Seksualitas dalam Alquran, Hadis dan Fikih: Mengimbangi Wacana Patriarki - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Seksualitas dalam Alquran, Hadis dan Fikih: Mengimbangi Wacana Patriarki

Seksualitas dalam Alquran, Hadis dan Fikih: Mengimbangi Wacana Patriarki

oleh Neng Hannah
(Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Sumber: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya 2, 1 (Juni 2017): 45-60



Ketika kita bicara tentang s3ksualitas, sering disalahfahami sebagai bahasan yang hanya berbicara tentang s3ks. Padahal cakupan bahasan s3ksualitas lebih luas daripada sekedar soal s3ks yang lebih mengacu pada aspek biologis. S3ksualitas ialah bagaimana seseorang mengalami, menghayati dan mengekspresikan diri sebagai makhluk s3ksual. Dengan kata lain tentang bagaimana seseorang menggunakan pikiran, menggunakan perasaan dan bertingkahlaku berdasarkan posisinya sebagai makhluk s3ksual. Konsep s3ksualitas akan berbeda sesuai tempat dan waktu, karena merupakan konsep dan konstruksi sosial terhadap nilai dan perilaku yang berkaitan dengan s3ks. Isu s3ksualitas diperbincangkan secara ambigu di dunia Muslim. Ia sering dibicarakan dengan penuh apresisasi, tetapi dalam waktu yang sama juga sangat tertutup dan konservatif. Tulisan ini bermaksud untuk memaparkan tentang s3ksualitas dalam perspektif Islam dengan landasan sumber dari Alquran, Hadis dan Fikih. Tulisan ini menunjukkan bahwa s3ksualitas dalam Islam dibentuk oleh nilai budaya dan agama.  Nilai-nilai agama dalam Alquran, Hadis dan Fikih mewarnai pembentukan pandangan tentang apa yang boleh dilakukan atau tidak, berbagai keharusan, dan sikap yang dikembangkan sehubungan dengan peran jenis kelamin. Pandangan tentang s3ksualitas dalam Islam yang dijelaskan dalam ayat Alquran, Hadis dan Fikih sebenarnya begitu humanis dan sangat sejuk karena penuh empati kemanusiaan. Namun hal tersebut tidak banyak disosialisasikan di kalangan masyarakat Islam. Sebaliknya, pandangan yang banyak dijumpai atau pandangan dominan sangat bias nilai-nilai patriarki.


A. PENDAHULUAN

S3ksualitas adalah sebuah kata menarik yang sering diperbincangkan secara tertutup maupun terbuka. Dari kalangan rakyat biasa sampai politisi negara. S3ksualitas sering diidentikan dengan s3ks. Hal ini tidaklah keliru. Namun s3ksualitas bukan hanya tentang s3ks. S3ks dan s3ksualitas merupakan dua hal yang berbeda. S3ks berhubungan dengan masalah biologis pada perempuan dan lelaki, sementara s3ksualitas sangat luas cakupannya tidak hanya pada aspek biologis semata. Sebelum kita membicarakan lebih lanjut tentang s3ksualitas ada baiknya kita memahami kata kunci mengenai masalah s3ksualitas, yaitu istilah s3ks, s3ksual dan s3ksualitas. 

Kata “s3ks” dapat berarti perbedaan karakter jenis kelamin (jenis kelamin biologis) dan bisa juga mengenai segala hal yang berkenaan dengan organ-organ kemaluan serta terkait dengan percumbuan serta hubungan badan (coitus). Kata s3ksual adalah berkenaan dengan tingkah laku, persamaan atau emosi yang digabungkan dengan rangsangan organorgan kemaluan daerah erogenous, atau disebut proeses reproduksi. Sedangkan “s3ksualitas” adalah kapasitas untuk memiliki atau untuk mengusahakan hubungan persetubuhan, bisa juga dimaksudkan karakter yang sedang tertarik pada sudut pandang s3ksual. S3ksualitas adalah tentang bagaimana seseorang mengalami, menghayati dan mengekspresikan diri sebagai makhluk s3ksual, dengan kata lain tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bertindak berdasarkan posisinya sebagai makhluk s3ksual. Segala sesuatu yang ada kaitannya dengan s3ks (ada kaitan dengan kelamin) tercakup di dalamnya. Hubungan s3ks hanyalah salah satu aspek, namun secara umun s3ksualitas memang selalu dihubungkan dengan hubungan s3ks (persetubuhan).[1]

Konsep s3ksualitas akan berbeda sesuai tempat dan waktu, karena merupakan konsep dan kontruksi sosial terhadap nilai dan perilaku yang berkaitan dengan s3ks. [2] Perbedaan ini bukan hanya dalam makna s3ksualitas antar kebudayaan, tetapi juga dalam pemaknaan yang ada dalam budaya itu sendiri. Hal ini menurut Saptari yang dikutip dari Truongh karena diskursus s3ksualitas mengatur tiga dimensi kehidupan manusia yang meliputi: pertama, dimensi biologis yaitu yang menyangkut kegiatan s3ks sebagai kenikmatan biologis atau untuk mendapatkan keturunan. Kedua, dimensi sosial yang meliputi hubungan-hubungan antara individu yang melakukan hubungan s3ks secara sah atau tidak sah (menurut ukuran masyarkat yang bersangkutan). Ketiga, dimensi subjektif yang berhubungan dengan kesadaran individu terhadap s3ksual diri sendiri atau kelompok[3]. Dengan batasan yang begitu luas, s3ksualitas menjadi sebuah diskursus yang menyangkut perilaku jenis kelamin sekaligus sebagai seperangkat gagasan yang membentuk norma. Keduanya saling berhubungan satu sama lain.  

Isu s3ksualitas dibicarakan secara ambigu di dunia Muslim. Ia sering dibincangkan dengan penuh apresiasi, tetapi dalam waktu yang sama juga sangat tertutup dan konservatif. Keadaan ini muncul sebagai konsekuensi dari dua pola keberagamaan Islam, yakni pola keberagamaan Islam-ideal dan Islam-sejarah. Pola Islam ideal mengapresiasi s3ksualitas sebagai fitrah manusia. S3ks adalah anugerah Tuhan. Hasrat s3ksual harus dipenuhi sepanjang manusia membutuhkannya dan ini hanya ada dalam pernikahan. Islam ideal menghendaki relasi kesetaraan, keadilan dan kemaslahatan. Sedangkan Islam-sejarah sering dipengaruhi oleh ideologi-ideologi yang bias gender. Sehingga s3ks dipandang sebagai sesuatu yang buruk bahkan lawan dari spiritualitas.

Pembahasan dalam tulisan ini menggunakan teknik studi pustaka yang menelaah berbagai buku, literatur serta catatan yang berkaitan dengan s3ksualitas yang terdapat di dalam Alquran, hadis dan fikih.  Diharapkan pembahasan tentang s3ksualitas dalam tulisan ini bisa mengimbangi wacana patriarki yang memandang s3ksualitas sebagai lawan dari spiritualitas dan dipandang tabu. Selain juga untuk memperlihatkan  bahwa dalam Alquran, hadis dan fikih, Islam memandang s3ksualitas sebagai bagian penting dari relasi manusia yang bersifat humanis dan sejuk serta penuh empati kemanusiaan.

B. PEMBAHASAN


      1. S3ksualitas dalam Alquran


      2. S3ksualitas dalam Hadis


         -Analisis S3ksualitas dalam Islam


      3. S3ksualitas dalam Fikih Islam


C. SIMPULAN

S3ksualitas dalam Islam dibentuk oleh nilai budaya dan agama.  Nilai-nilai agama dalam Alquran, hadis dan fikih mewarnai pembentukan pandangan tentang apa yang boleh dilakukan atau tidak, berbagai keharusan, dan sikap yang dikembangkan sehubungan dengan peran jenis kelamin. Hal mendasar dalam konsep Alqurantentang s3ks/s3ksualitas ialah tidak membuat klaim yang merendahkan perempuan dan s3ks, bahkan menentang tradisi misoginis. Inti pandangan Alquran tentang s3ksualitas bahwa laki-laki dan perempuan memiliki karakteristik yang sama/serupa, termasuk karakteristik s3ksual misalnya terkait moralitas s3ksual atau kesucian. Sementara itu, inti dari hadis  yang membahas s3ksualitas ialah hadis Rasul tentang kisah pernikahannya dengan Khadijah yang menunjukkan fenomena s3ksualitas perempuan yang aktif. Sumber hukum Islam ketiga yaitu fikih membahas s3ksualitas perempuan dengan pandangan lebih maju. Madhab Hanafi mengatakan bahwa, perempuan berhak menuntut hubungan intim kepada suaminya dan apabila istri menghendaki, suami wajib mengabulkannya.

Mazhab Maliki juga menyetujui pendapat ini. Kedudukan perempuan dalam pernikahan merupakan hubungan setara, saling melengkapi dan saling membutuhkan sebagai patner.

Pandangan tentang s3ksualitas dalam Islam yang dijelaskan dalam ayat Alquran, hadis dan fikih begitu humanis dan sangat sejuk karena penuh empati kemanusiaan. Namun hal tersebut tidak banyak disosialisasikan di kalangan masyarakat Islam. Sebaliknya, pandangan yang banyak dijumpai atau pandangan dominan sangat bias nilai-nilai patriarki. Artinya hanya para suami yang mempunyai hak menikmati kepuasan s3ksual, sedangkan para istri hanya punya kewajiban memuaskan atau menuruti keinginan suami. Dari titik inilah salah satu pemicu timpangnya relasi suamiistri terjadi dan tidak menutup kemungkinan memunculkan tindakan kekerasan terhadap Istri.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Kodir, Faqihuddin. Manbaussa‟adah. Cirebon: Fahmina Institut, 2011.

Abdusshomad, Mahyudidn. “Perkosaan Dalam Rumah Tangga.” Jakarta: Rahima, 2012.

Abu Syuqqah, Abdul Halim. Kebebasan Wanita, 6. Jakarta: Gema Insani Press, 1998.

Abu Zahrah, Muhammad. Ushul Al-Fiqh. Mesir: Dar al-Fikr, n.d.

Adhim, Muhammad fauzil. Mencapai Pernikahan Barokah. Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1999.

Al-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. Jami‟ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur‟an, III. t.p., n.d.

Al-Zuhaili, Wahbah. Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuhu, VII. Damaskus: Dar al-Fikr, 1989.

Aziz, M. Ali. Ilmu Dakwah. Jakarta: Prenada Media Group, 2004.

Barkat, Halim. Dunia Arab. Translated by Irfan M Zakki. Bandung: Nusa Media, 2012.

Barlas, Asma. Cara Qur‟an Membebaskan Perempuan. Jakarta: Serambi, 2003. Dermawan, Andi. “Marital Rape Dalam Perspektif Hukum Al-Qur’an.” In Tela‟ah Ulang Wacana S3ksualitas, edited by Mochammad Sodik, I. Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga, Depag RI dan McGill-IISEP-CIDA, 2004.

Dwiyanto, Agus, and Muhadjir, eds. S3ksualitas, Kesehatan Reproduksi Dan Ketimpangan Jender. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996.

Engineer, Ashgar Ali. Hak-Hak Perempuan Dalam Islam. Translated by Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1994. Hamka. Tafsir Al-Azhar, II. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.

Hasyim, Syafiq. Bebas Dari Patriarkhisme Islam. Jakarta: Kata Kita, 2010.

———. Hal-Hal Yang Tak Terpikirkan Tentang Isu-Isu Keperempuanan Dalam Islam. Bandung: Mizan, 2001.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah. I‟lam Muwaqi‟in „an Rabb Al-Alamin, 3. t.k.: t.p., n.d. Jackson, Stevi, and Sue Scott. Feminism AndSexuality : A Reader. New York: Colombia University Press, 1993.

Kuhn, Thomas S. The Structure of Scientific Revolution. Herndon: The University of Chicago Press, 1970.

Lebacqz, Karena. Sexuality: A Reader. Edited by Karena Lebacqz. Claveland, Ohio: The Pilgrim Press, 1999.

Mas’udi, Masdar F. Islam Dan Hak-Hak Reproduksi Perempuan: Dialog Fiqh Pemberdayaan. Bandung: Mizan, 1997.

Mernissi, Fatima. Beyond The Veil: S3ks Dan Kekuasaan Dinamika Pria Wanita Dalam Masyarakat Muslim Modern. Surabaya: AlFikr, 1997.

Muhammad, Husein. “Íslam, S3ksualitas Dan Budaya.” Swara Rahima 20, no. XII (2012).

Muhammad, Husein, and Dkk. Fiqih S3ksualitas. Jakarta: PKBI, 2011.

Mulia, Musdah. Muslimah Reformis Bandung: Mizan, 2005.

Murata, Sachiko. The Tao of Islam. Bandung: Mizan, 1996.

Musallam, B.F. S3ks Dan Masyarakat Dalam Islam. Bandung: Pustaka, 1985. Mutahhari, Murteza. Etika S3ksual Dalam Islam. Bandung: Pustaka, 1984. Qibtiyah, Alimatul. “Intervensi Malaikat dalam Hubungan S3ksual.” In Perempuan Tertindas? Kajian Hadis-Hadis

“Misoginis,” edited by Hamim Ilyas. Yogyakarta: eLSAQ Press, 2003. Sadari. “KDRT Dalam Perspektif Fiqih.” In Ragam Kajian Kekerasan Dalam Rumah Tangga, edited by Afwah Mumtazah. Cirebon: ISIF, 2012.

Truongh, Thanh-Dam. S3ks, Uang Dan Kekuasaan: Pariwisata Dan Pelacuran Di Asia Tenggara. Jakarta: LP3ES, 1992. Wahid, Marzuki. “Mendaulatkan S3ksualitas Perempuan.” Swara Rahima 5, no. II (2009).

CATATAN KAKI:

[1] Stevi Jackson dan Sue Scott, Feminism And Sexuality : A Reader (New York: Colombia University Press, 1993), 62.

[2] Agus Dwiyanto dan Muhadjir, eds., S3ksualitas, Kesehatan Reproduksi dan Ketimpangan Jender (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), 260.

[3] Thanh-Dam Truongh, S3ks, Uang dan Kekuasaan: Pariwisata dan Pelacuran di Asia Tenggara (Jakarta: LP3ES, 1992), xxiii.


Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact