Apa itu Gender? - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Apa itu Gender?

Apa itu Gender?

Apa itu Gender
Untuk konteks Indonesia, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, perbincangan tentang gender sudah semakin merebak. Sayangnya, dari berbagai pengamatan, ternyata pemahaman masyarakat tentang konsep gender juga masih rancu. Fatalnya, kesalahpahaman tersebut bukan hanya terjadi di kalangan awam, melainkan juga terjadi di kalangan terpelajar, termasuk para pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan pemuka agama.


Istilah gender seringkali dirancukan dengan istilah s3ks atau jenis kelamin, dan lebih rancu lagi, gender diartikan dengan jenis kelamin perempuan. Begitu disebut gender, yang terbayang adalah sosok manusia dengan jenis kelamin perempuan, padahal istilah gender mengacu pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan secara sosial dan budaya.

Salah satu faktor yang menyebabkan ketidakpahaman tersebut adalah bahwa dalam bahasa Indonesia kata gender diartikan sama dengan s3ks, yakni jenis kelamin. Sebenarnya arti ini kurang tepat, tetapi sampai sekarang belum ditemukan kosa kata bahasa Indonesia yang tepat untuk itu, jadi digunakan istilah “jender”, yang merupakan transkrip dari kata Inggris “gender”. Namun, dalam banyak tulisan tetap dipakai bentuk aslinya, yaitu gender. 

Di dalam Women`s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara lakilaki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Konsep gender mengacu kepada seperangkat sifat, peran, tanggung jawab, fungsi, hak, dan perilaku yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan akibat bentukan budaya atau lingkungan masyarakat tempat manusia itu tumbuh dan dibesarkan. Timbulah dikotomi maskulin (laki-laki) dan feminin (perempuan).

Di masyarakat, laki-laki selalu digambarkan dengan sifat-sifat maskulin, seperti perkasa, berani, rasional, keras, dan tegar. Sebaliknya, perempuan digambarkan dengan sifat-sifat feminin, seperti lembut, pemalu, penakut, emosional, rapuh, dan penyayang. Fatalnya, sifat-sifat maskulin selalu dinilai lebih baik daripada sifatsifat feminin. Lebih fatal lagi, bahwa maskulinitas dan feminitas tersebut dianggap sebagai hal yang kodrati, padahal sesungguhnya merupakan hasil konstruksi sosial.

Dalam teori psikologi diajarkan bahwa setiap manusia dalam dirinya memiliki unsur-unsur maskulinitas dan feminitas sekaligus. Pertumbuhan unsur-unsur tersebut dalam diri manusia sangat dipengaruhi oleh pola asuh di masa kecil, nilai-nilai tradisi yang dianut di masyarakat, sistem pendidikan di sekolah formal dan juga dari interpretasi ajaran agama.

Gender bukan kodrat. Buktinya, dalam realitas sosiologis ditemukan tidak sedikit laki-laki memiliki sifat feminin, seperti penakut, emosional, pemalu, lemah, dan lembut. Sebaliknya, cukup banyak perempuan mempunyai sifat maskulin, seperti berani, perkasa, pantang menyerah, rasional, dan tegar. Dengan ungkapan lain, sifat-sifat tersebut bukanlah kodrati, melainkan dapat berubah dari waktu ke waktu dan juga berbeda antara suatu daerah dengan daerah lain.

Gender adalah sistem sosial yang diberlakukan atas tubuh yang diasumsikan bersifat pasif. Tubuh dipahami dalam konteks sosial dan historis. Kebudayaan memberikan tanda yang berbedabeda untuk membedakan antara perempuan dan laki-laki. Tidak hanya dari aturan berpakaian, tapi juga bentuk tubuh, karakter, dan cara bertingkah laku.

Dalam wacana gender sering muncul istilah gender-based violence (kekerasan berbasis gender). Dalam keputusan Majelis Umum PBB tahun 1933, istilah itu didefinisikan sebagai berikut: “Semua tindakan yang menyebabkan, atau kemungkinan akan menyebabkan kerugian atau penderitaan fisik, s3ksual, atau psikologis pada perempuan, termasuk ancaman untuk melakukan tindakan semacam itu, pemaksaan, atau mengurangi kebebasan dengan sewenang-wenang, yang terjadi di depan umum maupun di dalam kehidupan pribadi.”

Ringkasnya, gender adalah konstruksi masyarakat. Masyarakatlah yang membentuk laki-laki menjadi maskulin, dan perempuan menjadi feminin. Sejak masih dalam kandungan sampai tua renta, bahkan sampai ke liang kubur, laki-laki diperlakukan sedemikian rupa agar mereka terbentuk menjadi makhluk yang superior, hal yang sebaliknya diperlakukan pada perempuan sehingga mereka menjadi inferior.

Bentukan masyarakat tersebut dibakukan sedemikian rupa melalui berbagai norma tradisi, adat, budaya, dan sistem hukum, bahkan juga interpretasi agama. Akibatnya, konstruksi sosial tersebut lalu dianggap sebagai satu-satunya kebenaran mutlak, seolah-olah semuanya itu merupakan kodrat atau pemberian Tuhan yang harus diterima apa adanya, dan tidak boleh dipertanyakan lagi. Sebagai contoh, anak perempuan dilarang agresif; anak perempuan dilarang mengekspresikan rasa cinta dan kepada lawan jenisnya; perempuan harus menikah dan harus punya anak; isteri harus taat pada suami dan melayani kebutuhan s3ksualnya kapan dan di mana saja; isteri tidak punya hak untuk menikmati hak s3ksualnya dan ratusan contoh lain.

Karena gender merupakan produk budaya, perubahan gender pun harus dilakukan melalui budaya kembali, antara lain melalui pendidikan dalam arti seluas-luasnya, terutama pendidikan dalam keluarga, dan interpretasi agama. Konstruksi gender yang bias nilai-nilai patriarkhal dan menimbulkan ketimpangan dan ketidakadilan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat kiranya perlu diubah. Sudah saatnya melakukan upaya-upaya rekonstruksi budaya menuju terwujudnya konstruksi gender yang akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan ramah terhadap perempuan.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact