Wajah Buram Dunia Kesehatan Anak Indonesia - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Wajah Buram Dunia Kesehatan Anak Indonesia

Wajah Buram Dunia Kesehatan Anak Indonesia

oleh Pulung Siswantara
(Ketua Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga)

Wajah Buram Dunia Kesehatan Anak Indonesia

harisehat.com |Tanggal 23 juli kemarin kita baru saja memperingati hari anak nasional. Tema pada peringatan hari anak nasional tahun ini adalah “Akhiri Kekerasan pada Anak”. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dalam press conference-nya juga mengajak semua pihak untuk mengakhiri kekerasan kepada anak. 

Menurut definisinya, anak adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak merupakan generasi penerus bangsa yang pada masa akan datang mereka, yang akan menjalankan kehidupan, baik di segi pemerintahan, ekonomi, pendidikan maupu kesehatan. Mereka ini yang akan menjadi presiden, mentri, dokter, guru dan pelaku ekonomi. Menyiapkan penerus yang sehat artinya akan menjadikan masa depan menjadi lebih baik.

Ketika sedang memperingati hari anak kemarin, kita juga sedang disuguhkan berbagai permasalahan yang muncul di dunia kesehatan anak. Pertama, kita dihebohkan dengan kasus vaksin palsu yang secara jelas kita ketahui korban terbesarnya adalah anak. Belum habis keterkejutan kita dengan kasus vaksin palsu, muncul kasus obesitas ekstrem pada anak di Karawang. Kasus di Karawang masih berlanjut lagi dengan kasus obesitas ekstrem di Palembang, yang kali ini mengakibatkan sang anak koma dan dirawat di rumah sakit.

Permasalahan belum berhenti sampai disitu, muncul berita yang membuat kita menggelangkan kepala dan sekaligus mengelus dada. Sehari setelah hari anak nasional, Jawa Pos membuat tulisan tentang pengedar narkoba anak, yang mereka sudah kecanduan terlebih dahulu.


Tentu saja masalah bukan hanya pada hari ini saja, tapi mari kita melihat ke belakang, tentang kasus kekerasan s3ksual pada anak, penjualan anak, dan kematian anak yang masih menjadi musuh besar dunia kesehatan anak di Indonesia.

Melihat dari sisi kehidupan sosial, anak adalah makhluk yang mempunyai ketergantungan yang sangat besar kepada orang lain. Mereka belum mampu secara ekonomi untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sendiri. Keadaan ini membuat anak mempunyai kekuatan yang sangat lemah, bahkan dalam menentukan keputusan untuk kehidupan mereka, juga dalam hal kesehatan yang merupakan pondasi kehidupan.

Dunia kesehatan anak yang merupakan pagar depan dalam menjamin kesehatan anak, masih sangat dipengaruhi campur tangan orang dewasa. Anak tidak bisa menentukan keputusan tentang siapa yang akan menangani kesehatan mereka, siapa yang akan mendidik mereka, bahkan terkadang mereka tidak mampu menolak untuk melakukan sesuatu yang terkadang berbahaya untuk kesehatan mereka. Karena ketergantungannya kepada orang lain membuat mereka terkadang berdiri pada area yang berisiko.

Anak masih tergantung pada orang dewasa, dalam hal ini orang tua atau orang lain, bisa diartikan bahwa orang dewasalah yang harus melindungi dan membimbing mereka. Kasus kekerasan pada anak dan eksploitasi s3ksual, apabila kita melihat latar belakangnya, sebagian besar malah berasal dari orang terdekat, yang seharusnya melindungi anak-anak tersebut.

Belum lagi masalah kesehatan, anak yang mencari perlindungan dan kesehatan dari keluarga masih dirusak dengan beberapa hal. Orang tua maupun orang dewasa lain yang berada di sekitar anak yang harusnya menjaga dan meningkatkan kesehatan anak, ternyata dalam beberapa kasus ditemukan malah menjadi contoh buruk buat anak. Orang tua yang masih merokok di dekat anak, kekerasan baik verbal maupun fisik yang dilakukan baik kepada anak maupun di sekitar anak, merupakan hal yang bisa mempengaruhi perkembangan anak.

Anak yang dibesarkan pada lingkungan dengan memperlihatkan contoh yang buruk bisa membuat mereka mengadopsi hal tersebut. Sesuai dengan teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura, dalam penelitiannya yang terkenal, “Bobo Doll”, yang berhasil menyimpulkan bahwa anak yang diperlihatkan dengan perilaku agresif akan mengadopsi perilaku agresif tersebut.

Kasus kesehatan anak masih terus dihantui dengan masalah gizi anak, belum lagi masalah penyakit menular yang terus menerus mengancam kesehatan anak Indonesia dan juga kasus kesulitan belajar. Permasalahan itu seakan mempertegas wajah buruk dunia kesehatan anak di Indonesia saat ini. Hal itu juga diperburuk dengan akses pendidikan yang belum merata dan tenaga kerja anak yang masih ditemukan di sekitar kita.

Kepada siapa kita akan berharap banyak dalam perubahan agar menjadikan dunia kesehatan anak di Indonesia lebih indah? Kita sangat berharap banyak pada orang dewasa yang ada di sekitar anak. Tidak hanya orang tua ataupun guru, orang dewasa yang harusnya ikut memperbaiki hal ini juga termasuk saudara, tetangga, tenaga kesehatan dan juga orang yang menjadi panutan anak.

Peranan semua orang dewasa ini sangat dominan dan dapat menentukan kualitas kesehatan anak di kemudian hari. Lingkungan yang peka terhadap anak dan bagaimana permasalahan yang menyangkut kesehatan dan faktor yang mempengaruhi kesehatan dapat mencegah masalah anak menjadi lebih buruk. Sehingga mimpi untuk menciptakan generasi yang sehat dan berprestasi bisa kita wujudkan.***

(Sumber: Gugus Opini Kesehatan Masyarakat #3, Editor: Agung Dwi Laksono, Health Advocacy & Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI), 2017)

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact