Apa itu Perilaku Seksual? - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Apa itu Perilaku Seksual?

Apa itu Perilaku Seksual?

Apa itu Perilaku Seksual


Perilaku s3ksual adalah cara seseorang mengekspresikan hubungan s3ksualnya. Perilaku s3ksual sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya, interpretasi agama, adat tradisi, dan kebiasaan dalam suatu masyarakat. Karena itu, perilaku s3ksual merupakan konstruksi sosial, tidak bersifat kodrati, dan tentu saja dapat dipelajari. Di sinilah perbedaan mendasar antara orientasi s3ksual dan perilaku s3ksual. Sayangnya, tidak banyak orang yang mau memahami perbedaan kedua istilah ini secara arif. 

Akibatnya, tidak sedikit yang memahami keduanya secara rancu dan salah kaprah. 
Berbicara tentang perilaku s3ksual, ada banyak cara di samping cara yang konvensional memasukkan penis ke dalam vagina, juga dikenal cara lainnya dalam bentuk oral s3ks dan anal s3ks (disebut juga sodomi atau liwâth dalam bahasa Arab). Sodomi atau liwâth adalah memasukkan alat kelamin laki-laki ke dalam dubur (anus), baik dubur lelaki maupun dubur perempuan.


Masyarakat umumnya memandang cara konvensional tadi—memasukkan penis ke dalam vagina—sebagai suatu hal yang wajar dan normal, serta sah menurut agama. Sebaliknya, masyarakat umumnya menganggap oral s3ks dan sodomi sebagai suatu perilaku s3ksual yang menyimpang, negatif, dan tidak dapat diterima. Bahkan, sejumlah agama mengutuk dan memandang dosa perilaku s3ksual dalam bentuk sodomi. 

Selama ini ada anggapan bahwa perilaku sodomi hanya dilakukan oleh kelompok homo. Faktanya tidaklah demikian. Sejumlah penelitian dan juga berbagai kasus di masyarakat mengungkapkan tidak sedikit kalangan hetero yang juga mempraktikkan sodomi. Perlu juga dikemukakan di sini, temuan menarik bahwa tidak semua kalangan homo melakukan perilaku s3ksual dalam bentuk sodomi. Bahkan, sejumlah gay memandang sodomi sebagai perilaku biadab dan penuh kekerasan. Karena itu, tidak jarang dijumpai kelompok gay dan lesbian yang menyatakan diri sebagai kelompok antipenetrasi. Mereka mengakui ada banyak cara yang dapat mereka lakukan--selain penetrasi--untuk mendapatkan kenikmatan s3ksual. Artinya, sodomi sebagai sebuah perilaku s3ksual dilakukan oleh kalangan homo dan juga kalangan hetero.

Tentu saja, sebagai manusia beragama, kita perlu mengkampanyekan agar perilaku s3ksual hanya dilakukan tanpa kekerasan, pemaksaan, dan dalam lembaga perkawinan, bukan di luar perkawinan. Perkawinan yang dimaksudkan di sini tentu bukan perkawinan anak (children marriage), bukan perkawinan paksa, bukan perkawinan sirri (tanpa pencatatan resmi negara), dan bukan pula perkawinan poligami.

Meskipun dilakukan dalam perkawinan, perilaku s3ksual harus memperhatikan prinsip-prinsip non-diskriminasi, tanpa kekerasan, dan hak kesehatan reproduksi perempuan tetap harus dilindungi. Perilaku s3ksual yang disarankan adalah perilaku s3ksual yang di dalamnya ada unsur aman, nyaman, halal, dan bertanggung jawab. Bukan perilaku s3ksual yang mengandung unsur dominasi, diskriminasi, eksploitasi, dan kekerasan. Bukan juga perilaku s3ksual yang tidak aman karena dapat menularkan virus penyakit kelamin dan HIV&AIDS.

Bentuk perilaku s3ksual yang tidak aman dapat menimbulkan akibat yang membawa kepada kesengsaraan, dan bahkan, kesakitan, dan kematian. Yang pasti, perilaku s3ksual yang dianjurkan adalah perilaku s3ksual yang halal, aman, nyaman, dan bertanggungjawab. Hanya melalui perilaku s3ksual demikian dapat diwujudkan keluarga yang sakinah, penuh mawaddah wa rahmah, damai, dan bahagia.

Berkaitan dengan perilaku s3ksual, Islam menegaskan pentingnya hubungan s3ks yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab. Islam mengecam semua perilaku s3ksual yang mengandung unsur pemaksaan, kekerasan, kekejian, ketidaknyamanan, tidak sehat, dan tidak manusiawi, seperti berzina, melacur, incest, fedofili (s3ks dengan anak-anak); s3ks dengan hewan; semua bentuk perilaku kekerasan s3ksual, semua bentuk hubungan s3ks yang tidak sejalan dengan prinsip hak kesehatan reproduksi; semua bentuk sodomi yang menyakitkan, dan semua bentuk perilaku s3ksual yang berpotensi menularkan penyakit HIV&AIDS, dan penyakit menular s3ksual lain.

Oleh karena itu, meskipun seseorang memiliki orientasi s3ksual hetero--yang selalu dianggap normal--namun jika perilaku s3ksualnya penuh kekerasan, maka yang bersangkutan dipandang menyalahi hukum Islam. Kecaman Islam terhadap perilaku s3ksual yang keji, kotor, dan tidak manusiawi dapat dibaca dalam kisah Nabi Luth. Tuhan mengecam perilaku s3ksual kaum Nabi Luth yang penuh kekerasan dan kekejian.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact