Seksualitas Islam: Muamalah Bernilai Ibadah - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Seksualitas Islam: Muamalah Bernilai Ibadah

Seksualitas Islam: Muamalah Bernilai Ibadah

Seksualitas Islam: Muamalah Bernilai Ibadah

Isu s3ksualitas dalam kajian Islam adalah menjadi bagian dari bidang muamalah (relasi antarmanusia), bukan ibadah (relasi manusia dengan Tuhan). Namun, muamalah yang dilakukan dengan niat dan tata cara yang baik dan benar, bisa bernilai ibadah.

Itu sebabnya, pembicaraan s3ksualitas dalam Islam juga tidak bisa lepas dari sunah Nabi Saw. Pengalaman praktis Nabi dengan persoalan s3ksualitas terjadi saat Nabi Saw. melangsungkan perkawinan dengan Khadijah. Perkawinan ini telah mengajarkan banyak hal kepada kita tentang makna s3ksualitas dalam kehidupan rumah tangga.

Perkawinan Rasulullah Saw. dengan Khadijah menunjukkan sebuah fenomena keaktifan s3ksualitas perempuan, sesuatu yang selama ini disalahpahami oleh kalangan Islam. Khadijah pada saat itu melamar Rasulullah Saw. Bahkan -menurut Syafig Hasyim dalam Hal-hal yang Tak Terpikirkan (2011)- sejarah Islam mencatat bahwa Rasulullah menerima pinangan tidak hanya dari Khadijah, tetapi juga dari perempuan-perempuan yang lain.


Naifnya, fenomena yang begitu jelas dan nyata sering tidak dipahami oleh umat Islam, sehingga masih menempatkan s3ksualitas perempuan dalam posisi yang pasif. Oleh karena itu, kita memang harus memposisikan Alquran secara proporsional, sebagai aturan, norma, dan nilai yang universal, yang bersendikan keadilan, kemaslahatan, dan mengangkat harkat dan derajat kemanusiaan sebagai sesuatu yang gath'iy. Hal ini perlu dilakukan terutama dalam memahami ayat-ayat yang berhubungan dengan s3ksualitas dan relasi gender. Ini dilakukan mengingat Alquran diturunkan di kawasan Arabia yang secara sosiologis masyarakatnya memiliki konstruk dan persepsi kebudayaan yang diskriminatif kepada perempuan.

Kebiasaan yang bisa dicatat dari budaya mereka terhadap perempuan adalah pembunuhan bayi perempuan, pelecehan s3ksual terhadap perempuan, peniadaan hak waris bagi kaum perempuan, dhihâr, poligami tanpa batas, menceraikan perempuan sesuka lelaki, dan lain-lain. Perempuan saat itu tidak lebih dari sekadar mesin reproduksi manusia. Ia bak komoditas reproduktif.

Oleh karenanya, kita sadar betul, posisi perempuan -saat ayat-ayat Alquran diturunkan- berada dalam anggapan yang buruk, bahkan sampai menjadi keyakinan bahwa perempuan adalah makhluk sumber ‘fitnah’, lemah, mewarisi kejahatan, tidak mempunyai kemampuan intelektual,  dan  kosong dari spiritualitas; karena itu, perempuan “tidak setara dengan kaum lelaki”. Konsekuensinya, perempuan dianggap tidak mampu dan tidak laik untuk memikul peran-peran publik dan segala hal yang memiliki akses ke dalam wilayah publik. Perempuan dicukupkan hanya mengurusi, bukan mengatur, hal-hal yang berada pada wilayah domestik belaka.

Pelan-pelan, anggapan dan paradigma tersebut mulai luntur dengan datangnya Islam beserta ayat-ayat Alquran yang begitu memuliakan perempuan dan hak-haknya. Tentu saja, Alquran adalah wahyu Allah yang Maha Adil. Ayat-ayatnya sudah pasti mencerminkan keadilan dan kemaslahatan. Namun apabila terdapat pemahaman atau tafsir yang tidak adil, diskriminatif, atau mendorong kekerasan, maka tentu bukan Alquran yang salah dan keliru, melainkan pemahaman dan tafsirnya, baik pada tataran metodologi maupun perspektif. Demikian juga tentang s3ksualitas.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact