Dilema Kesehatan Masyarakat dalam Globalisasi Dunia - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Dilema Kesehatan Masyarakat dalam Globalisasi Dunia

Dilema Kesehatan Masyarakat dalam Globalisasi Dunia

oleh Purwo Setiyo Nugroho
(Staf Pengajar pada STIKes Kapuas Raya, Sintang)


Dilema Kesehatan Masyarakat dalam Globalisasi Dunia

Globalisasi dunia merupakan sebuah proses interaksi antar manusia yang menganggap bahwa adanya batas negara bukan menjadi sebuah halangan untuk saling bertukar ide, informasi, perdindahan barang maupun perpindahan manusia itu sendiri. Salah satu bentuk globalisasi yakni adanya perdagangan bebas.


Perdagangan bebas merupakan salah satu cara dalam meningkatkan perekonomian dan kemajuan suatu negara, sebab terdapat beberapa keuntungan adanya perdagangan bebas ini antara lain menambah peluang kesempatan kerja yang dikarenakan banyaknya permintaan barang dan jasa yang semakin tinggi.

Permintaan barang dan jasa ini tidak terbatas dalam negri, namun merambah antar negara; mendorong percepatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sebab pada dasarnya dalam perdagangan bebas terjadi persaingan kualitas dengan harga yang terjangkau.

Persaingan kualitas harga terjangkau ini dapat dicapai jika adanya perkembangan IPTEK yang baik. Serta perdagangan bebas dapat meningkatkan pendapatan suatu negara, hal ini dapat terjadi jika terdapat kelebihan produksi barang di pasar domestik maka dapat dijual ke negara yang membutuhkannya.

Semakin tinggi daya jual maka semakin besar pula pendapatan yang diterima oleh negara yang memproduksi barang, sehingga pendapatannya tersebut dapat digunakan untuk pembangunan negara tersebut.

Zaman Serba Instan 
Mau tak mau setiap negara akan terkena arus globalisasi dunia, sebab globalisasi ini berpengaruh terhadap eksistensi sebuah negara di kancah internasional yang akan mempengaruhi kemajuan suatu negara. Adanya globalisasi ini secara tak langsung akan memberikan dampak kepada perubahan kebiasaan/gaya hidup masyarakat di suatu negara. Dengan adanya mobilitas penduduk yang tinggi dan kemajuan IPTEK yang pesat, membuat masyarakat semakin ketergantungan pada teknologi dan hal-hal yang berbau instan.

Kebiasaan makan makanan fast food merupakan salah satu efek adanya globalisasi. Hadirnya makanan cepat saji dikarenakan menjamurnya perusahaan makanan jenis ini di Indonesia yang memiliki harga murah untuk dapat mengkonsumsi hasil produknya.

Tak hanya hadirnya toko makanan cepat saji, adanya ponsel pintar maupun alat elektronik lainnya yang dapat diintegrasikan dengan peralatan apapun menjadi sebuah kemudahan dan mempermudah kerja manusia. Sehingga adanya kemudahan-kemudahan dalam kegiatan manusia ini dapat membuat segala urusan manusia menjadi simpel dan cepat.

Kesehatan Masyarakat 
Era globalisasi merupakan era yang memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kemajuan suatu negara, sebab dengan adanya era globalisasi ini akan membantu negara berkembang dalam segi ekonomi melalui adanya pasar bebas. Selain itu globalisasi juga membuat arus mobilitas penduduk, jasa dan barang menjadi lebih cepat hingga tak mengenal batas negara.

Namun di sisi lain globalisasi juga memiliki efek negatif dalam mempengaruhi budaya suatu bangsa. Dengan adanya informasi dan mobilitas penduduk akan mempengaruhi mindset dan perilaku terutama kebiasaan buruk yang terjadi pula di negara lain.Globalisasi seperti pedang bermata dua. Di sisi lain menguntungkan, namun juga memiliki efek negatif khususnya pada sisi kesehatan masyarakat.

Tingginya angka mobilisasi penduduk menyebabkan risiko berpindahnya penyakit dari satu negara ke negara lain akan lebih mudah. Salah satu contoh adalah HIV-AIDS, yang risiko untuk menyebar di Indonesia lebih besar jika lebih banyak berdatangan pekerja dari negara yang memiliki angka prevalensi HIV-AIDS tinggi, begitupun penyakit menular lainnya. Konsepnya, perlu diwaspadai kedatangan pekerja asing dari negara endemis suatu penyakit. 

Tak hanya penyakit menular saja, risiko terjadinya penyakit tidak menular pun juga semakin tinggi. Hal ini dikarenakan adanya perubahan gaya hidup seiring tingginya mobilitas penduduk serta tingginya akses informasi yang didapat. 
Saat ini, banyak perusahaan internasional yang memproduksi barang unggulannya dalam rangka mempermudah dan mengefisienkan waktu kinerja manusia. Produksi makanan cepat saji yang meningkatkan risiko obesitas, dan produksi barang yang serba otomatis yang memiliki peluang mengurangi aktivitas fisik.

Kurangnya aktivitas fisik akan berdampak pada munculnya penyakit tidak menular seperti diabetes atau kencing manis. Lebih jauh lagi, diabetes akan memicu penyakit degenerative lainnya, seperti jantung koroner dan stroke. 
Perlu adanya kebijakan preventif yang memaksa masyarakat untuk tetap bergerak. Salah satunya yakni kebijakan melambatkan lift pada apartemen, dengan melambatnya lift di apartemen ini akan memaksa orang untuk memilih berjalan melalui tangga.

Efek globalisasi akan menyebabkan adanya upaya westernisasi bagi bangsa Indonesia. Westerinasi merupakan sebuah kegiatan meniru budaya kebarat-baratan (budaya bangsa lain) yang pada hakekatnya yang ditiru adalah kebiasaan buruk seperti makan makanan cepat saji yang memiliki branding lebih keren daripada makan makanan lokal. Padahal jika kita ketahui bahwa makanan cepat saji memiliki risiko untuk terjadinya obesitas yang dapat meningkatkan maupun memperparah risiko terjadinya penyakit tidak menular.

Kesehatan dan Kemajuan Negara 
Kesehatan global merupakan cita-cita bersama Association of South East Asia Nations (ASEAN) yang tercantum dalam ASEAN Post-2015 Health Development Agenda dengan visi “A Healthy, Caring and Sustainable ASEAN Community” dengan misi untuk mempromosikan kesehatan di anggota ASEAN.

Agenda tersebut ditujukan untuk mencapai derajat kesehatan yang lebih baik melalui gaya hidup yang baik, memiliki akses layanan kesehatan yang baik, tercakup dalam layanan kesehatan global (jaminan kesehatan nasional), makanan yang sehat dan diet yang sehat, memiliki lingkungan yang sehat serta sistem layanan kesehatan yang terintergrasi pada semua kebijakan. 
Agenda tersebut dicanangkan untuk meminimalisir adanya pengaruh kesehatan global, yang dapat mengancam stabilitas antar negara. Mobilitas penduduk yang tinggi, akan mempertinggi pula risiko adanya perpindahan penyakit.

Adanya penyakit menular maupun tidak menular di Indonesia dapat mempengaruhi kualitas kesehatan sehingga dapat berdampak pada angka harapan hidup manusia. Dampaknya adalah Indeks Pembangunan Manusia akan menurun.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk) sehingga dapat menentukan peringkat atau level pembangunan sebuah negara/wilayah. Perlu diketahui bahwa indikator yang digunakan dalam mengukur IPM terdiri dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup.

Bagi Indonesia, IPM merupakan data yang sangat strategis sebab sebagai ukuran kinerja pemerintah. IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator dalam penentuan Dana Alokasi Umum (DAU).

(Sumber: Gugus Opini Kesehatan Masyarakat #3, Editor: Agung Dwi Laksono, Health Advocacy & Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI), 2017)

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact