Bahaya Hamil di Usia Muda - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Bahaya Hamil di Usia Muda

Bahaya Hamil di Usia Muda

Risiko Hamil di Usia Muda

Bahaya Hamil di Usia Muda (seksehat.id)

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, yang mendata perempuan usia antara 10-54 tahun yang sedang hamil, masih didapatkan kehamilan pada usia sangat muda (<15 tahun) di pedesaan meskipun proporsi sangat kecil. Sementara itu, proporsi kehamilan pada usia 15-19 tahun lebih tinggi di desa daripada di perkotaan.


Kehamilan remaja berdampak negatif pada kesehatan remaja dan bayinya, juga dapat berdampak sosial dan ekonomi. Kehamilan pada usia muda atau remaja antara Iain berisiko kelahiran prematur, berat badan bayi lahir rendah (BBLR), perdarahan persalinan, yang dapat meningkatkan kematian ibu dan bayi. Kehamilan pada remaja juga terkait dengan kehamilan tidak dikehendaki dan aborsi tidak aman.

Persalinan pada ibu di bawah usia 20 tahun memiliki kontribusi dalam tingginya angka kematian neonatal, bayi, dan balita. SDKI 2012 mendapatkan bahwa angka kematian neonatal, postneonatal, bayi dan balita pada ibu yang berusia kurang dari 20 tahun lebih tinggi dibandingkan pada ibu usia 20-39 tahun. Angka kematian tersebut tidak menurun secara signifikan selama 5 tahun terakhir.

Terjadinya kehamilan di usia muda, baik karena faktor s3ks pranikah atau pernikahan dini, salah satu penyebabnya adalah minimnya pengetahuan mereka tentang pendidikan s3ks (sex educations) atau informasi seputar kesehatan reproduksi.

Minimnya Informasi Kesehatan Reproduksi yang Benar

Data SDKI 2012 KRR menunjukan bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi belum memadai. Hal ini terlihat dari:


  • Hanya 35,3% remaja perempuan dan 31,2% remaja laki-laki usia 15-19 tahun yang tahu bahwa perempuan dapat hamil dengan satu kali berhubungan s3ksual;
  • Hanya 9,9% remaja perempuan dan 10,6% laki-laki memiliki pengetahuan komprehensif mengenai HIV-AIDS.
  • Hanya 60% remaja perempuan di usia usia 15-19 tahun yang tahu tentang PMS (premenstrual syndrome) atau 'datang bulan' secara mendalam;
  • Remaja usia 15-19 tahun baik laki-laki maupun perempuan sebagian besar berdiskusi mengenai kesehatan reproduksi dengan teman sebayanya dan guru bukan dengan tim ahli;
  • Remaja laki-laki usia 15-19 tahun menyukai bila sumber informasi kesehatan reproduksi diperoleh dari teman sebaya dan guru, sedangkan remaja perempuan menyukai sumber informasi dari ibu, tenaga kesehatan dan guru;
  • Remaja usia 15-19 perempuan sebagian kecil masih merasa malu berdiskusi dengan ibunya perihal s3ks dan reproduksi;


Dari data tersebut, peranan teman sebaya, guru, dan ibu sangat penting dalam hal ini. Namun masalahnya pengetahuan mereka tentang s3ksualitas dan reproduksi -bisa jadi- juga masih terbatas.

Oleh karena itu, sudah selayaknya para remaja lebih aktif sendiri dalam mencari sumber-sumber pengetahuan mengenai masalah s3ksual dan kesehatan reproduksi melalui alat yang ada, misalnya buku dan internet.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact