Diet Plastik - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Diet Plastik

Diet Plastik

DIET PLASTIK
oleh Samsudin Adlawi



”TAS kreseknya bayar ya, Bu”. Kata kasir Ramayana. Kepada istri saya. Saat belanja. Kemarin malam. Kalimat itu tidak asing. Berulang kali kami mendengarnya. Saat belanja. Di toko berjejaring. Harga kreseknya tak seberapa. Rp 200 saja. Tapi agak mengganggu telinga. Kenapa harus diomongkan: kreseknya bayar. Langsung di-include-kan total belanjaan kan tidak masalah. Apa pembeli protes kalau tidak diberi tahu kreseknya bayar. Atau ini. Kalau pembeli tidak mau beli kresek, ia disuruh buka bajunya. Untuk membungkus barang belanjaannya. Masak setiap mau belanja harus bawa tas dari rumah. Malah-malah bisa dicurigai petugas keamanan. Dikira mau ngutil.

Pemberlakuan beli kresek itu program. Dilakukan serentak. Oleh usaha ritel. Se-Indonesia. Untuk mengurangi sampah plastik. Yang sudah mencapai ambang mengkhawatirkan. Secara global 9 miliar ton plastik telah diproduksi. Sejak 1950-an. Dan yang 7 miliar ton menjadi limbah. Semua tahu. Sampah plastik merusak lingkungan. Mengancam kehidupan satwa. Bahkan membahayakan populasi manusia. 

Sampah plastik punya elemen paling berbahaya: mikroplastik. Berupa potongan-potongan kecil. Puing-puing. Serpihan-serpihan. Sebuah studi menyebutkan: secara global jumlah plastik mikro telah mencapai hingga 51 triliun partikel. Atau 236.000 metrik ton. Partikel-partikel kecil itu bisa berakhir di perut manusia. Melalui air minum. Juga makan-makanan laut. Risikonya kesehatan bisa terganggu. 

Kampanye mengurangi sampah plastik pun digeber. Lewat program diet plastik. Namanya diet berarti tidak menghilangkan. Sama sekali. Tapi hanya mengurangi. Seperti manusia. Mereka diet bukan untuk membuat kerempeng. Tapi untuk mencapai berat ideal. Tinggi dan berat badannya proporsional. 



Diet plastik program yang sangat bagus. Namanya cukup familiar. Mudah dimengerti. Tapi sulit dijalankan. Seperti diet makan. Banyak sekali orang yang gagal. Karena tidak disiplin. Tidak kuat melawan godaan makan. Diet plastik juga begitu. Jangan sampai hanya berhenti di slogan. Sekadar penggugur kewajiban. Karena menjadi tema Hari Peduli Sampah Nasional. 

Seperti itulah yang dilakukan pemerintah. Selama ini. Hangat-hangat tahi ayam. Begitu perayaannya buyar. Seketika itu pula diet sampah berlalu. Tak terdengar lagi. Air kemasan dalam gelas atau botol kembali disuguhkan. Tak ada lagi karyawan. Yang ke kantor membawa air. Dalam botol tumbler. Semua sudah lupa. Tak lagi diet plastik. Kembali ke kebiasaan lama. Membungkus barang dengan kresek plastik. Lebih praktis. Daripada membawa tas. Non-kresek.

Pendek kata. Tas kresek dan tas-tas lain berbahan plastik masih menjadi idola. Setidaknya hingga saat ini. Butuh nyawa rangkap tiga. Untuk melawannya. Nyawa pertama dipakai untuk melakukan gerakan masif. Gerakan sepenuh hati. Bukan setengah hati. Bahkan tanpa hati. Semua lini bergerak bersama. Semua stakeholder bergerak serempak. Tidak seperti sekarang. Berjalan sendiri-sendiri. Untuk kepentingan dan tujuan sendiri-sendiri pula. Tampak sekali kesannya: tidak kompak. Pimpinan negara hingga daerah hanya berani mengimbau. Tidak berani melarang. Penggunaan plastik. Dalam bentuk apa pun: botol dan gelas minum, bungkus barang, dll. 

Nah, kalau pemerintah tidak sungguh-sungguh. Bagaimana rakyatnya mau sungguh-sungguh. Walau dipaksa sampek tuwek mereka tetap akan cuek. 
Nyawa kedua untuk menutup semua industri plastik. Baik yang memproduksi barang dari plastik. Ataupun industri yang menggunakan kemasan dari plastik. Ketika tidak ada lagi produsen plastik, tidak akan ada barang-barang terbuat dari plastik. Saat itulah. Tanpa ada larangan pun masyarakat tidak akan meminum air kemasan gelas dan botol dari plastik. Gimana mau minum air kemasan plastik, lah wong pabriknya kemasannya sudah tutup. Tapi, kebijakan seperti itu hanyalah mimpi dalam tidur di ranjang emas. Di Planet Mars.

Nyawa pamungkas digunakan untuk meniru. Mencontoh negara-negara dengan pemimpin pemberani. Heroik melawan (sampah) plastik. Sudah ada beberapa negara. Memperkenalkan kebijakannya. Mendorong penggunaan plastik yang dapat terdegradasi. Dan terdaur ulang. Sebagai upaya nyata. Meminimalkan penggunaan plastik. Inggris, misalnya. Akan melarang semua penjualan plastik sekali pakai. Termasuk sedotan plastik dan kapas. Mulai tahun depan. Sejumlah kota di AS malah sudah mulai. Mereka menyatakan perang terhadap sedotan plastik. Kota Seattle telah meluncurkan kampanyenya: ”Strawless in Seattle”. New York sedang mempertimbangkan larangan sedotan plastik.



Tapi, wa ba’du. Indonesia jangan meniru Inggris atau kota-kota di AS. Cukup mencontoh Kenya. Negara terbelakang itu telah melarang kantong plastik. Hukuman berat menanti pelanggarnya. Empat tahun penjara. Atau pilih denda $ 40.000. 
Larangan itu bukan akan dilaksanakan. Tapi sudah berlaku: sejak 2017! (*)

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact