Kenali Tiga Ciri Anak Autis - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Kenali Tiga Ciri Anak Autis

Kenali Tiga Ciri Anak Autis

oleh Zahra Lutfi Masyitah


Sekitar sepuluh tahun yang lalu sindrom autis belum banyak dikenal, sebagaimana yang diutarakan Handojo, tampaknya autis belum dipublikasikan di Indonesia, penderitaannya juga belum banyak dijumpai. Para dokter dan awam baru tersentak ketika jumlahnya tiba-tiba melonjak dengan cepat. Kelainan perilaku itu menjadi “momok” yang menakutkan, apalagi setelah media massa mulai tertarik untuk memuat dan memberitakannya. Informasi mengenai kelainan perilaku ini dengan cepat menyebar, banyak orang tua yang tiba-tiba sadar bahwa perilaku anaknya seperti gejala autis yang diberitakan.[1]


Tidak hanya di Indonesia, di seluruh dunia jumlah penyandang autis juga semakin meningkat. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9 kasus autis perharinya. Mengetahui metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena autis semakin besar. Jumlah tersebut sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autis masih misterius dan menjadi perdebatan antara para ahli dan dokter didunia. 

Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000-15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autis 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 di antara 1000 anak. Di Inggris Pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autis meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autis. 

Istilah autis pertama kali diperkenalkan Leo Kramer seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Autistic Disturbance Affective Contact) pada tahun 1943. Berdasarkan pengamatan terhadap 11 penyandang. Ketika itu ia menghadapi gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh, terlihat acuh terhadap lingkungan dan cenderung menyendiri. Seakan ia hidup dalam dunia yang berbeda. Kramer kemudian mempelajarinya. Itu sebabnya, autis juga dikenal dengan Sindrom Kramer.[2]

Autis dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa, di kota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia. Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tata laksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik. 

Selain itu autis merupakan kelainan perilaku di mana penderita hanya tertarik pada aktivitas mentalnya sendiri (seperti melamun atau berkhayal). Gangguan perilaku dapat berupa kurangnya interaksi sosial, penghindaran kontak mata, kesulitan dalam mengembangkan bahasa, dan pengulangan tingkah laku. Autis biasanya didiagnosa pada usia pra sekolah, yakni 30 bulan pertama dalam kehidupan anak (sebelum anak usia 3 tahun).

Ada tiga karakter yang menunjukan seorang menderita autis. Pertama, social interaction, yaitu kesulitan dalam melakukan hubungan social. Kedua, social communication, yaitu kesulitan dengan kemampuan komunikasi secara verbal dan nonverbal. Sebagai contoh, sang anak tidak mengetahui arti gerak isyarat, ekspresi wajah, ataupun penekanan suara. Ketiga, imagination, yaitu kesulitan untuk mengembangkan permainan dan imajinasinya.

Hal yang perlu diingat adalah, autis bukan penyakit menular, tetapi merupakan sekumpulan gejala klinis atau sindrom yang dilatar belakangi oleh berbagai faktor yang unik, dan saling berkaitan satu sama lain. Dikatakan unik karena memilki kekhususan tersendiri seperti gangguan spectrum autism (autism spectrum disorders) yang identik dengan gangguan perkembangan. Remaja autis adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kekhasan tersendiri.


Endnote:

[1] Y. Handojo, Autisma, Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi Untuk Mengajar Anak Normal, Autis dan Perilaku Lain, (Jakarta: Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia, 2004), hlm.1.

[2] Fauziah Rachmawati, Pendidikan Seks Untuk Anak Autis, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia, 2012) Hlm.3.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact