Apa itu Seksualitas? - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Apa itu Seksualitas?

Apa itu Seksualitas?

Apa itu Seksualitas


S3ksualitas adalah sebuah proses sosial-budaya yang mengarahkan hasrat atau berahi manusia. S3ksualitas dipengaruhi oleh interaksi faktor-faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, agama, dan spiritualitas. S3ksualitas merupakan hal positif, berhubungan dengan jati diri seseorang dan juga kejujuran seseorang terhadap dirinya. Sayangnya, masyarakat umumnya masih melihat s3ksualitas sebagai negatif, bahkan tabu dibicarakan.



Ada perbedaan penting antara s3ks dan s3ksualitas. S3ks sebagaimana dipaparkan sebelumnya adalah sesuatu yang bersifat biologis dan karenanya s3ks dianggap sebagai sesuatu yang stabil. S3ks biasanya merujuk pada alat kelamin dan tindakan penggunaan alat kelamin itu secara s3ksual. Meskipun s3ks dan s3ksualitas secara analisis merupakan istilah yang berbeda, namun istilah s3ks sering digunakan untuk menjelaskan keduanya. Misalnya, s3ks juga digunakan sebagai istilah yang merujuk pada praktik s3ksual atau kebiasaan.

Akan tetapi, perbedaan antara keduanya sangat jelas, s3ks merupakan hal yang given atau terberi. Sebaliknya, s3ksualitas merupakan konstruksi sosial-budaya. S3ksualitas adalah konsep yang lebih abstrak, mencakup aspek yang tak terhingga dari keberadaan manusia, termasuk di dalamnya aspek fisik, psikis, emosional, politik, dan hal-hal yang terkait dengan berbagai kebiasaan manusia. S3ksualitas, sebagaimana dikonstruksikan secara sosial, adalah pernyataan dan penyangkalan secara rumit dari perasaan dan hasrat. Tidak heran jika s3ksualitas mempunyai konotasi, baik positif maupun negatif, serta mengakar dalam konteks masyarakat tertentu.

Menurut Weeks, konstruksi s3ksualitas terbentuk dari titik antara dua poros kepentingan, antara subyektivitas diri (siapa dan apa kita) dan subyektivitas masyarakat. Lebih jauh, Weeks menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan subyektifitas masyarakat, yakni segala hal terkait dengan perkembangan masyarakat secara umum seperti soal perkiraan pertumbuhan penduduk, kesejahteraan masyarakat, kesehatan dan kemakmuran, serta jumlah populasi. Kedua subyektivitas tersebut sangat erat berhubungan karena pusat kedua poros itu justru terletak pada tubuh dan potensinya. [1]

Adanya keberagaman tentang klaim atau pengakuan s3ksualitas, membantu kita untuk melihat betapa kaya keragaman hasrat dan pengalaman s3ksual manusia. Hal ini seharusnya membuka ruang yang lebih luas untuk pendekatan yang lebih inklusif atas kenyataan luasnya keragaman s3ksual dan identitas. Manakala kita mengintegrasikan antara identitas s3ksual yang beragam dengan ekspresi atas hasrat s3ksual yang juga beragam dan cair, maka s3ksualitas menjadi tonggak konseptual yang sangat kaya.

Kesimpulannya, s3ksualitas merupakan terma yang sangat luas. S3ksualitas mempunyai banyak dimensi, seperti dimensi relasi, rekreasi, prokreasi, emosional, fisik, sensual, dan spritual. Hal-hal tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. S3ksualitas menjelaskan sebuah bentuk komunikasi yang sangat intim, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain, terlepas dari apapun jenis kelamin atau gendernya. S3ksualitas merupakan bentuk interaksi yang menyenangkan, erotis, romantis, penuh gairah, dan kreatif.

Abraham menjelaskan bahwa konsep s3ksualitas mencakup tidak hanya identitas s3ksual, orientasi s3ksual, norma s3ksual, praktik s3ksual, dan kebiasaan s3ksual, namun juga perasaan, hasrat, fantasi, dan pengalaman manusia yang berhubungan dengan kesadaran s3ksual, rangsangan, dan tindakan s3ksual termasuk di dalamnya hubungan heteros3ksual serta hubungan homos3ksual. Hal ini mencakup pengalaman subyektif serta pemaknaan yang melekat di dalamnya. Konsep s3ksualitas mencakup tidak hanya secara biologis dan psikologis, namun juga dimensi sosial dan budaya dari identitas dan kebiasaan s3ksual. [2]

Oleh karena itu, s3ksualitas melingkupi makna personal dan sosial, pandangan yang menyeluruh tentang s3ksualitas mencakup peran sosial, kepribadian, identitas, dan s3ksual, biologis, kebiasaan s3ksual, hubungan, pikiran, dan perasaan. S3ksualitas, sebagaimana terdefinisi secara kultural dan berkembang dalam sejarah sosial, mempunyai konotasi berbeda dalam komunitas, masyarakat dan kelompok yang berbeda. Bahkan, dalam masyarakat yang sama, pemahaman s3ksualitas akan berbeda menurut umur, kelas sosial, budaya, dan agama. [3]

Sebagaimana dinyatakan Weeks, bertolak belakang dengan pandangan essensialis, teori konstruksi sosial mengartikan s3ksualitas terjadi melalui relasi-relasi sosial, ekonomi, budaya, dan relasi kekuasaan. S3ksualitas dikonstruksikan oleh masyarakat secara kompleks. S3ksualitas merupakan hasil dari berbagai praktik sosial yang beraneka ragam; ia juga merupakan hasil dari pemaknaan sosial dan individual; hasil dari pengumulan antara mereka yang memiliki kekuasaan untuk mendefinisikan dan mengatur dengan mereka yang menentangnya.

Dengan demikian, s3ksualitas bukanlah bawaan atau kodrat, melainkan produk dari negosiasi, pergumulan, dan perjuangan Manusia. [4] S3ksualitas merupakan ruang kebudayaan manusia untuk mengekspresikan dirinya terhadap orang lain dalam arti yang sangat kompleks, menyangkut identitas diri (self identity), tindakan s3ks (sex action), perilaku s3ksual (sexual behavior), dan orientasi s3ksual (sexual orientation).

Lalu, apa hubungan antara s3ksualitas dan tubuh manusia? Perlu diketahui bahwa s3ksualitas, baik pada laki-laki maupun perempuan, adalah segala sesuatu yang intrinsik tentang tubuh dan kenikmatan s3ksual keduanya. Karena itu, s3ksualitas perempuan misalnya, tidak melulu soal vagina dan payudara, melainkan mencakup seluruh tubuhnya, termasuk pikiran dan perasaannya. Demikian pula s3ksualitas laki-laki, tidak hanya terkait dengan penis dan organ s3ksual lainnya, melainkan juga berkaitan dengan pikiran dan perasaannya.

Setiap manusia, perempuan dan laki-laki, memiliki hak atas tubuhnya. Dia berhak atas kesehatan dan kenikmatan tubuhnya. Tubuh perempuan bukan sesuatu yang tabu, melainkan hal yang positif. Perempuan mempunyai hak untuk mengapresiasi dan mengekspresikan tubuhnya sendiri. Tubuh perempuan bukan sumber dosa dan keonaran sebagaimana sering diungkapkan dalam masyarakat.

Pikiran dan pandangan yang kotor tentang tubuh itulah sumber malapetaka yang sesungguhnya. Persoalannya, nilai-nilai moral yang banyak dideskripsikan dalam masyarakat masih sangat timpang. Sebab, nilai-nilai tersebut dirumuskan berdasarkan asumsi laki-laki. Penilaian moralitas yang tidak adil ini membawa kepada lahirnya berbagai stereotip tentang tubuh perempuan. Tubuh perempuan selalu dianggap sebagai penggoda, perusak kesucian laki-laki, pembawa bencana, dan sejumlah stereotip lainnya.

Fakta bahwa perempuan secara alamiah memiliki kemampuan fungsi reproduksi berupa menstruasi, kehamilan, melahirkan, dan menyusui telah diartikan bahwa tubuh perempuan dianggap berbahaya dan tidak dapat dikontrol, bahkan sama sekali tidak dapat dipahami secara rasional. Sebaliknya, tubuh laki-laki dianggap aman, terkendali, dan bisa dipahami atau masuk akal. Oleh karena itu, tubuh perempuan dianggap tidak stabil, kepadanya dibutuhkan perhatian, aturan, kontrol, dan pengawasan.

Bahkan tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa masyarakat sudah terlanjur memposisikan tubuh perempuan sebagai sumber maksiat. Lahirlah nilai-nilai moralitas yang mendiskreditkan tubuh perempuan, seperti pandangan bahwa tubuh perempuan harus ditutup rapat untuk menghindari perkosaan; perempuan dilarang keluar malam dan dilarang berjalan sendirian tanpa kawalan lakilaki terhormat dari kerabat mereka (mahram). Nilai-nilai dan pandangan sosial yang merugikan perempuan tersebut kemudian mendapatkan legitimasi agama. Akibatnya, kebijakan dan hukum yang dibuatpun cenderung berpihak pada laki-laki dan merugikan perempuan.

Karena itu, diperlukan upaya serius dan sistematik untuk mengakhiri semua mitos dan pemahaman keliru tentang s3ksualitas, khususnya terkait dengan pemahaman tentang tubuh manusia, lebih khusus lagi tentang tubuh perempuan. Tidak boleh lagi ada diskriminasi berdasarkan s3ksualitas. Yang penting setiap manusia dapat memahami apa itu s3ksualitas secara holistik dan kemudian mampu bersikap dan berperilaku bijak dan penuh tanggung jawab, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakat luas.

Hal itu diperlukan untuk mengakhiri semua bentuk tindakan kekerasan, sanksi kriminal, dan pelanggaran hukum yang bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia, khususnya hak s3ksual sebagaimana telah dirumuskan secara internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Endnote:
[1] Jeffer Weeks, Sexuality, (Ellis Korwood-Tavistock Publicationals, 1986), hlm. 34.
[2] Jeffer Weeks, Sexuality, (Ellis Korwood-Tavistock Publicationals, 1986), hlm. 34.
[3] Jeffer Weeks, Sexuality, (Ellis Korwood-Tavistock Publicationals, 1986), hlm. 34.
[4] Jeffer Weeks, Sexuality, (Ellis Korwood- Tavistock Publicationals, 1986),
hlm. 39.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact