Apa itu Orientasi Seksual? - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Apa itu Orientasi Seksual?

Apa itu Orientasi Seksual?

Apa itu Orientasi Seksual


Orientasi s3ksual adalah kapasitas yang dimiliki setiap manusia berkaitan dengan ketertarikan emosi, rasa sayang, dan hubungan s3ksual. Orientasi s3ksual bersifat kodrati, tidak dapat diubah. Tak seorang pun dapat memilih untuk dilahirkan dengan orientasi s3ksual tertentu.



Studi tentang orientasi s3ksual menyimpulkan ada beberapa varian orientasi s3ksual, yaitu heteros3ksual (hetero), homos3ksual (homo), bis3ksual (bisek), dan as3ksual (asek). Disebut hetero apabila seseorang tertarik pada lain jenis. Misalnya, perempuan tertarik pada laki-laki atau sebaliknya. Dinamakan homo apabila seseorang tertarik pada sesama jenis. Lelaki tertarik pada sesamanya dinamakan gay, sedangkan perempuan suka perempuan disebut lesbian. Seseorang disebut bisek apabila orientasi s3ksualnya ganda: tertarik pada sesama sekaligus juga pada lawan jenis. Sebaliknya, as3ksual tidak tertarik pada keduanya, baik sesama maupun lawan jenis.

Menjadi hetero atau homo atau bisek, atau orientasi s3ksual lain bukanlah sebuah pilihan bebas, juga bukan akibat konstruksi sosial, melainkan sebuah “takdir”. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan potensi kecenderungan orientasi s3ksual seseorang (seberapa pun kecilnya) menjadi aktual setelah mendapat pengaruh lingkungan. Misalnya, potensi homo dalam diri seseorang menjadi dominan karena desakan faktor lingkungan tertentu, seperti kondisi tidur dan hidup bersama sesama jenis kelamin di dalam pesantren, seminari, penjara, atau tempat lain yang sejenis.

Suatu hasil studi mengungkapkan ternyata tidak ada manusia yang memiliki orientasi hetero 100% atau orientasi homo 100% atau orientasi s3ksual lainnya secara penuh, melainkan selalu ada gradasi. Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia dengan orientasi s3ksual yang demikian beragamnya. Sayangnya tidak banyak manusia yang mau dan mampu memahami rahasia di balik penciptaan Tuhan dan lalu mengambil hikmah dan pelajaran dari keragaman tersebut. Paling tidak, pelajaran penting di balik semua itu adalah keharusan menghormati dan mengapresiasi manusia tanpa membedakan orientasi s3ksualnya. Tidak menghina atau menghakimi manusia hanya karena mereka berbeda orientasi s3ksual dengan kita atau dengan kelompok mayoritas di masyarakat.

Pertanyaan kritis, mengapa masyarakat dapat menerima orientasi s3ksual hetero, tetapi menolak homo, bisek, atau jenis orientasi s3ksual lain? Jawabnya sederhana, selama berabadabad masyarakat dihegemoni oleh paradigma patriarkhis dan heteronormativitas sehingga terbelenggu oleh satu pandangan yang dianggapnya sebagai satu-satunya kebenaran, yaitu bahwa hanya orientasi s3ksual hetero yang wajar, normal, dan alamiah. Sebaliknya, semua jenis orientasi s3ksual selain hetero, khususnya homo dipandang sebagai tidak wajar, abnormal, mental disorder (kelainan jiwa), atau mental illness (penyakit jiwa). Akibatnya, selama berabadabad masyarakat selalu melanggengkan sikap dan nilai-nilai yang mendukung hetero dan menolak homo (homofobia). 

Selain itu, konstruksi sosial mengenai s3ksualitas sangat dipengaruhi oleh relasi gender yang timpang. Mengapa? Relasi gender masih didominasi oleh ideologi dan sistem patriarkhi paternalistik. Sistem patriarkhi membenarkan laki-laki menguasai, membelenggu, dan mengontrol kehidupan perempuan dalam semua bidang kehidupan: sosial, hukum, politik, moral, dan agama. Sistem ini pada ujungnya melahirkan pembagian peran gender yang diskriminatif antara laki-laki dan perempuan.

Karena pengaruh patriarkhi, s3ksualitas selalu dipahami dalam konteks maskulinitas. Laki-laki selalu harus dalam posisi subyek, dan perempuan hanyalah obyek, termasuk obyek s3ksual. Inilah yang membuat masyarakat membentuk laki-laki harus dominan, aktif, ambisius, dan agresif. Sebaliknya, ideologi ini membentuk perempuan dalam posisi mengalah, pasif, dan tidak agresif. Pada gilirannya, pandangan stereotip ini melegitimasi laki-laki secara sadar atau tidak sadar melakukan dominasi, pelecehan, perkosaan, dan kekerasan s3ksual.

Lebih memprihatinkan lagi bahwa s3ksualitas bukan hanya dilihat dengan paradigma maskulinitas seperti diuraikan sebelumnya, melainkan juga dibangun dengan paradigma orientasi s3ksual hetero, sama sekali tidak memberikan ruang bagi paradigma homo atau lainnya. Akibatnya, terjadi hegemoni heteronormativitas dalam konstruksi s3ksualitas. 
Konstruksi sosial masyarakat selama berabad-abad memaksakan heteronormativitas atau norma-norma orientasi s3ksual hetero sebagai satu-satunya kebenaran, tidak heran orientasi s3ksual homo dan lainnya, dianggap menyimpang, abnormal, dan tidak wajar. Bahkan, tidak sedikit orang menstigma mereka sebagai pendosa, terlaknat, penderita penyimpangan s3ksual, dan penyakit turunan menular. Walaupun demikian, ditemukan juga sebagian kecil masyarakat memandang homo sebagai normal dan wajar, bahkan cenderung menganggap “sakral”, seperti kelompok bissu di Sulawesi Selatan; kelompok warok dalam tradisi kesenian reog di Ponorogo Jawa Timur.

Selain itu, interpretasi agama, termasuk tafsir keislaman pun sangat dihegemoni oleh heteronormativitas, yaitu ideologi yang mengharuskan manusia berpasangan secara lawan jenis; dan harus tunduk pada aturan heteros3ksualitas yang menggariskan tujuan perkawinan adalah semata-mata untuk prokreasi atau menghasilkan keturunan. Heteronormativitas memandang s3ksualitas yang wajar, normal, baik, natural, dan ideal adalah heteros3ksual, marital, reproduktif, dan nonkomersial. Sebaliknya, homos3ksual: gay atau lesbi, dan prostitusi dipandang immoral, tidak religius, haram, penyakit sosial, menyalahi kodrat, dan bahkan dituduh sekutu setan.

Perubahan sikap masyarakat terjadi sejak tahun 1970, ketika APA (American Psychiatric Association) menjelaskan hasil penelitian bahwa homo dan orientasi s3ksual lain bukan hal yang abnormal, bukan penyimpangan psikologis, juga bukan penyakit. Selanjutnya, pada 1974 APA mencabut homo dari daftar penyakit jiwa. Ketetapan ini diadopsi badan internasional WHO dan diikuti Departemen Kesehatan RI pada 1983.

Sejak itu, homo diakui sebagai suatu bentuk orientasi s3ksual dan hak-hak asasi kaum homo dinyatakan dalam berbagai dokumen HAM: internasional, regional, dan nasional. Rancangan Aksi Nasional HAM Indonesia 2004-2009 dengan tegas menyebutkan LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bis3ksual, Transgender atau Trans3ksual, Inters3ks, dan Queer) sebagai kelompok yang harus dilindungi negara. Bahkan, dokumen internasional HAM, The Yogyakarta Principles yang disepakati 25 negara pada 2007 di Yogyakarta menegaskan perlindungan HAM untuk kaum LGBTIQ.

Dokumen HAM tersebut, antara lain, menyebutkan: “Semua manusia terlahir merdeka dan sejajar dalam martabat dan hakhaknya. Semua manusia memiliki sifat universal, saling bergantung, tak dapat dibagi dan saling berhubungan. Orientasi s3ksual dan identitas gender bersifat menyatu dengan martabat manusia dan kemanusiaan sehingga tidak boleh menjadi dasar bagi adanya perlakuan diskriminasi dan kekerasan.”

Hukum Islam tidak bicara soal orientasi s3ksual, melainkan bicara soal perilaku s3ksual. Mengapa? Karena hukum hanya menyentuh hal-hal yang dapat dipilih manusia secara bebas. Orientasi s3ksual adalah kodrat, sementara perilaku s3ksual adalah pilihan. Hukum Islam selalu tertuju kepada perbuatan yang dikerjakan manusia dengan pilihan bebas, bukan sesuatu yang bersifat kodrati di mana manusia tidak dapat memilih.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact