Seksualitas dalam Hadis - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Seksualitas dalam Hadis

Seksualitas dalam Hadis

2. S3ksualitas dalam Hadis



Pembicaraan mengenai s3ksualitas dalam masyarakat muslim tidak bisa lepas dari hadis Nabi. Karena hadis merupakan ucapan, tindakan dan persetujuan Rasul atas suatu peristiwa yang biasanya memiliki kaitan langsung dengan kondisi sosial-budaya masyarakat yang terjadi pada masa itu, maka persoalan s3ksualitas lebih detail dibicarakan. Namun, berbicara tentang hadis Nabi sesungguhnya adalah berbicara tentang sejarah (sirah) kehidupan Nabi.

Sesungguhnya pengalaman praktis Nabi dengan persoalan s3ksualitas terjadi ketika beliau melakukan perkawinan dengan Khadijah. Perkawinan Nabi dengan Khadijah ini telah mengajarkan banyak hal kepada kita tentang makna s3ksualitas dalam kehidupan rumah tangga. Dikatakan bahwa perkawinan Rasulullah dengan Khadijah, meminjam teori Mernissi,[22] menunjukan sebuah fenomena s3ksualitas perempuan yang aktif yang selama ini dilihat “rendah” oleh kalangan Islam. Dalam hal ini Khadijahlah yang melamar Rasulullah.


Namun, fenomena yang begitu jelas itu sering tidak dipahami oleh kaum muslim yang menempatkan s3ksualitas perempuan dalam posisis yang pasif. Hal ini tercermin dalam ulasan-ulasan ulama fiqih tentang tradisi khitbah di mana seorang laki-lakilah yang melakukannya. Khitbah (meminang) dengan cara demikian itu merupakan langkah awal dari upaya penaklukan s3ksualitas perempuan. Sejarah Islam mencatat bahwa Rasulullah menerima pinangan tidak hanya dari Khadijah, tapi juga dari istri-istri yang lain. Tindakan Rasulullah yang itu mengisyaratkan kepada kita semua bahwa s3ksualitas aktif perempuan tidak menjadi masalah serius.

Mernissi melihat pembagian masyarakat tersebut sebenarnya tidak tergantung kepada mekanisme internalisasi, tetapi lebih kepada konsep s3ksualitas perempuan yang berkembang dalam suatu masyarakat. Menurutnya, apabila dalam suatu masyarakat berlaku pengucilan dan pencadaran perempuan, maka konsep s3ksualitas yang berkembang dalam masyarakat tersebut adalah perempuan aktif dan apabila sebaliknya, maka konsep s3ksualitasnya pasif.

Namun apabila kita kembalikan kepada apa yang telah dialami Rasulullah dengan istri-istri beliau, maka sesungguhnya aktif atau pasif tidaklah begitu signifikan selama stereotype yang ditempelkan pada laki-laki baik yang pasif atau aktif maupun perempuan baik aktif maupun pasif tidak merugikan keduanya. Hanya selama ini ada kecenderungan bahwa s3ksualitas aktif kaum perempuan dianggap tabu oleh agama. Pandangan demikian sepintas tidak menjadi masalah dan sering dipahami sebagai perlindungan terhadap martabat kaum perempuan. Namun soal s3ksualitas sebenarnya tidak hanya terkait dengan perkara yang lahir (sensual), tetapi juga terkait dengan yang lain. Dari akibat [23]pandangan s3ksualitas perempuan pasif ini, misalnya perempuan diposisikan sebagai pekerja domestik yang tidak boleh keluar rumah. Tindakan represif yang mengatasnamakan agama ini menjadikan perempuan kehilangan haknya untuk melakukan aktivitas baik dalam bidang sosial maupun keilmuan.

Di antara hadis yang sering jadi rujukan hubungan s3ksual suami-istri ialah hadis tentang intervensi malaikat dalam hubungan suami-istri. Hadis ini diantaranya:

1.  Ahmad bin Hanbal hadis no 9294:

Telah menceritakan kepada kami (Ibnu Numair) telah menceritakan kepada kami (Al A'masy) dan (Waki') berkata; telah menceritakan kepada kami (Al A'masy) dari (Abu Hazim Al Asyja'i) dari (Abu Hurairah) berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika seorang laki laki memanggil istrinya ke tempat tidur lalu ia enggan memenuhinya sehingga suaminya tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat melaknatnya sehingga datang waktu subuh." Waki' menyebutkan, "Ia marah kepada istrinya." (HR. Ahmad ibn Hanbal).

2.  Dalam kitab Sahih Muslim kitab nikah, hadis no 2595.

Dan telah menceritakan kepada kami (Muhammad bin Al Mutsanna) dan (Ibnu Basysyar) sedangkan lafazhnya dari Al Mutsanna keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami (Muhammad bin Ja'far) telah menceritakan kepada kami (Syu'bah) dia berkata; Saya pernah mendengar (Qatadah) telah menceritakan dari (Zurarah bin Aufa) dari (Abu Hurairah) dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Apabila seorang istri enggan bermalam dengan memisahkan diri dari tempat tidur suaminya, maka Malaikat akan melaknatnya sampai pagi." Dan telah menceritakan kepadaku (Yahya bin Habib) telah menceritakan kepada kami (Khalid) yaitu Ibnu Al Harits, telah menceritakan kepada kami (Syu'bah) dengan isnad ini, beliau bersabda: "Sampai dia (istri) kembali (kepada suaminya)." (HR. Muslim).[24]

3. Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari kitab nikah hadis no 4794.

Telah menceritakan kepada kami (Muhammad bin 'Ar'arah) Telah menceritakan kepada kami (Syu'bah) dari (Qatadah) dari (Zurarah) dari (Abu Hurairah) ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabdda: "Apabila seorang wanita bermalam sementara ia tidak memenuhi ajakan suaminya di tempat tidur, maka Malaikat melaknatnya hingga pagi." (HR Bukhari).[25]

4.  Abu Daud hadis no 1829

Telah menceritakan kepada kami (Muhammad bin 'Amr Ar Razi), telah menceritakan kepada kami (Jarir), dari (Al A'masy), dari (Abu Hazim), dari (Abu Hurairah) dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Apabila seorang laki-laki memanggil isterinya ke ranjangnya (mengajak melakukan hubungan badan), kemudian sang istri menolak dan tidak datang kepadanya sehingga suaminya melewati malam (tidur) dalam keadaan marah, maka Malaikat akan melaknatnya hingga pagi." (HR. Abu Daud).

5.  Darimi hadis 2131

Telah menceritakan kepada kami (Hasyim bin Al Qasim) telah menceritakan kepada kami (Syu'bah) telah mengabarkan kepada kami (Qatadah) dari (Zurarah bin Aufa Al 'Amiri) dari (Abu Hurairah) dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Apabila seorang isteri enggan bermalam dengan meninggalkan kasur suaminya, maka Malaikat melaknatnya hingga ia kembali." (HR. Darimi)

Secara tekstual, hadis pertama berkaitan dengan istri menolak ajakan suami untuk berhubungan s3ksual, sedangkan hadis yang lain berkaitan dengan istri tidur di tempat lain/kamar lain. Namun benang merah semua hadis tersebut berkaitan dengan kepatuhan istri terhadap suami dalam masalah s3ksualitas. Walaupun isi matannya berbeda di antara hadis-hadis tersebut namun yang menarik adalah intervensi malaikat berupa laknat malaikat terhadap istri ada pada semua matan hadis tersebut.

Hadis tentang intervensi malaikat dalam hubungan s3ksual suami-istri ini, para ulama dan ilmuan berbeda dalam memaknainya. Ada kelompok yang menerima hadis itu apa adanya secara tekstual, sedangkan kelompok yang lain mencoba untuk melihat dari konteksnya. Apabila hadis ini diartikan secara harfiah, maka menimbulkan ketakutan yang besar bagi istri untuk menolak keinginan suami. Padahal menurut Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) yang menelaah Kitab U‟qud al Lujjayn (mengaturrelasi suami-istri) dalam hadis di atas terdapat kata al-la‟anah yang seringkali dipahami secara kurang tepat. Sebaiknya kata laknat dipahami dalam kontekssosial kemanusian, kasih sayang dan kedamaian dalam kehidupan. Jika diartikan secara kontekstual, hadis ini tidak hanya ditujukan kepada istri saja melainkanjuga kepada suami.

Muhyiddin Abdusshomad berpendapat bahwa hadis-hadis laknat bagi istri yang tidak melayani suami, itu harus diinterpretasikan sebagai motivasi terhadap istri agar selalu berusaha melakukan penyesuaian dengan suami, dan begitu juga sebaliknya. Istilah laknat itu sendiri tidak berarti haram. Buktinya para ulama fikih masih memberi batas apabila tidak ada udzur syar‟i seperti sakit atau capek yang luar biasa.[26]

Adapun Mustafa Muhammad Imarah mengatakan, bahwa laknat malaikat itu muncul bila penolakan istri dilakukan ”tanpa alasan”. Sedangkan Wahbah az-Zuhaili berpendapat bahwa laknat itu terjadi apabila istri menolak senggama, padahal ia ”sedang longgar dan tidak takut disakiti”.[27]

Perbedaan pandangan antara kelompok pertama dan kedua dalam memahami hadis di atas menurut Mas’udi disebabkan oleh perbedaan konstruk tentang s3ksualitas itu sendiri.[28] Dari kalangan ahli fikih, s3ks bagi perempuan banyak diajarkan sebagai kewajiban. Hal ini terkait dengan pandangan konvensional masyarakat tradisional agraris bahwa s3ks adalah barang suci/sakral yang diciptakan Tuhan untuk menjamin keturunan (procreation). Sementara masyarakat kota beranggapan bahwa s3ks bagi perempuan selain untuk reproduksi juga untuk dinikmati (pleasure). Karena itu merupakan salah satu nikmat Tuhan.

Menurut Alimatul Qibtiyah,[29] dalam melihat hadis tentang intervensi malaikat dalam hubungan s3ksual suami-istri ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, bagaimana bahasa yang digunakan dalam hadis tersebut (analisis bahasa). Kedua, bagaimana pendekatan fiqh yang digunakan (pendekatan hukum). Ketiga, bagaimana kondisi fisik dan psikologis yang baik dalam hubungan s3ksual bagi suami maupun istri. Keempat, apa sebenarnya makna dari laknat malaikat dalam hadis tersebut.

Catatan Kaki:

[22] Fatima Mernissi, Beyond The Veil: S3ks dan Kekuasaan Dinamika Pria Wanita dalam Masyarakat Muslim Modern (Surabaya: Al-Fikr, 1997), 109.

[23] Hasyim, Musnad Ahmad Kitab 6, Bab 30, Hadis 9294Bebas dari Patriarkhisme Islam, 230..

[24] Shahih Muslim, Kitab 17 (Kitab Nikah), Bab 689, Hadis 2595.

[25] Shahih Bukhari, Kitab 47 (Kitab Nikah) Bab 2725, Hadis 4794

[26] Mahyudidn Abdusshomad, “Perkosaan Dalam Rumah Tangga” (Jakarta: Rahima, 2012).

[27] Wahbah Al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islam wa adillatuhu, VII (Damaskus: Dar al-Fikr, 1989),335.

[28] Masdar F. Mas’udi, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan: Dialog Fiqh Pemberdayaan (Bandung: Mizan, 2000).

[29] Alimatul Qibtiyah, “Intervensi Malaikat dalam Hubungan S3ksual,” dalam Perempuan Tertindas? Kajian Hadis-hadis “Misoginis,” ed. Hamim Ilyas (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2003), 209. 33Qibtiyah, “Intervensi Malaikat dalam Hubungan S3ksual”,220-221.



Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact