Islam dan Homoseksualitas: Membaca Ulang Pemahaman Islam (1) - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Islam dan Homoseksualitas: Membaca Ulang Pemahaman Islam (1)

Islam dan Homoseksualitas: Membaca Ulang Pemahaman Islam (1)

Islam dan Homoseksualitas: Membaca Ulang Pemahaman Islam
oleh Siti Musdah Mulia
(Guru Besar di UIN – Jakarta) 


Abstrak: Interpretasi tentang h0mo dalam wacana Islam selalu dikaitkan dengan kisah Luth. Umumnya, umat Islam menganggap pemahaman itu sudah mutlak. Sedangkan inti ajaran Islam juga menekankan bahwa semua bentuk perbedaan manusia, seperti warna kulit, ras, bahasa, jenis kelamin biologis maupun sosial (gender), orientasi s3ksual, dan bahkan agama dimaksudkan agar manusia saling mengenal satu sama lain sehingga terbangun saling pengertian. Kajian kritis akan ayat-ayat Alquran, hadis dan fiqh mengungkap bahwa h0mos3ksual tidak harus dianggap berdosa dalam Islam. Selain itu, penemuan sains dan teknologi membawa kepada sejumlah pertanyaan baru tentang kerancuan pemahaman gender, orientasi s3ksual dan perilaku s3ksual pada penulisan hadis dan fiqh. Kurangnya pengetahuan akan hal ini jugalah yang seringkali menyebabkan h0mos3ksual dikecam laknat. 
Kata kunci: H0mos3ksual, gender, orientasi s3ksual, perilaku s3ksual, Islam, fiqh, dosa.

Pentingnya Manusia dalam Ajaran Islam 


Inti ajaran Islam adalah tauhid. Tauhid menjelaskan hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah SWT. Dialah pencipta semua makhluk. Semua makhluk, termasuk manusia, berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Islam sangat vokal menekankan pentingnya penghormatan kepada manusia, dan itu terlihat dari ajarannya yang sangat akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Islam juga memandang manusia secara optimis dan positif,, yakni sebagai makhluk paling mulia dan bermartabat (Q.S, al-Baqarah, 2:30 dan alIsra`, 17:70). Islam—sesuai dengan namanya yang bermakna damai dan selamat—tidak mengizinkan perilaku kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi terhadap manusia dalam bentuk dan tujuan apa pun.

Manusia memiliki tempat amat sentral dalam ajaran Islam, yakni sebagai khalifah fi al-ardh (wakil Tuhan di muka bumi). Karena itu, manusia dengan seluruh pengalamannya merupakan kunci utama dalam memahami ajaran Islam. Semua manusia memiliki nilai kemanusiaan yang sama. Tidak ada yang membedakan di antara manusia kecuali prestasi takwanya. Bicara soal takwa, maka hanya Dia semata yang berhak menilai, bukan manusia. Semua bentuk perbedaan dalam diri manusia, seperti warna kulit, ras, bahasa, jenis kelamin biologis maupun sosial (gender), orientasi s3ksual, dan bahkan agama dimaksudkan agar manusia saling mengenal satu sama lain sehingga terbangun saling pengertian (mutual understanding), dan pada gilirannya mendorong manusia berinteraksi dan bekerjasama mewujudkan masyarakat beradab "baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur" (negara yang sejahtera di bawah ridha Tuhan).
Apa Itu H0mos3ksualitas?

Sebelum masuk kepada pembicaraan tentang h0mos3ksualitas (seterusnya ditulis h0mo), ada baiknya dijelaskan terlebih dahulu apa itu s3ksualitas. S3ksualitas mengandung makna yang sangat luas karena mencakup aspek kehidupan yang menyeluruh, terkait dengan jenis kelamin biologis maupun sosial (gender), orientasi s3ksual, identitas gender, dan perilaku s3ksual. S3ksualitas adalah sebuah proses sosial yang menciptakan dan mengarahkan hasrat atau berahi manusia (the socially constructed expression of erotic desire), dan dalam realitas sosial, s3ksualitas dipengaruhi oleh interaksi faktor-faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, agama dan spiritual. S3ksualitas sejatinya merupakan hal yang positif, selalu berhubungan dengan jati diri seseorang, dan juga kejujuran seseorang terhadap dirinya. Sayangnya, masyarakat umumnya masih melihat s3ksualitas sebagai hal yang negatif, bahkan menjijikkan sehingga tidak pantas atau tabu dibicarakan. 
Studi tentang s3ksualitas memperkenalkan tiga terminologi penting menyangkut s3ksualitas manusia, yaitu: Identitas gender, orientasi s3ksual, dan perilaku s3ksual. Kerancuan dalam memahami ketiga istilah ini akan membawa kepada kesimpulan yang keliru.

Apa itu identitas gender? Sebelumnya, penting sekali memahami terlebih dahulu perbedaan antara jenis kelamin biologis (s3ks) dan jenis kelamin sosial (gender). Jenis kelamin biologis dibedakan berdasarkan faktor-faktor biologis hormonal dan patologis sehingga muncul dikotomi laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin laki-laki ditandai dengan adanya penis, testis, dan sperma, sedangkan perempuan mempunyai vagina, payudara, ovum, dan rahim. Perbedaan biologis tersebut bersifat kodrati, dan tidak satupun yang dapat mengubahnya. Boleh jadi, dewasa ini akibat kemajuan teknologi, seseorang dimungkinkan mengubah alat kelaminnya, tetapi betapapun perubahan itu tidak sampai mengubah fungsinya.

Berbeda dengan jenis kelamin biologis, jenis kelamin sosial atau gender mengacu kepada seperangkat sifat, peran, tanggung jawab, fungsi, hak, dan perilaku yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan akibat bentukan budaya atau pengaruh lingkungan masyarakat. Di masyarakat, laki-laki selalu digambarkan dengan sifat-sifat maskulin, seperti perkasa, berani, rasional, keras, dan tegar. Sebaliknya, perempuan digambarkan dengan sifat-sifat feminin, seperti lembut, pemalu, penakut, emosional, rapuh, dan penyayang. Timbullah dikotomi maskulin dan feminin. Fatalnya, sifat-sifat maskulin selalu dinilai lebih baik daripada sifat-sifat feminin. Lebih fatal lagi, bahwa maskulinitas dan femininitas tersebut dianggap sebagai hal yang kodrati, padahal sesungguhnya merupakan hasil konstruksi sosial. Teori psikologi menjelaskan, setiap manusia dalam dirinya memiliki unsur-unsur maskulinitas dan femininitas. Kecenderungan maskulinitas dan femininitas seseorang sangat dipengaruhi oleh pola asuh di masa kecil, nilai-nilai tradisi yang dianut di masyarakat, sistem pendidikan di sekolah formal, dan interpretasi ajaran agama. Dengan ungkapan lain, gender bukan kodrat, melainkan bentukan sosial. Buktinya, dalam realitas sosial ditemukan tidak sedikit laki-laki memiliki sifat-sifat feminin, seperti penakut, emosional, pemalu, lemah, dan lembut. Sebaliknya, cukup banyak perempuan memiliki sifat-sifat maskulin, seperti kuat, berani, perkasa, pantang menyerah, rasional, dan tegar. Dapat pula disimpulkan, konsep gender tidak statis dan tidak seragam, melainkan dapat berubah seiring dengan perubahan waktu dan tempat (Mulia 2007). Namun, perlu juga dicatat bahwa meskipun seseorang dapat dibentuk dan diajarkan menjadi feminin dan maskulin, tetapi tidak selalu dapat menerima bentukan dan ajaran itu mentah-mentah.

Dengan demikian, identitas gender mengacu kepada pengalaman pribadi yang intens dalam setiap diri manusia berkaitan dengan gendernya, dan tidak berhubungan dengan jenis kelamin biologisnya. Sejauh ini dikenal tiga varian identitas gender:

Perempuan dengan femininitasnya; laki-laki dengan maskulinitasnya; dan transgender yang memiliki keduanya. Transgender mempunyai dua varian: Laki-laki ke perempuan dan perempuan ke laki-laki. Jenis pertama disebut juga waria atau banci atau calabai dalam bahasa Bugis, sedang jenis kedua dinamakan tomboi atau calalai dalam bahasa Bugis. Menurut Dédé Oetomo, banci atau waria tidak merujuk sama sekali pada orientasi s3ksual. Istilah ini merupakan label negatif untuk menunjuk perilaku dan identitas gender yang gagal, karena itu orang tua akan menyebut anaknya banci bila dia tidak bersikap wajar sesuai identitas gendernya (Oetomo 1996, 261).

Lalu, apa itu orientasi s3ksual? Studi tentang orientasi s3ksual menyimpulkan ada banyak varian, antara lain: Heteros3ksual (seterusnya ditulis hetero), h0mos3ksual, bis3ksual, as3ksual. Orientasi s3ksual adalah kapasitas yang dimiliki setiap manusia berkaitan dengan ketertarikan emosi, rasa sayang, dan hubungan s3ksual. Disebut hetero jika orientasi s3ksualnya tertuju pada lain jenis kelamin. Berikutnya, dinamai h0mo jika orientasi s3ksualnya sesama jenis kelamin; sesama laki-laki dinamakan gay, sesama perempuan disebut lesbian, dan sesama waria. Bis3ksual, jika orientasi s3ksualnya ganda: Tertarik pada sesama jenis sekaligus juga pada lawan jenis. Sebaliknya, as3ksual tidak tertarik pada keduanya, baik sesama maupun lawan jenis. Khusus untuk waria, orientasi s3ksual mereka sangat bervariasi. Sebagian besar tertarik kepada laki-laki, sebagian lain tertarik kepada perempuan, dan sebagian lain lagi tertarik kepada sesama waria. Yang terakhir itulah yang dikategorikan sebagai h0mo di lingkungan waria (Foucault 1986; Adib, dkk. 2005).

Orientasi s3ksual manusia bersifat kodrati, tidak dapat diubah. Tidak seorang pun dapat memilih dilahirkan dengan orientasi s3ksual tertentu. Menjadi hetero atau h0mo atau orientasi s3ksual lainnya bukanlah sebuah pilihan, juga bukan karena akibat konstruksi sosial. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan potensi kecenderungan orientasi s3ksual seseorang menjadi aktual setelah mendapat pengaruh lingkungan. Misalnya, potensi h0mo dalam diri seseorang menjadi dominan karena desakan faktor lingkungan tertentu, seperti pesantren. Menarik dicatat di sini bahwa di lingkungan pesantren dikenal beberapa istilah berkaitan dengan h0mo, baik gay maupun lesbi, seperti mairil, sihaq, atau sèmpèt. Pertanyaannya, mengapa masyarakat dapat menerima hetero, tetapi menolak h0mo atau jenis orientasi s3ksual lainnya di luar hetero? Jawabnya sederhana, selama berabad-abad masyarakat memandang hetero sebagai suatu kebenaran, normal dan alamiah. Sebaliknya, semua jenis orientasi s3ksual non-hetero, khususnya h0mo sebagai abnormal, mental disorder (gangguan jiwa) atau mental illness (penyakit jiwa). Akibatnya, selama berabad-abad masyarakat melanggengkan sikap dan nilai-nilai h0mofobia (antih0mo).

Selanjutnya, apa itu perilaku s3ksual? Perilaku s3ksual sangat dipengaruhi oleh konstruksi sosial, tidak bersifat kodrati, dan tentu saja dapat dipelajari. Perilaku s3ksual adalah cara seseorang mengekspresikan hubungan s3ksualnya. Terdapat banyak varian, di antaranya oral s3ks dan anal s3ks (disebut juga sodomi atau liwath dalam bahasa Arab). Sodomi atau liwath adalah memasukkan alat kelamin laki-laki ke dalam dubur, baik dubur sesama lelaki maupun dubur perempuan.

Karena kekurangtahuan, masyarakat umumnya mengidentikkan h0mo dengan waria. Jelas berbeda. Waria berhubungan dengan identitas gender, sedang h0mo berkaitan dengan orientasi s3ksual. Sebagian besar waria justru memiliki orientasi s3ksual “hetero“. Kekeliruan lain, umumnya masyarakat mengira setiap h0mo laki-laki (gay) pasti melakukan sodomi dalam pemuasan nafsu biologisnya. Akibatnya, h0mo sering diidentikkan dengan sodomi. Ini sangat keliru. H0mo adalah jenis orientasi s3ksual, sedangkan sodomi atau liwath adalah bentuk perilaku s3ksual. Sejumlah kajian menjelaskan tidak semua laki-laki h0mo melakukan sodomi. Bahkan, sebagian h0mo (gay dan lesbi) mengaku tidak mengekspresikan perilaku s3ksual dalam bentuk anal s3ks. Sebaliknya, sejumlah kasus mengungkapkan tidak sedikit lakilaki hetero melakukan sodomi terhadap perempuan dan anak-anak (Alimi 2004; Sulistyowati 2007). Jadi jelaslah bahwa h0mo berkaitan dengan orientasi s3ksual seseorang yang bersifat kodrati, bukan perilaku s3ksual, bukan pula identitas gender yang keduanya bersifat bentukan sosial.

Masalahnya, konstruksi sosial mengenai s3ksualitas sangat dipengaruhi oleh relasi gender yang timpang. Mengapa? Relasi gender masih didominasi ideologi dan sistem nilai patriarkipaternalistik yang membenarkan laki-laki menguasai, membelenggu, dan mengontrol kehidupan perempuan dalam semua bidang kehidupan: Sosial, hukum, politik, moral, dan agama. Sistem ini pada ujungnya melahirkan pembagian peran gender yang diskriminatif antara laki-laki dan perempuan. Karena pengaruh patriarki, s3ksualitas selalu dipahami dalam konteks maskulinitas. Laki-laki selalu harus dalam posisi subyek, dan perempuan hanyalah obyek, termasuk obyek s3ksual. Inilah yang membuat masyarakat mengkonstruksikan laki-laki harus dominan, kuat, aktif, dan agresif. Sebaliknya, perempuan harus mengalah, lemah, pasif, dan pasrah. Dalam realitas sosial, pandangan stereotip ini melegitimasi laki-laki untuk melakukan dominasi, pelecehan, perkosaan, dan kekerasan s3ksual.

Selain dipengaruhi pandangan patriarki yang bias gender, pandangan tentang s3ksualitas manusia juga sangat diwarnai oleh paradigma orientasi s3ksual hetero. Akibatnya, terjadi hegemoni heteronormativitas dalam konsep s3ksualitas. Konstruksi sosial masyarakat selama berabad-abad memaksakan heteronormativitas atau norma-norma orientasi s3ksual hetero sebagai satu-satunya kebenaran. Orientasi s3ksual h0mo dan lainnya, dianggap sebagai suatu penyimpangan, abnormal, dan tidak wajar. Bahkan, tidak sedikit menstigma kaum h0mo sebagai pendosa, terlaknat, penderita penyimpangan s3ksual, dan penyakit turunan menular. Walaupun demikian, ditemukan juga sebagian kecil masyarakat memandang h0mo sebagai hal yang normal dan wajar. Bahkan, sebagian memandang kaum h0mo, seperti kelompok bissu (penata upacara adat) di Sulawesi Selatan dan kelompok warok dalam tradisi kesenian reyog di Ponorogo sebagai “orang sakral.”

Barulah kemudian setelah sejumlah penemuan ilmiah, terutama oleh APA (American Psychiatric Association) tahun 1970 semakin menguatkan teori bahwa h0mo bukanlah suatu penyimpangan psikologis, juga bukan penyakit, dan sesuatu yang abnormal sebagaimana dipahami sebagian besar masyarakat selama ini. Selanjutnya, pada 1974 lembaga APA mencabut h0mo dari daftar penyakit gangguan jiwa. Ketetapan ini kemudian diadopsi badan internasional WHO. Departemen Kesehatan R.I. melakukan hal serupa pada 1983. Sejak itu, h0mo diakui sebagai suatu bentuk orientasi s3ksual, seperti halnya hetero. Berikutnya, hak-hak asasi mereka dinyatakan dalam berbagai dokumen HAM: Internasional, regional dan nasional. Salah satunya, Rancangan Aksi Nasional HAM Indonesia 2004-2009 dengan tegas menyebutkan LGBT sebagai kelompok yang harus dilindungi negara. Bahkan, dokumen internasional HAM, The Yogyakarta Principles yang disepakati 25 negara pada 2006 di Yogyakarta, secara kuat menegaskan perlindungan HAM bukan hanya kepada kelompok h0mo, melainkan juga semua kelompok LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bis3ksual, Transgender atau Trans3ksual, Inters3ks, dan Queer). Dokumen Yogyakarta memuat prinsip-prinsip pemberlakuan hukum internasional atas hak-hak asasi manusia berkaitan dengan orientasi s3ksual dan identitas gender.

Dokumen tersebut dapat dibaca sebagai indikasi menguatnya perlakuan diskriminatif dan tidak adil terhadap LGBTIQ. Mereka mengalami berbagai bentuk kekerasan, pelecehan, diskriminasi, pengucilan, dan stigmatisasi karena alasan orientasi s3ksual dan identitas gender. Dokumen itu, antara lain menyebutkan: “Semua manusia terlahir merdeka dan sejajar dalam martabat dan hakhaknya. Semua manusia memiliki sifat universal, saling bergantung, tak dapat dibagi dan saling berhubungan. Orientasi s3ksual dan identitas gender bersifat menyatu dengan martabat manusia dan kemanusiaan sehingga tidak boleh menjadi dasar bagi adanya diskriminasi dan kekerasan“.[1] 
Adakah Islam Berbicara Soal H0mo?

Berkaitan dengan identitas gender, Alquran hanya menyebut dua jenis identitas, yakni laki-laki dan perempuan (ar-rajul dan al-mar’ah). Sementara, literatur fiqh menyebut empat varian, yaitu: Perempuan (al-rajul), laki-laki (al-mar’ah), waria atau banci (alkhunsa),[2] laki-laki yang keperempuanan (al-mukhannits)[3] atau perempuan yang kelaki-lakian (al-mukhannats).[4]  Adapun istilah untuk perilaku s3ksual ditemukan kata liwath yang berarti sodomi. Menarik dicatat, bahwa kajian fiqh tidak mengenal istilah untuk orientasi s3ksual, baik hetero maupun h0mo serta lainnya. Karena tidak ditemukan istilah bagi orientasi s3ksual dalam literatur fiqh, tidak heran setiap kali pembahasan soal h0mo dalam fiqh selalu menggunakan kata al-khuns (waria atau banci). Jelas sekali bahwa Bahasa Arab tidak mengenal kosa kata untuk orientasi s3ksual h0mo.

Lalu, bagaimana mungkin Islam yang lahir di Arab mengutuk h0mo? H0mo berkaitan dengan orientasi s3ksual, sedangkan khunsa berhubungan dengan identitas gender. Penelusuran terhadap kitabkitab fiqh menyimpulkan bahwa yang dikutuk sesungguhnya adalah perilaku s3ksual dalam bentuk sodomi atau liwath.

Para fukaha berbeda pendapat soal hukuman terhadap pelaku liwath. Imam Syafi’i menegaskan bahwa pelaku liwath dapat dikenai hukuman hanya jika dilakukan di depan publik. Selanjutnya, al-Auza”i dan Abu Yusuf menyamakan hukuman sodomi dengan zina. Fakta sejarah tidak menjelaskan adanya kasus penghukuman atas praktek sodomi pada masa Nabi. Eksekusi pertama terhadap perilaku sodomi justru terjadi pasca Nabi. Misalnya, pada masa Abu Bakar terjadi hukuman mati terhadap pasangan pelaku sodomi. Lalu, masa khalifah Umar bin Khattab, beliau menginstruksikan agar seorang pelaku sodomi dibakar hidup-hidup. Namun, karena mendapat kritik keras, lalu hukumannya dirajam.

Secara teologis, penolakan sebagian besar masyarakat Islam terhadap h0mos3ksual dinisbatkan pada ayat-ayat Alquran yang berkisah tetang Nabi Luth as., di antaranya, , Q.S. al-Naml, 27: 54-58; Hud, 11:77-83; al-A’raf, 7: 80-81; al-Syu’ara, 26:160-175. Di samping alQur’an, ditemukan juga sejumlah hadis Nabi, di antaranya, hadis yang diriwayatkan oleh Tabrani dan al-Baihaqi, Ibnu Abbas, Ahmad, Abu Dawud, Muslim, dan Tirmizi.[5]

Paling tidak, ada sembilan petunjuk yang dapat disimpulkan dari sejumlah ayat dan hadis tersebut. Pertama, Luth adalah Nabi dan Rasul yang diutus Allah SWT. sebagai pembawa risalah tauhid sebagaimana nabi dan rasul lainnya. Kedua, Nabi Luth diutus kepada suatu kaum untuk mengajarkan manusia cara berketuhanan dan berkemanusiaan yang benar. Ketiga, umat Luth melakukan kezaliman, ketidakadilan, dan kedurhakaan sehingga Allah murka dan menimpakan bencana, azab, dan malapetaka yang dahsyat. Keempat, salah satu bentuk pelanggaran kaum Luth adalah mengekspresikan perilaku s3ksual terlarang menurut agama: Mengandung unsur kekerasan, pemaksaan, dan penganiayaan dalam bentuk sodomi. Alquran menggunakan empat kosa kata yang tidak secara langsung dapat diartikan liwath atau sodomi, yaitu alfahisyah (al-A’raf, 7:80); al-sayyiat (Hud, 11:78); al-khabaits (al-Anbiyaa, 21: 74) dan al-munkar (al-Ankabuut, 29:21)Kelima, ada kesan bahwa pengikut Luth adalah bis3ksual. Sebab, dikatakan kaum laki-laki mendatangi sesama jenis dan berpaling dari isteri-isteri mereka. Umat Luth mengekspresikan perilaku s3ksual anals3ks (sodomi atau liwath) dengan cara yang amat keji dan tercela. Ada indikasi kuat telah terjadi perilaku kekerasan dan eksploitasi berbasis s3ksual. Keenam, Allah juga menimpakan azab pedih terhadap isteri Luth, padahal tidak ada informasi dia lesbian atau mengekspresikan perilaku s3ksual terlarang. Hal itu menunjukkan bahwa murka Allah kepadanya bukan karena faktor h0mo. Ketujuh, laknat dan azab pedih dari Allah bukan hanya monopoli kaum Luth yang h0mo, melainkan juga mengenai umat nabi-nabi lainnya yang bukan h0mo (tidak ada informasi bahwa mereka h0mo), seperti umat Nabi Nuh, Hud, Syuaib, Saleh, dan Musa. Bahkan, azab bagi umat Nuh jauh lebih dahsyat sehingga peristiwa itu disebut kiamat pertama. Artinya, Allah selalu murka kepada umat yang berbuat keji dan zalim serta melampaui batas, tidak peduli dengan orientasi s3ksual dan identitas gender mereka. Kedelapan, meskipun dalam hadis, seperti hadis Ibnu Abbas, diperintahkan membunuh kaum h0mo, namun Alquran tidak menyebutkan perintah untuk mendiskreditkan kaum h0mo, apalagi membunuhnya. Kesembilan, Allah Maha Tahu siapa yang patut menerima azab-Nya dan siapa pula berhak mendapatkan rahmat dan karunia-Nya (al-Ankabuut, 29:21). Manusia, apa pun orientasi s3ksualnya, hanya dapat berfastabiqul khairat, berlomba berbuat kebajikan seoptimal mungkin.

Interpretasi tentang h0mo selalu dikaitkan dengan kisah Luth. Umumnya, umat Islam menganggap pemahaman itu sudah final dan mutlak, tidak dapat dipertanyakan lagi. Namun, kajian kritis akibat tuntutan dinamika masyarakat, serta penemuan sains dan teknologi membawa kepada sejumlah pertanyaan baru: Apakah pengikut Luth dilaknat hanya karena memiliki orientasi s3ksual h0mo yang tidak mungkin diingkarinya karena bersifat takdir?; atau apakah karena mereka mengekspresikan perilaku s3ksual terlarang? Lalu, apakah kaum h0mo yang tidak mengekspresikan perilaku s3ksual terlarang, yakni perilaku s3ksual yang mengandung unsur kekerasan, pemaksaan, eksploitasi dan membahayakan kesehatan juga tetap akan dilaknat?; apakah laknat Allah kepada kaum Luth yang h0mo lebih dahsyat daripada laknat Allah kepada umat Nabi Nuh yang bukan h0mo? Sementara, Alquran mengisahkan azab dan siksaan Allah kepada umat Nuh yang bukan h0mo (tidak ada informasi mereka h0mo) adalah paling dahsyat sehingga disebut kiamat pertama karena memusnahkan semua makhluk, kecuali sedikit pengikut Nuh. Selain itu, pertanyaan lain yang juga perlu dilontarkan adalah mengapa para ulama begitu antusias menceritakan kisah Luth sebagai dakwah antih0mo? Penulis jadi teringat pak guru di madrasah tsanawiyah (sekolah lanjutan tingkat pertama), mendramatisasi kisah ini di dalam kelas sehingga membuat beberapa murid menggigil ketakutan dan mimpi buruk. Belakangan penulis dapat info, ternyata dia seorang h0mo, persisnya gay.

Adalah suatu fakta yang terang benderang bahwa tafsir keagamaan sangat dihegemoni oleh heteronormativitas, yaitu ideologi yang mengharuskan manusia berpasangan dengan lawan jenis; harus tunduk pada aturan heteros3ksualitas yang menggariskan tujuan perkawinan semata-mata untuk prokreasi, menghasilkan keturunan. Akibat hegemoni heteronormativitas dalam fiqh, umumnya masyarakat Islam memandang s3ksualitas yang normal, baik, natural, dan ideal adalah heteros3ksual, marital, reproduktif, dan nonkomersial. Sebaliknya, h0mo dan orientasi s3ksual lainnya dipandang immoral, tidak relijius, haram, penyakit sosial, menyalahi kodrat, dan bahkan dituduh sekutu setan (Rubin 1984, 270). Dalam komunitas Muslim mainstream, penolakan terhadap h0mo dipandang mutlak, tidak dapat dipertanyakan lagi, sehingga setiap upaya mengkritisi pandangan Islam soal ini, apalagi mengubahnya dianggap perbuatan melawan hukum Islam, menentang syari’ah. Alasannya, sudah merupakan ijma’ (konsensus para ulama) bahwa h0mo adalah haram, pelakunya harus dihukum berat: Dibunuh, dirajam, atau bahkan dibakar. Titik!!!

Sejumlah pertanyaan penting muncul: Apakah umat Islam sekarang tidak boleh membaca ulang pandangan fuqaha (para ulama hukum Islam) terdahulu yang begitu kaku soal h0mo?; apakah tidak mungkin merumuskan kembali pandangan keislaman yang lebih akomodatif dan lebih humanis terhadap h0mo mengingat banyak hal telah berubah dalam realitas sosiologis sebagai akibat kemajuan peradaban manusia dan perkembangan yang pesat dalam sains dan teknologi?; apakah mustahil umat Islam sekarang memberikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak asasi terhadap kelompok h0mo yang tertindas akibat orientasi s3ksual dan identitas gendernya?; bukankah Islam mengklaim diri sebagai agama pembawa rahmat dan janji pembebasan bagi semua kelompok mustadh’afin (tertindas) sebagaimana telah diteladankan oleh Rasul pada masa awal perjuangannya?; bukankah Islam mengklaim diri sebagai agama penentang ketidakadilan dan semua bentuk kekerasan, pelecehan, diskriminasi, pengucilan, dan stigmatisasi terhadap siapa pun?; bukankah Islam mengajarkan pemeluknya mencintai dan mengasihi sesama manusia, bahkan juga mengasihi semua makhluk? 

Terus ya: Islam dan H0mos3ksualitas: Membaca Ulang Pemahaman Islam (2)


Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact