Empat Mitos Pernikahan yang Sesat - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Empat Mitos Pernikahan yang Sesat

Empat Mitos Pernikahan yang Sesat



Mitos adalah sesuatu yang belum tentu benar tetapi sudah dianggap benar oleh masyarakat. Biasanya mitos didapat secara turun temurun baik secara langsung maupun lewat catatan sejarah. Umumnya mitos-mitos tersebut sudah berakar dan hidup subur di masyarakat.


Perlu dipikirkan bahwa mitos-mitos terkadang timbul karena ketakutan dan rasa ketidaknyamanan. Terutama dalam sebuah perkawinan, mitos tidak selalu harus dipercaya dan harus diuji kebenarannya. Berikut empat mitos terkait pernikahan yang sudah harus kita buang jauh-jauh:

1. Hubungan s3ks pertama kali selalu ditandai dengan keluarnya darah dari vagina

Faktanya, darah yang keluar dari vagina setelah berhubungan pertama kali timbul karena terjadinya peradangan dan perobekan pada selaput dara. Selaput dara ini merupakan selaput yang juga memiliki pembuluh darah. Apabila terjadi robekan pada bagian yang terdapat pembuluh darah maka terjadi perdarahan, apabila terjadi robekan tetapi tidak mengenai pembuluh darah maka pendarahan tidak terjadi.

2. Hubungan s3ks pada saat hamil dapat menyebabkan turun peranakan (prolaps uteri)

Prolapsus uteri adalah penurunan sebagian atau seluruhnya bagian kandungan ke vagina. Faktanya, lima faktor yang sering menimbulkan prolapsus uteri, yaitu:
• Kawin terlalu muda dan kehamilan dini
• Banyak melahirkan (lebih dari empat kali)
• Malnutrisi / kurang gizi
• Pada saat melahirkan, mengejan sebelum leher rahim terbuka sempurna
• Membawa barang terlalu berat dan kurang  istirahat pada waktu hamil dan setelah melahirkan 

3. Hubungan s3ks harus sering agar bayi dalam rahim subur dan sehat

Katanya dengan melakukan hubungan s3ksual maka bayi mendapat siraman sperma sehingga bertumbuh subur dan menjadi bayi yang normal dan sehat. Maka tidak sedikit pasangan suami istri yang berupaya agar sering melakukan hubungan s3ksual selama hamil dengan tujuan agar sang bayi normal dan sehat. Sementara itu, fakta yang ada adalah tidak ada hubungan lagi antara sperma dengan bayi yang ada di dalam rahim. Tidak ada hubungan pula antara sperma dan pertumbuhan bayi. Jadi subur dan sehatnya bayi di dalam rahim tidak dipengaruhi oleh ada tidaknya sperma yang masuk ke dalam rahim selama kehamilan. Yang benar adalah, kualitas sel spermatozoa yang berhasil membuahi sel telur berpengaruh terhadap kesehatan kehamilan yang terjadi.

4. Konon kalau posisi laki-laki ketika melakukan hubungan s3ksual dimulai dari kiri dan diakhiri di sebelah kanan, maka bayi laki-laki yang akan lahir

Sebaliknya, bila hubungan s3ksual dimulai dari sisi kanan dan diakhiri di sisi kiri, maka bayi perempuan yang akan lahir. Faktanya, tentu saja informasi ini salah dan sangat tidak rasional, karena jenis kelamin bayi tidak ditentukan oleh posisi laki-laki ketika berhubungan s3ksual. Jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis sel spermatozoa yang berhasil membuahi sel telur. Kalau spermatozoa dengan kandungan kromosom X yang membuahi sel telur, maka akan terbentuk bayi perempuan. Kalau spermatozoa dengan kromosom Y yang membuahi sel telur, akan terbentuk bayi laki-laki. Tetapi ternyata tidak sedikit orang yang mempercayai mitos itu dan melakukannya.

(Sumber: Kesehatan Reproduksi dan S3ksual bagi Calon Pengantin, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, 2015)

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact