Analisis Seksualitas dalam Islam - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Analisis Seksualitas dalam Islam

Analisis Seksualitas dalam Islam



Keempat alternatif pemikiran terhadap hadis intervensi malaikat dijelaskan Alimatul Qibtiyah yang sebagai berikut:

1.  Analisis bahasa

Bahasa yang dipakai hadis ini perlu dicermati dengan s3ksama. Kata-kata ajakan suami dengan menggunakan iza daa –daayadu-dawatan (dakwah). Kata da'a dalam Alquran ditemukan tidak kurang dari 198 kali dengan beberapa makna, diantaranya: memanggil, mengundang, minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong, menyebabkan, mendatangkan, mendoakan, menangisi dan meratapi. Dari makna yang berbeda tersebut sebenarnya semuanya tidak terlepas dari unsur aktifitas memanggil. [30] Aktifitas memanggil ini netral bisa untuk ajakan positif maupun negatif. Bila digeneralkan kata dakwah biasanya mengajak dengan cara yang baik, sopan, penuh bijaksana dan mengetahui benar kondisi yang diajak.


Penolakan istri atas ajakan suami dengan menggunakan kata fa‟abat, dimana kalau dikaitkan dengan bahasa yang digunakan Allah dalam surat al-Baqarah ayat 34, ketika menggambarkan sikap iblis yang tidak mau sujud kepada Adam, maka Allah juga menggunakan kata a ba yaitu berbunyi aba wastakbara, artinya “ia enggan dan takabur”.

Jadi analisis bahasa ini dapat disimpulkan bahwa laknat malaikat akan benar-benar terjadi pada istri jika ketika sang suami sudah mengajaknya dengan penuh kesopanan, tidak memaksa dan dengan penuh pengertian dalam arti istri tidak sedang dalam keadaan uzur baik karena haid maupun alasan rasional lainnya.

2.  Pendekatan Ushul al-Fiqh (Teori Hukum Islam)

Dalam memahami dan mengkaji teks, baik hadis maupun Alqurandapat menggunakan pendekatan Usul al-fiqh. Dalam Usul al-fiqh ada satu kaidah Qiroah Mubadalah, yaitu :

Apa yang maslahat bagi salah satu jenis kelamin terapkan bagi keduanya, dan apa yang mudarat bagi salah satu hindarkan dari keduanya.

Kaidah Ushul al-fiqh Qiroah Mubadalahini dijelaskan oleh Faqihuddin Abdulqadir dalam kitab Manbaussaadah. [31] Menurutnya, ketika memahami teks yang ada dalam hadis tentang laknat malaikat pada istri yang tidak mau melayani kemauan suami untuk berhubungan s3ksual adalah: jika istri dilaknat malaikat karena menolak berhubungan s3ksual dengan tidak sopan seperti iblis bahkan tanpa alasan syari (haid dan nifas), sedangkan suaminya mengajaknya dengan baik, dengan bahasa dakwah, maka menurut teori hukum Islam Qiroah Mubadalah laknat malaikat juga akan berlaku pada suami yang menolak dengan tidak sopan ajakan istri tanpa alasan syari.

3. Kondisi Fisiologis dan Psikologis[32]

S3ksualitas dalam Islam merupakan persoalan sensitif ketika dikaitkan dengan tatanan masyarakat muslim, maka Islam terlihat berpihak pada salah satu jenis kelamin, yaitu laki-laki. Al-Ghazali dalam Ihya Ulum ad-Din mengatakan bahwa pemuasan s3ksual akan disesuaikan dengan tingkat dan tekanannya. Laki-laki dapat menentukan jumlah istri lebih banyak karena laki-laki dikaruniai dorongan dan keinginan s3ksual yang kuat. Namun sebenarnya Ghazali selalu mengisyaratkan bahwa tidak terdapat perbedaan karakter dorongan s3ks laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian secara tidak sengaja ia menyatakan suatu alasan yang ambivalen mengenai s3ksualitas perempuan dalam tatanan muslim.

Berbeda halnya dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh Hasan al Bashri tentang s3ksualitas. Menurut dia, nafsu s3ksual perempuan itu lebih tinggi dibanding laki-laki. Menurut keterangannya, Allah menciptakan nafsu s3ksual itu sepuluh bagian. Sembilan milik perempuan dan satu milik laki-laki. Hal itu diutarakan ketika ditanya oleh Rabi’ah alAdawiyah.

Menurut Adhim hasrat berhubungan s3ksual laki-laki banyak berkaitan dengan fisiologisnya.[33] Hal ini terjadi karena laki-laki akan menimbun sperma ketika ada gejolak, sehingga menuntut hasrat terpenuhi atau tersalurkan dengan segera. Sementara hasrat berhubungan s3ksual perempuan lebih banyak bersumber pada kebutuhan psikisnya untuk memperoleh kehangatan dan cumbu rayu dari orang yang dicintainya. Secara fisik tidak ada yang tertimbun sehingga tidak membutuhkan dengan segera untuk terpenuhi hasratnya. Semakin beragamnya pendapat tentang hasrat berhubungan s3ksual baik laki-laki maupun perempuan menunjukan bahwa konstruk s3ksualitas sebenarnya tidak lepas dari tatanan sosial yang ada. Karena itu, perlu diteliti lagi, sebab bisa jadi setiap individu memang mempunyai dorongan s3ksual yang berbedabeda sehingga bukan ditentukan oleh jenis kelaminnya. 4. Makna Laknat Malaikat[34]

Mengenai arti laknat malaikat terhadap istri yang menolak atau menghindar ajakan suami perlu dilihat kembali. Menurut Alimatul Qibtiyah arti laknat perlu diinterpretasikan kembali, karena kata laknat itu seolah-oleh sesuatu yang sangat mengerikan dan menakutkan. Bahkan seolah-olah hubungan suami-istri adalah hubungan Allah dengan hamba-Nya, sehingga ketika suami marah atau kecewa maka malaikat pun juga akan ikut campur untuk menyelesaikan-nya. Padahal sebenarnya kalau kita lihat sampai ahir dari hadis tersebut hanya sebentar, karena katakata sampai istri kembali atau sampai datangnya waktu subuh. Kata laknat menurut Qibtiyah, dapat diartikan sebagai “suatu keadaan yang tidak menyenangkan”. Ini akan dapat berubah menjadi hal yang biasa atau tidak jadi beban jika kedua belah pihak saling mengerti dan terbuka tentang masalah s3ksual.

Selain itu ada beberapa Hadis dan riwayat yang menunjukkan pandangan Nabi tentang perempuan. Menurut sebagian Hadis, Nabi Muhammad dan para imam yang salih semuanya telah menunjukkan secara terbuka kecintaan dan penghargaan mereka kepada istri dan kerabat perempuan mereka. Pada saat yang sama mereka sangat mencela setiap kecenderungan manusia yang mengarah pada kehidupan membujang atau kehidupan selibat.

Salah seorang sahabat Nabi, Usman ibn Mazh'un, mengabdikan dirinya semata-mata kepada pemujaan kepada Allah sedemikian rupa sehingga ia berpuasa setiap hari dan bangun di malam hari untuk shalat malam. Istrinya melaporkan hal itu kepada Rasulullah, lalu beliau memperlihatkan reaksi ketidaksenangan yang nyata, dan segera menuju ke tempat sahabatnya berada dan berkata:

Wahai Usman, ketahuilah bahwa Allah tidak mengutus aku untuk menganjurkan hidup kebiaraan. Shari'atku adalah untuk mendorong dan memudahkan pemenuhan kehidupan manusia yang alami.Aku sendiri mengerjakan shalat, berpuasa dan melakukan hubungan suami-istri.Karena itu, mengikuti aku dalam Islam berarti menyesuaikan din dengan sunnah-sunnah yang kugariskan, yang meliputi tuntutan bahwa laki-laki dan wanita harus kawin dan hidup sayang-menyayangi secara harmonis.[35]

Di masyarakat muslim pembicaraan tentang s3ksualitas biasanya dilakukan secara diamdiam dan tertutup karena topik ini dianggap sebagai sesuatu yang pribadi dalam relasi antar manusia. Hal ini diungkapkan seorang ulama yaitu Abu Syuqqah: Pada masa Nabi di Madinah terjadi diskusi antara orang-orang Anshar dan Muhajirin tentang kapan seseorang wajib mandi jinabat. Lalu ada yang mengusulkan agar bertanya kepada Aisyah r.a.(istri Nabi). Di antara semua orang yang hadir tidak ada yang berani menanyakannya karena malu, sampai ada seorang yang memberanikan diri dan berkata: "Wahai Ummul Mukminin, saya ingin menanyakan sesuatu padamu, tetapi malu." Aisyah berkata: "Jangan malu bertanya kepadaku tentang sesuatu yang biasa kau tanyakan kepada ibu yang melahirkanmu, karena aku adalah ibumu." Lalu dia bertanya tentang hukum wajib mandi jinabat, dan Aisyah menjelaskan bahwa Rasulullah pernah bersabda: "Apabila lakilaki (swami) berada di antara empat anggota tubuh istrinya (antara kedua tangan dan kedua kakinya), dan zakar laki-laki masuk ke dalam vagina, maka wajiblah mandi.40 Rasa malu berkembang di kalangan Muslim, mungkin karena ada Hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi: Inna alhaya‟a min al-iman, yang artinya bahwa malu adalah bagian dari iman. Maka, rasa “malu” semakin membuat persoalan sekitar s3ksualitas menjadi tertutup. Meskipun banyak pemikir yang menganggap sudah saatnya masalah malu ditempatkan secara proporsional, karena tertutupnya segala sesuatu seputar s3ksualitas, justru membuat orang semakin penasaran dan menempuh cara yang salah untuk mengetahuinya. Dalam merespon hal ini, Abu Shuqqah secara terbuka menyatakan:

Seluruh anggota tubuh manusia itu suci dan mulia, baik alat untuk berpikir, alat-alat untuk makan dan minum, maupun alat-alat reproduksi.Demikian pula, seluruh perbuatan manusia adalah suci dan mulia jika dilakukan sesuai dengan syari'at Allah, baik berdagang, berperang, maupun melakukan hubungan biologis.Karena itu, wajarlah jika syari'at menyebut alat-alat reproduksi, aktivitas-aktivitas biologis, dorongan-dorongannya serta akibat dan hasilnya dalam situasi dan kondisi yang tepat, sebagaimana tidak terlarangnya menyebut tangan dan mulut, atau darah dan air mata. Karena itu, tak ada halangan pula untuk menyebut kemaluan danfarji, nuthfah dan mani. Tidak terlarang pula menyebut lapar dan puasa, atau menyebut memakan makanan dan meminum air. Demikian pula menyebut haid dan suci, atau menyebut bercumbu dengan istri atau menyentuh istri, asalkan dilakukan sesuai syara', dengan cara yang sopan, dan dengan tujuan untuk kemaslahatan kaum mukminin dan mukminat dalam urusan agama dan dunia mereka.[36]

Sejalan dengan pandangan di atas, Murata,[37] menyatakan bahwa banyak ayat Alquran dan Hadis Nabi—belum lagi sunnah atau perbuatan Nabi—yang menjadi dasar penilaian Islam yang secara umum positif mengenai hubungan s3ksual. Pada satu tingkat, Islam memandang hubungan s3ksual sebagai bagian yang alamiah dan normal dari ciptaan Tuhan. Dalam hubungan ini, pendekatan Islam mengikuti garis-garis pedoman yang terkenal, yang tidak membawa kepada rasa keterampasan dan frustrasi s3ksual, ataupun penindasan dan pelarangan dorongan s3ks. Islam bertujuan untuk mengatur s3ksualitas manusia dalam suatu cara yang paling alami, dan Islam tidak mengajarkan penindasan asketik terhadap nafsu s3ks ataupun nafsu alamiah yang lain.

Sama halnya dengan Mutahhari menyatakan bahwa nafsu s3ksual tidak saja sesuai dengan intelektualitas dan spiritualitas manusia, tetapi juga sebagai bagian dari watak dan temperamen para nabi. Karena menurut Hadis, cinta dan kasih sayang terhadap perempuan adalah karakteristik dari perilaku moral para nabi (min akhlaqi al-anbiya‟i hubb an-nisai').[38]

Catatan Kaki:

[30] M. Ali Aziz, Ilmu Dakwah (Jakarta: Prenada Media Group, 2004), 6.

[31] 5Faqihuddin Abdul  Kodir, Manbaussa‟adah (Cirebon: Fahmina Institut, 2011), 48-49.

[32] Qibtiyah, “Intervensi Malaikat dalam Hubungan S3ksual”,222.

[33] Muhammad Fauzil Adhim, Mencapai Pernikahan Barokah (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1999), 181.

[34] Adhim, Mencapai Pernikahan Barokah,223-226.

[35] Adhim, Mencapai Pernikahan Barokah, 10. 40Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, 6 (Jakarta: Gema Insani Press, 1998),60.

[36] Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, 6, 66-67.

[37] Sachiko Murata, The Tao of Islam (Bandung: Mizan, 1996), 231.

[38] Murteza Mutahhari, Etika S3ksual dalam Islam (Bandung: Pustaka, 1984), 8.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact