Agama dan Seksualitas Perempuan - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Agama dan Seksualitas Perempuan

Agama dan Seksualitas Perempuan

Oleh:
Dyah Nawangsari
(Dosen Tetap Jurusan Tarbiyah STAIN Jember)

Sumber: Jurnal al-‘Adâlah, Volume 16 Nomor 1 Mei 2013



“Laki-laki di negara kami telah terobsesi untuk mengendalikan setiap aspek kehidupan kami , mulai sepatu, pita di rambut, warna bibir, bahkan bagian dari kehidupan sehari-hari kami yang bersifat pribadi sekali….”[1]

A. Pendahuluan


Sudah menjadi sunatullah di muka bumi ini bahwa manusia diciptakan dengan dua jenis kelamin yang berbeda yaitu laki-laki dan perempuan. Kedua makhluk ini diciptakan untuk saling bekerjasama satu sama lain dalam posisi yang seimbang tanpa membeda-bedakan dan tanpa merendahkan satu jenis kelamin terhadap jenis kelamin yang lain. Al Qur’an secara tegas menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan berdiri mutlak sederajat dalam pandangan Allah, mereka adalah pelindung satu sama lain.[2] Dengan kata lain Al Qur’an tidak menciptakan herarki di mana laki-laki ditempatkan di atas perempuan atau Al Qur’an tidak mengadu laki-laki melawan perempuan dalam hubungan permusuhan. Mereka diciptakan sebagai makhluk-makhluk yang setara.


Meskipun ada penegasan Al Qur’an tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan, akan tetapi masyarakat muslim secara umum tidak memandang laki-laki dan perempuan sebagai setara. Akar mendalam yang mendasari penolakan dalam masyarakat muslim terhadap gagasan kesetaraan laki-laki dan perempuan adalah keyakinan bahwa perempuan adalah makhluk Allah yang lebih rendah karena diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, disamping itu perempuan adalah mahluk yang kurang akalnya sehingga harus selalu ber ada dalam bimbingan laki-laki. Apalagi ini diperkuat dengan ayat Al Qur’an dalam surah An Nisaa (4) ayat 34 yang seakan-akan melegitimasi superioritas laki-laki yang berkedudukan sebagai qawwamun sehingga memiliki hak untuk memerintah bahkan untuk memukul perempuan.[3] Hampir semua yang mambaca ayat ini menganggap bahwa ayat tersebut mengungkapkan kelebihan dan superioritas laki-laki atas perempuan. Ayat lain dalam surah Al Baqarah (2) ayat 228 jika difahami secara literer seakan juga menunjukkan bahwa s3ksualitas perempuan sepenuhnya berada dalam kendali laki-laki.[4]


Ayat-ayat ini diperkuat dengan hadits-hadits yang dipandang sebagai sumber hukum kedua setelah Al Qur’an. Penting untuk dicatat bahwa sepanjang sejarah muslim sumber-sumber itu telah ditafsirkan hanya oleh laki-laki muslim sehingga sangat bercorak patriarkat. Akibat dari itu muncullah tafsir-tafsir atau fatwa-fatwa yang sering menistakan perempuan,streotype yang menganggap perempuan sebagai sumber fitnah dan harus dikurung dalam wilayah domestik yang samasekali terpisah dari ranah publik. Maka tidak heran kalau di setiap negara muslim perempuan hampir identik dengan korban kekerasan, intimidasi dan tindak kesewenang-wenangan oleh lingkungannya dengan menggunakan suara agama.[5] Sebab kehidupan perempuan sepenuhnya berada di bawah otoritas pihak-pihak (baca: laki-laki) yang menafsirkan pesan-pesan agama dengan nuansa tunggal yaitu ketidakseta-raan. Otoritas itu memegang kendali bagi segenap aspek kehidupan perem-puan mulai s3ksualitas sampai pada persoalan ibadah. Mulai dari cara berbusana, pemakaian sepatu—bahkan pemakaian BRA—hingga persoalan-persoalan ritual ibadah yang semestinya itu menjadi urusan yang paling pribadi antara perempuan dengan Tuhan-Nya. Kesemuanya di atur sedemikian rupa oleh laki-laki (baik secara individu maupun institusi) yang merasa se-bagai fihak yang paling benar dalam menafsirkan pesan-pesan Tuhan.[6]

B. Pembahasan

C. Penutup

Tuhan menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini dengan berpasang-pasangan. Ada malam ada siang, ada suka ada duka, ada putih ada hitam, ada kaya ada miskin, ada laki-laki dan ada perempuan. Kesemua itu diciptakan untuk saling melengkapi dalam rangka harmonisasi kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu tindakan pengabaian terlebih lagi diskriminasi terhadap perbedaan-perbedaan tersebut dengan dalih apa pun tidak bisa dibenarkan. Termasuk di dalamnya suara-suara agama yang mengarah kepada tindak diskriminasi ini juga tidak bisa dibenarkan sebab agama seyogjanya diperuntukkan untuk kesejahteraan seluruh manusia tanpa pemandang perbedaan dalam bentuk apa pun. Dengan demikian doktrin-doktrin maupun fatwa-fatwa dibalik suara agama yang sarat dengan praktik-praktik diskriminatif harus dikaji ulang jika ingin Islam tetap menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wa Allah a’lam bi al-shawāb

Daftar Bacaan

Abu Zaid, Nashr Hamid, Hermeneutika Inklusif, Mengatasi Problematika Bacaan dan Cara-cara Pentakwilan Atas Diskursus Keagamaan. Terjemahan: Muhammad Mansur (Jakarta: ICIP, 2004).

Ahmed, Laila, Wanita dan Gender dalam Islam Akar Historis perdebatan Moderan. Terjemahan: M.S. Nasrulloh (Jakarta: Lentera, 2000).

Becher, Jeane, Perempuan, Agama & S3ksualitas Studi Tentang Pengaruh Berbagai Ajaran Agama Terhadap Perempuan. Terjemahan: Indriani Bone (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2004).

DEPAG RI. Al Qur’an dan Terjemah (Surabaya: Penerbit Mahkota, 1997).

El Fadl, Khaled M. Abou, Atas Nama Tuhan: Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif. terjemahan: R. Cecep Lukman Yasin (Jakarta: Serambi, 2004).

Fikrah edisi 23, “Khaled Abou El Fadl Membela Perempuan Tertindas”, dalam http//www.rahima.or.id.

http//www.detikNews.com.

Ihsan, Asanawi, Otoritarianisme: “Catatan Hitam Peradaban Islam”, 

Sasson, Jean, Skandal S3ks Raja-raja Arab, terjemah Iwan (Surabaya: Mahkota, 2007).


Catatan Kaki:

[1] Kalimat ini adalah ungkapan dari Putri Sulthana, salah seorang putri di Kerajaan Saudi Arabia. Kalimat ini menggambarkan adanya pelecehan dan eksploitasi wanita yang merupakan salah satu kebiasaan yang terjadi di Saudi Arabia, yang bisa jadi juga terjadi di banyak negara belahan dunia yang lain. Lihat: Jean Sasson, Skandal S3ks Raja-raja Arab, terjemah: Iwan (Surabaya: Mahkota, 2007), 90.

[2] Al-Qur-ān, 9 (At Taubah), 71-72.

[3] A.A Maududi menterjemahkan ayat tersebut dengan menyimpulkan bahwa laki-laki adalah pengelola urusan perempuan karena Allah telah menciptakan yang satu lebih tinggi dari yang lain dan karena laki-laki memakai kekayaan mereka untuk perempuan. Karena itu perempuan yang saleh bersifat taat, mereka menjaga hak-hak mereka dengan hati-hati saat laki-laki mereka tidak ada, di bawah pemeliharaan dan pengawasan Allah. Mengenai perempuan-perempuan yang menentang engkau punya alasan untuk menakuti, menegur mereka dan menjauhkan mereka dari tempat tidurmu serta memukul mereka. Lalu jika mereka tunduk padamu jangan mencari alasan untuk menghukum mereka; perhatikan baik-baik bahwa Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar di atas engkau. Lihat: Jeane Becher, Perempuan, Agama & S3ksualitas Studi Tentang Pengaruh Berbagai Ajaran Agama Terhadap Perempuan, Terjemahan: Indriani Bone (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2004), 150.

[4] Terjemah ayat tersebut adalah sebagai berikut: “Istri-istri kamu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.” Lihat: Al Qur’an, 4 (Al- Nisā): 54.

[5] Misalnya di Mesir, Somalia, dan Sudan masih dipraktikkan tradisi khitan untuk perempuan muslim dengan tujuan untuk menjaga kesucian. Disamping itu fakta bahwa sejumlah besar perempuan muslim menderita frigiditas akibat adanya tuntutan untuk segera memenuhi kebutuhan s3ks suami dalam kondisi bagaimana pun (kecuali sedang haidl). Di India dan Pakistan seorang perempuan muslim beranggapan bahwa suami adalah majazi khuda (Allah dalam wujud dibumi). Tidak diragukan lagi tradisi ini berkembang dikarenakan penafsiran terhadap teks-teks agama terutama hadits-hadits yang sangat misoginis. Lihat: Riffat Hasan dalam Jeane Becher, Perempuan, 156-152.

[6] Fakta yang agak menggelikan ketika MUI mengeluarkan fatwa haram terhadap film Perempuan Berkalung Surban, karena dianggap sebagai bentuk penistaan terhadap agama. Untuk diketahui film ini berkisah tentang seorang perempuan yang merasa mendapat perlakuan diskriminatif di lingkungan pesantren. http//www.detikNews.com.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact