Apa itu Seks? - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Apa itu Seks?

Apa itu Seks?

Apa itu Seks


Meskipun wacana gender dan s3ksualitas telah lama dikenal di Indonesia, tetapi konsep dasar ini sering disalahpahami oleh sebagian orang, termasuk kalangan akademisi. Pada umumnya kesalahpahaman terjadi antara konsep s3ks dan gender, s3ks dan s3ksualitas, serta orientasi dan perilaku s3ksual. Oleh karena itu, sebelum menjelaskan perspektif Islam tentang s3ksualitas, pada bagian ini akan dijelaskan terlebih dahulu pemahaman dan sikap penulis atas konsep dasar s3ks, s3ksualitas, gender, orientasi dan perilaku s3ksual. Penjelasan ini dipandang penting sekali dilakukan agar tidak terjadi pembiasan makna dan kesalahpahaman yang 
berkelanjutan.


Apa itu S3ks?
S3ks (sex) adalah sebuah konsep tentang pembedaan jenis kelamin manusia berdasarkan faktor-faktor biologis, hormonal, dan patologis. Karena dominannya pengaruh paradigma patriarkhis dan hetero-normativitas dalam masyarakat, secara biologis manusia hanya dibedakan secara kaku ke dalam dua jenis kelamin (s3ks), yaitu laki-laki (male) dan perempuan (female). Demikian pula konsep jenis kelamin yang bersifat sosial, manusia juga hanya dibedakan dalam dua jenis kelamin sosial (gender), yakni laki-laki (man) dan perempuan (woman). 

Mekanisme budaya, politik, ekonomi, dan bahkan agama telah memaksa masyarakat untuk menerima hanya dua kategori tersebut. Sulit membayangkan kemungkinan adanya alternatif lain dari kategorisasi yang sudah diterima dan dibakukan sejak beribu tahun lalu. Akibatnya, kemungkinan hidup di luar dua kategori tersebut sangatlah kecil, kecuali mungkin dijalani melalui pengucilan sosial dan konflik fisik yang parah. 

Sebagai makhluk beragama, kita yakin bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan. Tuhan telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang bermartabat. Manusia bukan hanya terdiri dari unsur fisik atau biologis, melainkan juga mempunyai unsur batin dan ruhani. Manusia memiliki perasaan, pikiran, obsesi dan cita-cita sehingga dapat hidup sebagai makhluk beradab dan menciptakan peradaban di muka bumi.

Secara biologis, manusia dianugerahi Tuhan sejumlah organ biologis. Di antaranya adalah dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, satu mulut untuk makan dan berbicara, dua tangan untuk bekerja dan beraktivitas, dua kaki untuk berjalan, dan seterusnya. Kondisi organ-organ biologis tersebut berbeda antara satu manusia dengan manusia yang lain. Setiap manusia memiliki keunikan dan kekhususan, sehingga tidak ada dua manusia yang sama persis, meski keduanya adalah saudara kembar. 

Manusia secara bebas dapat menggunakan organ-organ tubuhnya, tetapi manusia yang cerdas dan bertanggungjawab tentu akan menggunakan organ-organ tubuhnya hanya untuk hal-hal yang mendatangkan manfaat bagi dirinya. Di antara organ biologis manusia ada yang bersifat khusus. Disebut khusus karena organ tersebut secara kasat mata membedakan antara satu manusia dengan manusia lainnya dari segi s3ks atau jenis kelamin. Itulah sebabnya organ pembeda jenis kelamin biologis manusia disebut organ s3ks. 

Organ s3ks laki-laki, antara lain, berupa penis dan testis. Sebaliknya, manusia berjenis kelamin perempuan mempunyai vagina, clitoris, dan rahim. Perbedaan biologis tersebut bersifat kodrati atau pemberian Tuhan. Tak seorang pun dapat membuat persis dan mengubahnya. Boleh jadi, dewasa ini akibat kemajuan teknologi, seseorang dimungkinkan mengubah jenis kelaminnya (trans-s3ksual), tetapi perubahan tersebut sejauh ini tidak mampu menyamai fungsi dan sistem organ-organ biologis manusia yang asli. 
Penciptaan manusia dengan organ s3ks (jenis kelamin) yang berbeda sesungguhnya dimaksudkan supaya manusia dapat saling melengkapi, saling menghormati, dan saling mengasihi satu sama lain sehingga tercipta kehidupan damai dan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Dalam konteks agama, khususnya Islam, semua bentuk perbedaan dalam diri manusia, seperti warna kulit, ras, bahasa, jenis kelamin biologis dan sosial (gender), orientasi s3ksual, dan bahkan agama dimaksudkan agar manusia saling mengenal satu sama lain (li ta’ârafû) untuk kemudian membangun kerjasama dan saling berinteraksi membangun masyarakat beradab yang penuh kedamaian dan keharmonisan (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr).


Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact