Ibadah Perempuan - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Ibadah Perempuan

Ibadah Perempuan

Ibadah Perempuan




Jika s3ksualitas tubuh perempuan sudah dikendalikan sedemikian rupa oleh penetapan-penetapan yang sangat bias, maka dalam persoalan ibadah pun tidak jauh berbeda. Kebanyakan hadits yang berbicara tentang kesalehan perempuan selalu diidentikkan dengan tuntutan untuk mengorbankan haknya apabila dihadapkan dengan hak pihak lain. Kesalehan perempuan yang sudah menikah dalam hadits itu digambarkan sebagai bentuk ketaatan dan kemampuannya dalam menyenangkan suami di segala waktu. Sebenarnya menyenangkan suaminya dapat menjadi lebih penting daripada menyenangkan Tuhan. Dengan kata lain orang dapat berkata bahwa perempuan muslim tidak dapat menyenangkan Allah kecuali dengan cara menyenangkan suaminya.

Para ahli hukum CRLO, dan sebenarnya ahli hukum lain pada masa modern, menegaskan bahwa seorang isteri dituntut untuk mematuhi sua minya selama perintah suaminya itu bisa dibenarkan. Biasanya, hal tersebut berarti bahwa seorang isteri harus mematuhi suaminya jika ia memerintahkannya untuk tidak meninggalkan rumah, tidak bekerja di luar rumah, tidak mengunjungi teman-temannya, atau tidak mengenakan gaun tidur neneknya di kamar tidur. Dengan kata lain, seorang isteri harus me-matuhi suaminya dalam semua persoalan duniawi. Jika seorang suami me-ngajak isterinya ke tempat tidur, ia harus segara melayaninya. Jika seorang isteri berniat puasa, di luar bulan Ramadan, ia harus mendapat izin dari suaminya. Biasanya, para ahli hukum ini mengutip ayat Al Quran yang melegitimasi kedudukan laki-laki sebagai qawwamun bagi perempuan (Surah AnNisaa ayat 34). Biasanya, mereka yang setuju dengan CRLO menegas-kan bahwa ayat tersebut menjadi bukti tambahan bahwa seorang suami berhak menyuruh dan mendisiplinkan isterinya.


Meskipun demikian, diskursus Alquran tidak memainkan peran utama dalam penetapan-penetapan tentang ketaatan salah satu pasangan. Peran tersebut dimainkan oleh hadis yang dinisbatkan kepada Nabi; yang paling populer adalah hadis yang menyatakan bahwa Nabi pernah bersabda: "Seseorang tidak dibenarkan untuk sujud kepada siapa pun. Tapi sekiranya saya harus menyuruh seseorang untuk bersujud kepada seseorang lainnya saya akan menyuruh seorang isteri bersujud kepada suaminya karena begitu besarnya hak suami terhadap isterinya.” Hadis tersebut diriwayatkan dalam berbagai versi dan melalui berbagai rantai periwayatan oleh Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad ibn Hanbal dalam Musnadnya, al-Nasa'i, dan Ibn Hibban. Dalam versi lain, Anas ibn Malik meriwayatkan bahwa Nabi pernah bersabda, "Tidak ada seorang manusia pun yang boleh bersujud kepada sesamanya, dan jika seorang manusia diperbolehkan bersujud kepada sesamanya, saya akan menyuruh seorang isteri bersujud kepada suaminya karena begitu besarnya hak seorang suami terhadap isterinya. Demi Allah, jika seorang isteri menjilat bisul yang tumbuh di sekujur tubuh suaminya, dari ujung kaki hingga ujung rambut, maka hal itu masih belum dianggap cukup sebagai pemenuhan kewajibannya kepada suaminya.”

Menurut ulama hadis, derajat autentisitas hadis-hadit tersebut di atas beragam, mulai dari yang dha'if (lemah) hingga hasan gharib (baik). Semuanya adalah hadis ahad (hadis yang diriwayatkan dari rantai periwayatan tunggal), yang belum mencapai derajat tawatur (hadis yang diriwayatkan dari beberapa rantai periwayatan). Yang penting dicatat adalah bahwa hadis-hadis tersebut memberi pengaruh yang melebihi hadis-hadis lain yang menetapkan kewajiban hukum yang spesifik. Hadits-hadits tersebut menjelaskan sebuah prinsip mendasar yang mungkin dapat berdampak terhadap pola hubungan pernikahan dan relasi gender. Sementara praktik bersujud secara fisik kepada suami tidak diperkenankan, substansi moral dari sikap bersujud benar-benar diberlakukan atas dasar hadis-hadis semacam itu. Dampak nyata dari hadis-hadis tersebut adalah bahwa seorang istri mempunyai kewajiban yang sangat besar terhadap laki-laki yang menjadi suaminya, semata karena posisi laki-laki tersebut sebagai suaminya. Seorang suami berhak mendapat penghormatan dan pelayanan dari istrinya. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa berdasarkan hadis-hadis tersebut, seorang istri ditakdirkan menjalani kehidupan sebagai pelayan setia suaminya. Jika memang diperlukan, ia harus melayani kebu-tuhan s3ksual suaminya di atas unta sekalipun, dan menjilati bisul yang tumbuh di sekujur tubuh suaminya.

Dalam hadis-hadis tentang kepatuhan kepada suami, kita mengetahui adanya kaitan yang sama antara suami dan simbol Ketuhanan, sampaisampai sejumlah malaikat di surga ikut marah karena nafsu s3ks laki-laki yang dikecewakan. Hal-hal semacam ini hanya akan memunculkan pertanyaan: faktor apa yang menyebabkan dorongan s3ksual laki-laki menjadi sedemikian penting bagi para malaikat di surga? Apakah hal tersebut juga mencakup semua bentuk kenikmatan laki-laki atau hanya kenikmatan s3ksual saja? Bagaimana seandainya kenikmatan laki-laki iru termasuk menyusu di payudara isterinya atau menikmati gairah s3ks dengan cara diikat dan dipukul oleh isterinya? Apakah dorongan s3ksual laki-raki, apa pun bentuknya dan meskipun mengganggu emosi perempuan, tetap membangkitkan perhatian malaikat di surga? Dari konteks dan strukturnya, hadis-hadis semacam itu patut dicurigai. Sangat tidak mungkin Nabi akan membahas persoalan teologi Islam dengan cara yang sangat tidak sistematis dan sembarangan. Lebih jauh lagi, Alquran cukup waspada dalam menetapkan kedaulatan Tuhan yang unik, padu, dan mutlak. Penegasan ini membentuk landasan bagi ajaran Islam yang menyebutkan bahwa ketundukan kepada Tuhan berarti menolak ketundukan kepada selain-Nya. Kon-sekuensinya adalah bahwa hadis apa pun yang menetapkan keterkaitan antara status Nabi, atau kesenangan Tuhan, dan status atau kesenangan manusia jelas mencurigakan. Bagaimanapun, adalah masuk akal untuk mengklaim bahwa jika sebuah hadis mengandung dampak teologis, moral, dan sosial yang serius, hadis tersebut harus memenuhi standar pembuktian yang ketat sebelum dijadikan sumber penetapan. Bahkan, jika sebuah hadis dicurigai karena kejanggalan konteks dan strukturnya, untuk menyebutkan satu dari beberapa alasan, maka autentisitasnya harus dicurigai, dan bukti-bukti yang mendukung autentisitas hadis tersebut harus meyakinkan.

Mengenai hadis-hadis tentang bersujud dan taat kepada suami, buktibukti menunjukkan bahwa hadis-hadis tersebut tidak bisa dipercaya karena kita tidak dapat menegaskan secara meyakinkan bahwa Nabi telah memainkan peranan penting dalam proses kepengarangan yang melahirkan hadis-hadis tersebut.Bagi pihak tertentu, hadis-hadis tersebut bertentangan dengan gagasan teologis tentang kedaulatan Tuhan dan Kehendak-Tuhan yang bersifat mutlak. Di samping itu, hadis-hadis tersebut tidak selaras dengan diskursus Alquran tentang kehidupan pemikahan yang bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang penuh cinta dan kasih sayang. Selain itu, hadis-hadis tersebut tidak sejalan dengan keseluruhan riwayat yang menggambarkan perilaku Nabi terhadap isieri-isterinya.

Hadits di atas serta hadits-hadits lain yang merendahkan perempuan perlu dikaji secara lebih sungguh-sungguh. Sebab hadits tersebut tidak saja merendahkan perempuan, tetapi juga merendahkan laki-laki. Ciri riwayat yang sering kali sangat detail dan memperlihatkan kebencian itu membuktikan bahwa riwayat-riwayat tersebut lahir dari konteks dinamika sosial yang sangat panas. Pemilihan kata dan gayanya tampak sengaja dirancang untuk menekan, menentang dan mengganggu kelas atau kelompok sosial tertentu.Dengan membangkitkan gambaran tentang perlakuan kasar secara s3ksual, riwayat-riwayat tersebut tampaknya melukiskan keputusasaan sistem patriarki. Riwayat-riwayat tersebut mengungkapkan penyimpangan s3ksual tertentu yang digambarkan dengan perempuan yang dengan pasrah menjilati bisul suaminya atau bersegera memenuhi hasrat suaminya dalam kondisi yang paling janggal sekalipun. Singkatnya, bagi mereka yang hidup pada masa modern ini, hadis-hadis tersebut tampak sebagai sebuah proyeksi erotisme laki-laki yang hendak memuaskan khayalan yang tak bermoral.

Sedikit melebar dari persoalan tentang autentisitas teknis yang berfokus pada rantai periwayatan, hadits-hadits itu menunjukkan adanya sebuah dinamika dan proses historis yang sangat mungkin dinegosiasikan. Pada kenyataannya, sangat mungkin terjadi sejauh menyangkut mayoritas hadis yang menyebutkan peran perempuan dalam masyarakat, peran Nabi dalam proses kepengarangannya itu bersifat minimal. Jika kita menggunakan keyakinan berbasis iman bahwa Nabi tidak diutus Tuhan untuk menegaskan dan mengesahkan strukur kekuasaan konservarif dan opresif, hadishadis yang menegaskan hegemoni patriarki harus melewati tahap penyelidikan yang ketat. Namun setelah menerapkan standar penyelidikan yang ketat terhadap hadis-hadis itu, akan terlihat bahwa banyak sekali kepentingan patriarkis yang menyebarkan, mendukung, dan membesar-besarkan jenis periwayatan semacam ini. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa suara Nabi dalam proses kepengarangan di balik hadis-hadis tersebut benar-benar ditenggelamkan dan dibungkam.[19]

____
Catatan Kaki:

[19] El Fadl, Atas Nama Tuhan, 367.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact