Seksualitas dalam Islam - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Seksualitas dalam Islam

Seksualitas dalam Islam

Seksualitas dalam Islam

Di dunia Muslim, isu s3ksualitas diperbincangkan secara ambigu. la sering dibicarakan dengan penuh apresiasi, tetapi dalam waktu yang sama juga sangat tertutup dan konservatif. Keadaan ini muncul sebagai konsekuensi dari dua pola keberagamaan Islam, yakni pola keberagamaan Islam-ideal dan Islam-sejarah. Pola Islam-sejarah sering dipengaruhi oleh ideologi-ideologi yang bias gender. Sementara Islam-ideal menghendaki relasi kesetaraan, keadilan, dan kemaslahatan.


Islam-ideal mengapresiasi s3ksualitas sebagai fitrah manusia, baik laki-laki maupun perempuan, yang harus dikelola secara sehat dan dengan sebaik-baiknya. Dalam bahasa agama, s3ks adalah anugerah Tuhan. Islam tidak menganjurkan selibat dan asketisme. Hasrat s3ksual harus dipenuhi sepanjang manusia membutuhkannya. Meskipun demikian, Islam hanya mengabsahkan hubungan s3ks melalui ritual perkawinan. Islam dengan begitu tidak membenarkan promiskuitas (free sex).

Alquran sebetulnya tidak secara spesifik menjelaskan perihal s3ksualitas. Tetapi Alquran juga tidak menghindar dari pembicaraan ini. Dalam beberapa ayatnya, Alquran secara gamblang membicarakan dan menjelaskan jenis kelamin sebagai kenyataan (sunnatullah) s3ksual, tetapi pembicaraannya lebih cenderung kepada relasi s3ksual sebagai suami-istri ketimbang s3ks sebagai hak asasi individu. Karenanya, pembicaraan nikah sebagai pelembagaan relasi sosial-s3ksual memperoleh penjelasan yang cukup lengkap dibanding dengan s3ksual sebagai hak setiap orang. Akibat dari penjelasan nikah yang demikian lengkap, timbul suatu pemahaman dan persepsi di kalangan masyarakat bahwa penyaluran s3ksual hanya bisa dilakukan lewat jalur pernikahan belaka, dan s3ks adalah semata-mata hubungan s3ksual (withi) antara suami dan istri.

Padahal makna s3ksualitas jauh lebih luas dari sekadar itu. Setiap aktivitas yang berhubungan dengan organ-organ s3ks, dan memperoleh kenikmatan darinya, bisa disebut sebagai aktivitas s3ksual. Sejak bayi, meskipun belum sempurna, setiap orang tentu telah melakukan aktivitas s3ksualnya. Karena itu, aktivitas s3ksualitas tidak bisa dibatasi hanya setelah atau karena melakukan pernikahan. S3ks bisa dilakukan dan terjadi di mana dan kapan saja dalam setiap tahapan perkembangan manusia.

Oleh karenanya, yang kita butuhkan sebetulnya adalah penjelasan tentang hak-hak s3ksualitas dan sekaligus juga aturan-aturan etika dan moralitas yang melingkupinya. Akan tetapi, ketentuan-ketentuan demikian ternyata tidak kita temukan dalam teks-teks Alquran. Ini bisa dipahami karena Alquran memang bukan “buku panduan” dan bukan pula “kitab hukum” yang memerinci setiap persoalan, melainkan sekadar kerangka makro dan prinsip-prinsip dasar sebagai konsekuensi dari kedudukannya sebagai sumber dari segala sumber nilai dan hukum.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact