Kritik Terhadap Fatwa-Fatwa Misoginis - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Kritik Terhadap Fatwa-Fatwa Misoginis

Kritik Terhadap Fatwa-Fatwa Misoginis

Kririk Terhadap Fatwa-Fatwa Misoginis



Khaled M. Abou El Fadl sangat menentang praktik-praktik otoritarianisme dalam kajian hukum Islam. Oleh karena itu dia banyak melakukan analisis terhadap model-model penetapan hukum yang mengandung pelanggaran mendasar terhadap logika perwakilan khusus dan prasyarat keberwenangan seperti kejujuran, kesungguhan, kemenyeluruhan, pengendalian diri dan rasionalitas. Model-model itu penetapan itu menghasilkan sebuah dinamika yang tertutup dan perampasan integritas dan kemandirian teks dan Tuhan, dan biasanya melibatkan berbagai individu dan lembaga yang menggunakan Syari’ah untuk mengesahkan dan memberikan pembenaran terhadap peran mereka. Adapun penetapan yang banyak diangkat di sini adalah fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para ahli hukum yang mengklaim mewakili hukum Tuhan. Kebanyakan fatwa tersebut diambil dari Central for Scientific Research and Legal Opinions (CRLO), Lembaga Pengkajian Ilmiah dan Fatwa yang diberikan kepercayaan untuk mengeluarkan fatwa. Fatwa lainnya diambil dari pendapat hukum para ahli yang dikeluarkan dalam kapasitasnya sebagai pribadi. Fatwa tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang disodorkan kepada para ahli hukum tersebut yang berasal dari berbagai belahan dunia Islam ternasuk Mesir, Saudi Arabia, Suriah, Lebanon, Yordania, Uni Emirat Arab, Sudan, Aljazair, Maroko, Tunisia, Mauritania, Negeria, Pakistan dan Indonesia. Tema yang dibahas dalam kumpulan fatwa itu mencakup seluruh aspek hukum, tetapi El Fadl lebih berkonsentrasi pada persoalan hukum yang terkait dengan masalah perempuan. Pertimbangannya adalah karena luasnya dampak persoalan tersebut dalam masyarakat, disamping juga fatwa-fatwa tentang perempuan memungkinkan untuk dilakukan studi kasus yang sangat demonstratif tentang pembentukan diskursus otoriter.[14]


El Fadl banyak melakukan kritik terhadap CRLO dalam menetapkan hadits-hadits yang dijadikan sebagai sumber rujukan penetapan hukum. Bagaimanapun sikap kritis terhadap hadits memang harus dikembangkan sebab dogma Islam tidak menegaskan keabadaian hadits dan perlindungan Tuhan terhadap literatur hadits dari campur tanggan manusia. Sehingga dibutuhkan lebih banyak kehati-hatian dalam membaca teks-teks hadits terlebih lagi jika hadits tersebut bertentangan dengan spirit ajaran Al Qu’an sendiri. Termasuk dalam hal ini hadits-hadits yang dipergunakan CRLO dalam persolan perempuan nampaknya harus dilakukan pembacaan ulang dengan sikap penuh kehati-hatian agar tidak menghasilkan fatwa-fatwa yang timpang sehingga keluar dari prinsip dasar Islam itu sendiri. 

Adapun fatwa-fatwa tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:





___
Catatan Kaki:

[14] El Fadl, Atas Nama Tuhan, 252.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact