqi‟in „an Rabb al-Alamin, 3 (t.k.: t.p., t.t.),3.

[42] Syafiq Hasyim, Hal-Hal Yang Tak Terpikirkan Tentang Isu-Isu Keperempuanan Dalam Islam
(Bandung: Mizan, 2001).

[43] Lihat Thomas S Kuhn, The Structure of Scientific Revolution (Herndon: The University of Chicago Press, 1970), 11, 65.

[44] Sadari, “KDRT dalam Perspektif Fiqih,” dalam Ragam Kajian Kekerasan Dalam Rumah Tangga, ed. Afwah Mumtazah (Cirebon: ISIF, 2012), 156.

[45] Musdah Mulia, Muslimah Reformis (Bandung: Mizan, 2005), 249.

[46] B.F. Musallam, S3ks dan Masyarakat dalam Islam (Bandung: Pustaka, 1985), 37.

[47] Musallam, S3ks dan Masyarakat dalam Islam, 37.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact