Pria lebih Banyak Menyeleweng daripada Perempuan - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Pria lebih Banyak Menyeleweng daripada Perempuan

Pria lebih Banyak Menyeleweng daripada Perempuan

Pria lebih Banyak Menyeleweng daripada Perempuan - seksehat.id

Berbagai bentuk ketimpangan di dalam praktik s3ksual terjadi secara meluas dari pemaksaan hubungan s3ksual, praktik menjual perempuan kepada orang Iain, hingga perilaku jajan laki-laki yang secara langsung menunjukkan betapa perempuan tidak mendapatkan hak monogami yang seharusnya diperoleh. 

Kita belum lupa pada kasus Yudhi yang divonis satu tahun karena menjual istrinya, Rini Sundari, dengan tarif minimal 300 ribu  sekali pakai. Hasil "penjualan" itu digunakan Yudhi untuk berfoya-foya. Hal itu belum cukup karena Yudhi juga kemudian ringan tangan, memukuli istrinya yang mendatangkan uang itu (Lihat Gatra, 4 Maret 1995). 


Begitu banyak cerita serupa ditulis di media massa, begitu banyak film di TV atau bioskop yang menceritakan kisah-kisah perkosaan atau kisah-kisah yang berhubungan dengan s3ksualitas yang mengganggu kehidupan para perempuan, begitu banyak pula wacana yang hadir dalam kehidupan sehari-hari yang mereproduksi tatanan-tatanan sosial tempat perempuan merupakan 'objek s3ks".

Dalam berbagai rubrik majalah, perempuan mengeluh terhadap tindakan suaminya dalam melakukan hubungan s3ks ketika sang suami sering memaksa meskipun istri sedang tidak siap melakukannya. Belum lagi keluhan tentang hubungan s3ks yang tidak dapat dinikmati oleh perempuan. Dalam berbagai hal perempuan juga tidak mendapatkan haknya sebagai satu-satunya orang yang digauli oleh suami mereka karena perselingkuhan yang dilakukan oleh suami. 

Demikian pula praktik jajan yang dalam berbagai laporan dinilai sebagai kebiasaan laki-laki. Hotman Siahaan dan Tjahjo Purnomo pada tahun 1988, misalnya, melaporkan bahwa:


"Presentase laki-laki yang menyeleweng jauh lebih besar daripada perempuan."

Kalau dilihat hubungan s3ks sebelum nikah, presentase laki-laki yang melakukannya sekitar 72 persen, dibandingkan perempuan sebesar 19,2 persen (Suara Karya, 19 Mei 1995). 

Sejak remaja laki-laki lebih permisif dan lebih terbuka terhadap praktik s3ks, Berdasarkan penelitian di Bali dan Yogyakarta, Helly Sucipto dan Faturochman menunjukkan bahwa 18,1 persen remaja laki-laki pernah melakukan hubungan s3ks, dibandingkan dengan 1,7 persen remaja putri (Sutjipto dan Faturochman, 1989: 69). Itu pun belum cukup, laki-laki masih menuntut keperawanan pada saat ia menikahi seorang perempuan.

Gambaran hubungan Iaki-laki dan perempuan ini telah menjadi realitas sosial yang terbentuk secara historis oleh berbagai proses sosial, yang kemudian menjadi suatu susunan kekuasaan tempat perempuan berada pada posisi yang tersubordinasi di dalam kehidupan s3ksual (Firestone, 1972). Perempuan di sini tampak harus memenuhi segala macam standar yang ditentukan oleh laki-laki (atau oleh struktur yang menguntungkan laki-laki). Nilai standar itu merupakan realitas objektif yang meminta kepatuhan-kepatuhan sehingga menjadi praktik yang terus menerus berulang dalam kehidupan sosial.

Kepatuhan-kepatuhan sosial perempuan tidak terlepas dari ideologi nature dan culture atau obyek dan subyek yang perempuan ditempatkan sebagai obyek dalam dunia laki-laki (culture) (Mac Cormack, 1980; Rosaldo, 1983). Dari sini dapat diinterpretasikan bahwa laki-laki telah menegaskan dan melestarikan kekuasaannya melalui berbagai instrumen, termasuk melalui s3ks. S3ks memang telah menjadi wilayah penting tempat hubungan kekuasaan laki-laki dan perempuan dipraktikkan dan diuji (Foucault, 1990). 

Persoalannya kemudian adalah, mengapa laki-laki harus mensubordinasi perempuan dan mengapa ia "takut" bahwa perempuan akan merebut kekuasaan itu? Apakah hal ini berkaitan dengan apa yang dikatakan Simone de Beauvoir bahwa laki-laki yang membangun dunia sehingga ia ingin menjaganya dari gangguan perempuan. Akan tetapi, mengapa perempuan dianggap sebagai pihak yang paling potensial untuk mengganggu kekuasaan itu?***

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact