Seksualitas dalam Alquran - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Seksualitas dalam Alquran

Seksualitas dalam Alquran

1. S3ksualitas dalam Alquran 




Berbicara s3ksualitas dalam Alquran harus dilakukan secara hati-hati mengingat masalah ini merupakan masalah yang sangat krusial. Alquran sebetulnya tidak spesifik menjelaskan perihal s3ksualitas. Tetapi juga tidak menghindar dari pembicaraan ini. Pembicaraan tentang s3ksualitas dalam Alquran lebih cenderung kepada relasi s3ksual sebagai suami istri ketimbang s3ks sebagai hak asasi individu.  Maka, pembicaraan nikah sebagai pelembagaan relasi sosial-s3ksual memperoleh penjelasan yang cukup lengkap dibanding dengan s3ksual sebagai hak setiap orang. 


Persoalan-persoalan s3ksualitas yang disinggung oleh Alquran antara lain meliputi hal-hal seperti, perkawinan, perceraian, perlakuan suami istri di dalam kehidupan rumah tangga (muasyarah bil ma‟ruf), iddah dan persoalan yang berkaitan dengan penyimpangan s3ksual seperti kisah kaum Luth yang mempraktikkan homos3ksualitas. Hal ini menunjukan bahwa sebagai kitab suci,  Alquran merupakan kitab yang merespons persoalan-persoalan kemanusiaan.

Pada dasarnya ada dua misi kenapa Alquran berbicara tentang s3ksualitas. Pertama, pembicaraan ini dimaksudkan untuk melakukan counter terhadap sejarah s3ksualitas masa lalu. Masa lalu yang dimaksud adalah masa-masa sebelum kedatangan Islam atau yang sering kita sebut masa jahiliah. Terhadap masa-masa pra-Islam ini nampaknya Alquran mempunyai pandangan yang peyoratif (memberikan makna menghina). Menurut Islam, s3ksualitas pra Islam adalah model s3ksualitas yang tidak teratur dan tidak beradab. S3ksualitas pra-Islam identik dengan pergaulan bebas longgar dan tidak terkendali. Selain itu, s3ksualitas pada masa itu juga mencerminkan relasi lakilaki dan perempuan yang tidak seimbang.[4]

Jauh sebelum kehadiran Islam, masyarakat jahiliah melakukan praktik pernikahan dengan memiliki ratusan bahkan ribuan istri, harem, selir dan pergundikan banyak terjadi. Terdapat beragam jenis perkawinan yang merupakan praktik perilaku s3ksual pada masa jahiliah ini sehingga kemudian dilarang. Bentuk-bentuk pernikahan yang dilarang tersebut adalah: 1) Nikah al-Maqt yaitu menikahi bekas istri ayah yang sudah meninggal, 2) Nikah al-Syighar yaitu pertukaran anak perempuan tanpa mahar, 3) Nikah al-Istibdha‟ yaitu pernikahan dengan menempatkan perempuan sebagai bida‟ah atau barang dagangan, 4) Nikah al-Rahth yaitu pernikahan untuk kepuasan s3ksual tanpa batasan jumlah istri, 5) Nikah al-Badal atau praktik tukar-menukar istri, dan 6) Nikah al-Baghaaya atau hidup bersama tanpa nikah (kumpul kebo).[5]

Kedua, pembicaraan ini juga dimaksudkan untuk membuat aturan-aturan dari pola s3ksualitas yang tidak beragama (tidak berdasarkan syariat) menuju pola s3ksualitas yang beragama (berdasarkan syariah). Semua tindakan yang mengatasnamakan s3ks dalam Islam tidak bisa berlangsung tanpa mendapatkan legitimasi. Di sini mulai muncul batasan-batasan dan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh seseorang yang ingin melakukan s3ks. Misalnya dalam kasus poligami, yang tadinya seorang laki-laki bisa mengawini sebanyak mungkin perempuan, dengan munculnya Islam, seorang laki-laki diberi batas maksimal empat istri.

Alquran lebih banyak berbicara tentang karakteristik dan perilaku s3ksual manusia daripada tentang s3ksualitas manusia (identitas s3ksual yang merupakan konstruksi sosial). Inti pandangan Alquran tentang kedua pandangan tersebut adalah bahwa laki-laki dan perempuan memiliki karakteristik s3ksual yang sama (gagasan tentang kesamaan s3ksual). Karena itu Alquran mendukung pandangan yang tidak membedakan s3ksualitas karena tidak melekatkan tipe identitas, dorongan, atau kecenderungan terhadap perilaku s3ksual tertentu kepada salah satu jenis kelamin. Misalnya Alquran tidak mendukung gagasan tentang kebobrokan dan kepasifan s3ksual perempuan maupun s3ksualitas laki-laki yang serba jahat dan menyimpang.[6]

Hal mendasar dalam konsep Alquran tentang s3ks/s3ksualitas ialah Alquran tidak membuat klaim yang merendahkan perempuan dan s3ks, bahkan menentang tradisi misoginis.[7] Hal ini terlihat dalam Alquran yaitu:

Artinya: Di antara tanda tanda kekuasaan Tuhan adalah bahwa Dia menciptakan pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya (Sukun), dan dijadikan-Nya di antara kamu kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS 30: 21). 

Ayat ini sering dikemukakan untuk menjawab bagaimana Islam memberikan apresiasinya terhadap s3ksualitas. Ada sejumlah tujuan yang hendak dicapai dari pernikahan ini. Pertama, sebagai cara manusia menyalurkan hasrat libidonya untuk memperoleh kenikmatan/kepuasan s3ksual. Kedua, merupakan ikhtiar manusia untuk melestarikan kehidupan manusia di bumi. Pernikahan dalam arti ini mengandung fungsi prokreasi sekaligus reproduksi. Ketiga, menjadi wahana manusia menemukan tempat ketenangan dan keindahannya. Melalui perkawinan, kegelisahan dan kesusahan hati manusia mendapatkan salurannya. [8]

Barlas menjelaskan Alquran surat 30 ayat 21 ini sebagai berikut: Sukun yang sering diterjemahkan dengan cinta, mengandung arti keintiman mendalam yang disebabkan oleh pemenuhan s3ksual dan kedamaian mental. Penggunaannya dalam Alquran dinilai penting karena dua alasan: pertama, ia menunjukan bahwa Islam menuntut agar hubungan s3ksual/perkawinan didasarkan pada rasa saling cinta, keharmonisan dan kepuasan, sebuah pandangan yang bila ditinjau dari masa pewahyuan Alquran merupakan sesuatu yang sangat revolusioner. Dengan menekankan sikap saling memberi dan menerima kepuasan s3ksual Alquran menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan keduanya memiliki dorongan dan kebutuhan s3ksual serta hak untuk memenuhinya. Kedua dengan mendefinisikan s3ks dalam pengertian yang menyiratkan kesenangan dan kepuasan s3ksual, Alquran juga menegaskan bahwa s3ks bukan saja bertujuan untuk memperbanyak keturunan, s3ks juga merupakan aktivitas yang menyenangkan dan bertujuan menciptakan sukun.[9]

Ayat ini menjadi penting karena dua alasan lain. Pertama ia menunjukan bahwa berbeda dengan tradisi dualistik, Alquran tidak memposisikan s3ksualitas sebagai lawan dari spiritualitas. Ia justru memandang s3ksualitas sebagai “tanda” kemurahan dan karunia Tuhan kepada manusia. Alquran juga tidak mengaitkan s3ks/s3ksualitas dengan perilaku hewani atau tindakan jasmani semata. Jadi Alquran tidak menyatakan—seperti yang dilakukan oleh kebanyakan muslim—bahwa “naluri s3ksual” kelemahan terbesar umat manusia.[10] Sebaliknya Alquran memandang s3ks “sebagai sarana Tuhan untuk menciptakan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang dicirikan oleh kebersamaan, kedamaian, cinta dan kasih sayang.

Kedua, ayat ini seperti banyak ayat lainnya, menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki karakteristik yang sama/serupa, termasuk karakteristik s3ksual. Keduanya merupakan bagian integral dari keseluruhan karakteristik alami manusia (fitrah). Bahkan, kesamaan/keserupaan karakteristik (s3ksual) manusia itulah yang membuat sukun yang timbal balik itu menjadi bermakna dan mungkin. Tidak adanya pembedaan Alquran antara karakteristik s3ksual laki-laki dan perempuan juga terbukti dari konsepnya tentang keberpasangan laki-laki dan perempuan dalam berbagai persoalan yang memperlihatkan kesepadanan/keserupaan keduanya. Misalnya Alquran menyatakan:

Artinya: Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk lelaki lelaki yang keji dan lelaki lelaki yang keji adalah untuk perempuan perempuan yang keji dan perempuan perempuan yang baik adalah untuk lelaki lelaki  yang baik, dan lelaki-lelaki baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik (QS 24:26).

Dengan menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan secara s3ksual bisa menjadi suci atau ternoda, dan bahwa perempuan beriman seperti halnya laki-laki beriman, memiliki hak untuk menikahi pasangan yang masih suci. Ayat ini menggugat pandangan muslim tentang perempuan sebagai sosok yang bobrok secara s3ksual di satu sisi dan pengaitan kesucian (yang biasanya didefinisikan sebagai keperawanan) hanya kepada perempuan di sisi lainnya. Bagaimanapun, Alquran tidak hanya menekankan kesucian perempuan semata, seperti yang telah dipaparkan di atas. Lebih jauh, menurut al-Alquran, kesucian dan kehormatan didasarkan pada perilaku, bukan pada identitas atau jenis kelamin, dan itulah sebabnya mengapa Alquran menerapkan konsep kesucian setara terhadap laki-laki dan perempuan. Hal ini dinyatakan dalam ayat lain:

Artinya: “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan musyrik dan perempuan berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau orang laki-laki musyrik dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin (QS 24: 3).

Moralitas s3ksual atau kesucian seseorang terkait dari perilaku bukan dari karakteristik atau jenis kelaminnya. Lebih jauh, kesucian bukan berarti tidak melakukan aktivitas s3ksual, melainkan tidak melakukan jenis perilaku s3ksual tertentu (perzinahan dan pelacuran), menjaga kehormatan, menghindari hal-hal yang mendorong perzinahan dan sebagainya. Bahkan dalam Alquran, persyaratan untuk menahan diri dari pernikahan, kebolehan untuk menikah, dan kehidupan dalam pernikahan, semuanya dimaksudkan untuk menjaga kehormatan dan menghindari perilaku s3ksual yang nista, tak terkontrol atau tidak bertanggung jawab, baik oleh laki-laki maupun perempuan. Menurut Alquran, kesucian merupakan buah dari perilaku dan karena buah dari, pilihan moral dan s3ksual yang dibuat seseorang bukan buah dari karakteristik, identitas, agama atau pun kelas sosialnya.[11]

Selanjutnya salah satu ayat Alquran yang popular dijadikan rujukan tentang hubungan s3ksual diantara suami istri adalah surat alBaqarah ayat 223, adapun bunyinya:

Artinya: Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.

Ayat di atas menggambarkan relasi s3ksual suami dan istri. Bila memahaminya sekilas, tergambar bahwa s3ksualitas perempuan adalah pasif dan sebaliknya s3ksualitas lelaki harus aktif, terutama ketika berhubungan s3ks. Ladang menjadi metafor perempuan sedangkan laki-laki si penanam bibit. Sehingga sebagai ladang, istri/perempuan bisa kapan saja dan ditanami apa saja sesuai dengan keinginan suami/laki-laki.Dengan kata lain, perempuan adalah objek kemauan laki-laki khususnya dalam soal s3ks. 

Penafsiran seperti ini diantaranya terdapat dalam Tafsir al-Azhar Hamka. Hamka menafsirkan ayat ini terutama tentang maksud “istri sebagai sawah ladang” bahwa istri ibarat sawah ladang tempat suami menanam benih untuk menyambung keturunan, dan suami sebagai pemilik sawah ladang boleh masuk ladang kapanpun dia suka dan mau, namun dalam menanam benih juga harus memperhatikan pada saat yang tepat agar tidak sia-sia.[12]

Penafsiran dan pemahaman demikianlah yang umum berkembang di tengah-tengah masyarakat. Pemahaman ini membentang lebar dari zaman unta hingga zaman nuklir, dari Barat hingga Timur. Bisa jadi segala bentuk diskriminasi, subordinasi, dan 'fitnah' atas s3ksualitas perempuan yang selama ini beroperasi melalui ajaran keagamaan, seperti ajaran khitan-perempuan dan pengharusan istri untuk memenuhi hasrat s3ksualitas suami, bersumber dari pemahaman dan penafsiran terhadap ayat ini. Padahal pemahaman dan penafsiran ini  tidak memiliki dasar penafsiran yang sahih kecuali sebagai bias dari kukuhnya budaya dan alam pikir patriarki yang menyelimuti para mufasir dan khalayak dari masa ke masa.[13]

Ayat di atas kalau dilihat dari  sebab turunnya (asbab al-nuzul) tidak memojokkan perempuan bahkan menempatkan perempuan pada posisi yang terhormat. Menurut Madsar F Masudi, ayat ini turun pada dasarnya berkaitan dengan kegemaran sebagian laki-laki yang suka menggauli istrinya lewat dubur. Islam melarang praktik tersebut dengan mengingatkan bahwa istri dengan rahimnya (ladang) bagi laki-laki untuk menanam benih keturunannya. Maka janganlah kalian tanam benih tadi tidak pada tempatnya (dubur). Selain merupakan sesuatu yang tidak pada tempatnya, perbuatan tersebut dari sisi kesehatan juga kurang aman. Jadi jelas, pesan ayat itu bukan untuk memperlakukan perempuan semaunya, seolah ayat ini menjelaskan teknik bermain s3ks belaka. Rasanya terlalu sepele hal tersebut diangkat oleh Alquran.[14]

Lebih dari itu, penggambaran perempuan sebagai ladang dalam konteks masyarakat madinah saat itu sebenarnya mengisyaratkan tingginya nilai perempuan.[15] Ladang merupakan sesuatu yang terbatas dan jarang di Madinah. Tidak jarang beberapa kabilah berperang untuk mendapatkan tempat yang subur untuk menjadi ladang. Karena nilainya begitu tinggi maka nyawa pun bisa dikorbankan untuk mendapatkannya. Berbeda hal dengan konteks Indonesia, dimana ladang adalah sesuatu yang biasa saja nilainya. Sehingga metafor perempuan sebagai ladang merupakan penggambaran betapa tingginya nilai seorang perempuan yang harus dijaga, dirawat dan dihormati karena perjuangan mendapatkannya tidak mudah.

Selanjutnya Ayat di atas juga memberi pengertian bahwa istri “laksana sawah ladang” yang siap digarap kapan saja ketika suami menghendaki. Dalam ayat ini terkandung pengertian suatu bentuk kehati-hatian sekaligus menjaga betul perihal kualitas benih dan metode penanamannya, sehingga tidak terkesan dipaksakan. Jadi harus ada interaksi antara keduanya yang diharapkan dapat membuat lahan itu subur dan produktif. Dengan demikian seorang suami memiliki tanggung jawab terhadap “ladang” yang diamanati Allah. Ladang tersebut perlu dirawat dengan baik dengan dicangkul, disiram, diberi pupuk dan disayang agar tetap subur. Hubungan suami istri dalam sebuah perkawinan adalah ibadah, namun bukan berarti hak s3ksualitas perempuan ditiadakan, justru dimensi ibadah inilah yang membawa substansi pada keikhlasan masing-masing pihak tanpa adanya pemaksaan terhadap pasangan.[16]

Untuk penjelasan tentang relasi struktural s3ksual suami dan istri mengacu kepada QS al-Baqarah: 187 yang berbunyi:

Artinya: Mereka (istri) itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. (QS. al-Baqarah[2]: 187)

Ibnu Jarir al-Thabari, guru besar para ahli tafsir, mengemukakan dua tafsir atas ayat ini. Pertama, ayat ini adalah metafora untuk arti penyatuan dua tubuh secara interaktif. Kedua, mengutip ahli tafsir Mujahid Qatadah, ayat ini berarti masing masing pasangan saling memberi ketenangan bagi yang lainnya.[17] Hubungan s3ksualitas suami dan istri dalam Alquran yang dijelaskan ayat ini merupakan suatu hubungan yang setara, saling melengkapi, dan saling membutuhkan sebagai partner dalam menyalurkan hasrat s3ksualnya.  

Alquran mesti kita posisikan secara proporsional, sebagai aturan (norma dan nilai) yang universal, yang bersendikan keadilan, kemaslahatan, dan mengangkat harkat dan derajat kemanusiaan. Positioning ini perlu dilakukan, terutama, dalam memahami ayatayat yang berhubungan dengan s3ksualitas dan relasi gender.  Ini dilakukan karena Alquran diturunkan pada abad ke-7 M di kawasan Arabia yang, secara sosiologis, masyarakatnya memiliki konstruk dan persepsi kebudayaan yang diskriminatif mengenai perempuan. Tatanan yang berlaku pada masyarakat jazirah Arabia ketika Alquran turun adalah sistem patriarki atau kebapakan, suatu budaya yang dibangun di atas struktur dominasi laki-laki sebagai pusat kuasa. Perempuan, dalam kebudayaan mereka, diposisikan dan diperlakukan sedemikian rendah dan hina. Kebiasaan yang bisa dicatat dari budaya mereka terhadap perempuan adalah pembunuhan bayi perempuan, pelecehan s3ksual terhadap (budak) perempuan, peniadaan hak waris bagi kaum perempuan, dzihar, poligami tanpa batas, menceraikan perempuan sesuka lelaki, dan lain-lain[18]

Oleh karena itu, memahami ayat-ayat Alquran tidak bisa hanya berhenti pada teks semata, melainkan harus menyertakan bacaan konteks sosial-budaya kapan dan di mana teks itu terbentuk. Membaca ayat Alquran tentang s3ksualitas tanpa membaca konstruk kebudayaan masyarakat Jazirah Arabia saat itu hanya akan menghilangkan misi emansipatoris yang tersirat dalam setiap maknanya.

Posisi perempuan saat ayat-ayat Alquran diturunkan berada dalam anggapan yang buruk, bahkan sampai menjadi keyakinan bahwa perempuan adalah makhluk sumber 'fitnah', lemah, mewarisi kejahatan, tidak mempunyai kemampuan intelektual, dan kosong dari spiritualitas; karena itu, perempuan "tidak setara dengan kaum lelaki". Konsekuensinya, perempuan dianggap tidak mampu dan tidak laik untuk memikul peran-peran publik dan segala hal yang memiliki akses ke dalam wilayah publik. Perempuan dicukupkan hanya mengurusi, bukan mengatur, hal-hal yang berada pada wilayah domestik belaka.[19]

Dalam latar sosio-budaya demikianlah, di antaranya, Alquran diturunkan sebagai jawaban, bantahan, dan alternatif nilai untuk membangun kembali tata kebudayaan yang adil. Benar, apa yang dikatakan oleh Fazlur Rahman bahwa Alquran merupakan respon Allah yang disampaikan melalui Rasul-Nya untuk menanggapi situasi sosial-moral pada masa Nabi. Alquran dan asal usul masyarakat Islam muncul dalam sinaran sejarah dan berhadapan dengan latar belakang sosial historis. Alquran merupakan respon terhadap situasi tersebut dan sebagian besar kandungannya terdiri dari pernyataan moral, religius, dan sosial, sebagai respon terhadap masalah spesifik yang dihadapkan kepadanya dalam situasi-situasi yang konkret.[20]

Alquran hadir dengan weltanschauung (pandangan hidup) sendiri. Secara tegas, Alquran mengakui adanya perbedaan anatomis dan biologis antara s3ksualitas perempuan dan s3ksualitas laki-laki. Alquran juga mengakui bahwa organ s3ks berfungsi dengan cara yang mencerminkan perbedaan yang dibatasi dengan baik oleh kebudayaan tempat Alquran berada. Alquran tidak berusaha menghapus perbedaan anatomis dan biologis itu, juga tidak menghilangkan signifikansi perbedaan yang kudrati itu. Tetapi juga Alquran tidak pernah membuat aturan yang secara kultural menjadikan perbedaan s3ks itu dapat diperlakukan secara diskriminatif, subordinatif, dan dominatif atas yang lain. Sebab ketentuan-ketentuan kultural semacam itu (jika ada) akan bertentangan dengan skala fungsi Alquran sendiri yang bersifat universal, lintas kultural, melampaui batas ruang dan waktu. [21]


Catatan Kaki

[4] Syafiq Hasyim, Bebas dari Patriarkhisme Islam (Jakarta: Kata Kita, 2010), 224-225.

[5] Halim Barkat, Dunia Arab, trans. Irfan M Zakki (Bandung: Nusa Media, 2012).140. 6Barkat, Dunia Arab, 141.

[6] 7Asma Barlas, Cara Qur‟an Membebaskan Perempuan (Jakarta: Serambi, 2003), 267.

[7] Barlas, Cara Qur‟an Membebaskan Perempuan, 267.

[8] Husein Muhammad, “Íslam, S3ksualitas dan Budaya,” Swara Rahima 20, no. XII 2012), 23-4.

[9] Muhammad, “Íslam, S3ksualitas dan Budaya”, 269.

[10] Ini pendapat Maududi yang dikutip oleh Riffat Hassan, “An Islamic Perspective”, dalam Karena Lebacqz, Sexuality: A Reader, ed. Karena Lebacqz (Claveland, Ohio: The Pilgrim Press, 1999), 351. 12Lebacqz, Sexuality: A Reader, 351.

[11] Barlas, Cara Qur‟an Membebaskan Perempuan, 272.

[12] Hamka, Tafsir al-Azhar, II (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), 214-215.

[13] Marzuki Wahid, “Mendaulatkan S3ksualitas Perempuan,” Swara Rahima 5, no. II (2009), 38.

[14] Masdar F Masudi, Islam & Hak-hak Reproduksi Perempuan (Bandung:Mizan, 2000), 121.

[15] Masdar F. Mas’udi, Islam Dan Hak-Hak Reproduksi Perempuan: Dialog Fiqh Pemberdayaan (Bandung: Mizan, 1997).

[16] Andi Dermawan, “Marital Rape Dalam Perspektif Hukum Al-Qur’an,” in Tela‟ah Ulang Wacana S3ksualitas, ed. Mochammad Sodik, I (Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga, Depag RI dan McGillIISEP-CIDA, 2004). 303.

[17] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Al-Thabari, Jami‟ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur‟an, III (t.p., n.d.).489.

[18] Ashgar Ali Engineer, Hak-Hak Perempuan Dalam Islam, terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1994), 55.

[19] Engineer, Hak-Hak Perempuan Dalam Islam,55.

[20] Wahid, “Mendaulatkan S3ksualitas Perempuan”, 39.

[21] Wahid, “Mendaulatkan  S3ksualitas Perempuan”,39




Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact