Membongkar yang Disembunyikan: Homoseksualitas dalam Islam (1) - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Membongkar yang Disembunyikan: Homoseksualitas dalam Islam (1)

Membongkar yang Disembunyikan: Homoseksualitas dalam Islam (1)

oleh AHMAD ZAINUL HAMDI
-Dosen dan Ketua Divisi Pendidikan dan Penelitian di GAYa NUSANTARA dan Centre for Marginalized Communities Studies (CMARs)

https://www.seksehat.id/2019/06/membongkar-yang-disembunyikan_7.html


ABSTRAK: Wacana keislaman klasik dipenuhi dengan doktrin yang mengutuk h0mos3ksualitas. Doktrin ini biasanya merujuk pada kisah Nabi Luth dalam al-Qur’an dan beberapa Hadits Nabi yang membicarakan tentang hukuman terhadap orang-orang yang melakukan hubungan s3ks sejenis. Akan tetapi, doktrin kutukan tersebut meninggalkan lubang besar karena ia semata-mata lahir dari purbasangka heteronormativitas dan pengetahuan s3ksualitas pada masa itu. Fiqh Islam yang berisi kutukan terhadap h0mos3ksualitas diformulasikan pada Abad ke-VIII/IX Masehi di mana ilmu pengetahuan masih belum sanggup memisahkan antara s3ks, orientasi s3ksual, perilaku s3ksual, dan identitas gender. Di samping itu, tidak ada satu pun data sejarah tentang penghukuman terhadap pelaku s3ks sejenis pada zaman Nabi Muhammad. Sekalipun hubungan s3ks sejenis mendapatkan larangan yang sangat keras dalam wacana keislaman, namun hal itu tidak selalu segaris dengan praktik di dalam komunitas Muslim. Mairil di lingkungan pesantren setidaknya bisa menjadi contoh bahwa kekakuan sebuah doktrin, yang biasanya dilegitimasi melalui praktik penafsiran tertentu, tetap dengan mudah bisa disiasati.


Kata Kunci: Luth, Sodom-Gomorah, Islam, h0mos3ksualitas, heteros3ksualitas, tafsir, mairil.

PENDAHULUAN

Mencari pembenaran terhadap hubungan s3ks sejenis dalam teksteks agama hampir seperti mencari jarum di laut. Teramat sulit! Wacana dominan dalam Islam dan Kristen, dua agama besar dunia misalnya, tegas-tegas mengutuk hubungan s3ks sejenis sebagai perilaku yang terlaknat dengan menyandarkan pada pelaknatan Tuhan atas Kaum Luth (Kisah Sodom-Gomorah).

Akan tetapi, pertanyaan awal yang bisa diajukan di sini adalah apakah agama, hanya karena sifat keilahiannya, merupakan fenomena yang hadir di luar sejarah ataukah ia juga merupakan fenomena historis yang bisa dibaca dari perspektif kesejarahan? Terkait dengan ini, bagaimana kita membaca teks-teks keagamaan, baik kitab suci maupun karya-karya ulama?

Penelaahan kitab suci (al-Qur’an) melahirkan satu kesan kuat bahwa manusia yang menjadi objek seruan Tuhan selalu berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Seruan ini bisa kita lacak pada berbagai aturan keagamaan yang hanya mengatur dua jenis kelamin tersebut mulai peribadatan (ritual) sampai pada aturan-aturan kehidupan, termasuk hubungan s3ksual. 

Tulisan ini hanya akan berbicara h0mos3ksualitas dari perspektif Islam, dan berangkat dari sebuah gairah untuk tahu, adakah nada-nada tersembunyi selain suara dominan tentang terkutuknya kaum h0mos3ks? Pertanyaan ini perlu diketengahkan dengan asumsi bahwa ajaran keislaman yang dipopulerkan oleh ulama hanyalah sebuah tafsir.

Asumsi ini dengan sendirinya mengakui adanya keterbukaan tafsir, bahwa setiap orang memiliki hak dan caranya sendiri dalam melakukan penafsiran karena kegiatan penafsiran sesungguhnya bukanlah mereproduksi makna, tapi memproduksi makna. Karena status kerja penafsiran sebagai produksi makna, maka horizon seorang penafsir yang hidup dalam penggalan sejarah, tempat, dan kepentingan tertentu, tidak mungkin untuk diabaikan.[1] Oleh karena itu, maka wacana keilmuan Islam tertentu yang dihasilkan oleh para ulama di era tertentu, sedominan apapun, tidak bisa menghentikan kerja-kerja penafsiran berikutnya dengan berbagai kemungkinan hasilnya yang bisa jadi akan sangat bertentangan dengan karya tafsir ulama terdahulu. 

Untuk memudahkan pembahasan, maka tulisan ini akan terbagi menjadi tiga. Bagian pertama akan mendiskusikan tentang wacana keilmuan Islam tentang h0mos3ksualitas. Berbagai teks hadits yang sering digunakan dalam menghukumi kaum h0mos3ks serta Sunnah para Sahabat dibahas di bagian dua. Sementara, bagian tiga mencoba melihat pengalaman nyata umat Islam dalam hal hubungan s3ks sejenis. 

Bagian pertama akan mendiskusikan tentang wacana keilmuan Islam yang diproduksi oleh ulama Islam klasik yang sampai sekarang dianggap sebagai tafsir Islam yang paling otoritatif. Sedemikian otoritatifnya, maka tafsir para ulama tersebut tetap dipelajari dan diikuti dari generasi ke generasi hingga sekarang. Tafsir tersebut dianggap sebagai sebuah manifestasi dari Islam itu sendiri secara sah sehingga harus dijaga dan pelanggaran terhadapnya sering dianggap sebagai pelanggaran terhadap suara sah Islam. 

Bagian kedua akan mendisukusikan berbagai teks hadits yang membicarakan tentang h0mos3ksualitas. Karena hadits pada dasarnya adalah rekam jejak perkataan, perbuatan dan sikap Nabi, maka adalah penting untuk melihat rekaman sejarah kasus h0mos3ksualitas pada Era Nabi. Terkait dengan ini, maka perlu juga diungkap tentang pandangan dan perilaku para Sahabat terkait dengan keberadaan kaum h0mos3ks. 

Bagian ketiga mendikusikan tentang bagaimana sebenarnya yang terjadi dengan pengalaman nyata umat Islam (santri) dalam hal hubungan s3ks sejenis. Bagian ini akan membincang ulang tentang fenomena mairil (hubungan s3ks sesama jenis yang terjadi di dunia pesantren). Pertanyaan mendasar adalah kalau hubungan sejenis memang dikutuk secara keras oleh Tuhan, mengapa para santri banyak melakukan mairil. Apa argumen keagamaan mereka? Melihat ini semua, akan memungkinkan kita untuk mendengar suara lain dan mencari pelajaran bagaimana keketatan sebuah doktrin agama tetap saja bisa ditawar, bahkan mungkin diruntuhkan.

WACANA KEILMUAN ISLAM TENTANG H0MOS3KSUALITAS

Jelaslah bahwa s3ksualitas adalah sebuah wilayah studi yang mutakhir. Mempertimbangkan hal ini, maka keilmuan Islam yang disusun pada Abad ke-VIII/IX Masehi jelas tidak cukup memadai untuk membicarakan tentang s3ksualitas saat ini. Hal ini terlihat dengan ketidakmampuan keilmuan Islam untuk membedakan antara identitas gender, identitas s3ksual, orientasi s3ksual, dan perilaku s3ksual. Pembicaraan tentang hubungan s3ks sejenis selalu meloncat-loncat di antara keempat konsep tersebut seakan-akan keempatnya bisa dipertukarkan sebagai sinonim. 

Di dalam wacana fiqh (hukum Islam yang disusun oleh para ulama), pembicaraan tentang h0mos3ksualitas biasanya dikaitkan dengan pembicaraan tentang khuntsa. Khuntsa diartikan sebagai orang laki-laki yang bertingkah laku seperti perempuan atau seseorang yang memiliki alat kelamin ganda (al-Bujayrami t.th.:230). Jadi, di dalam fiqh, istilah khuntsa merujuk pada manusia yang berjenis kelamin ganda (inters3ks) dan orang yang memiliki penis namun berdandan seperti perempuan (waria). Definisi ini sudah bermasalah karena mencampuradukkan antara s3ks dan gender. Inteks3ks merujuk pada identitas s3ksual, sedang waria atau transgender merujuk pada identitas gender.

Dua makna khuntsa tersebut tidak dipahami secara terpisah karena memang perangkat keilmuan saat itu tidak memungkinkan untuk bisa membedakan antara identitas s3ks dan identitas gender. Hal ini juga bisa dilihat pada pembagian khuntsa. Para ulama fiqh membagi khuntsa menjadi dua: khuntsa munsykil dan khuntsa ghayru musykil. Khuntsa musykil adalah apabila kedua kelamin berfungsi, sedang ghayru musykil adalah khuntsa yang salah satu identitas s3ksualnya terlihat lebih dominan sehingga tetap bisa diidentifikasi sebagai laki-laki atau perempuan (al-Jawi t.th.:43). 

Jelas pembagian ini semata-mata merujuk pada khuntsa dalam pengertian inters3ks. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Qudamah dan Sayid Sabiq bahwa khuntsa adalah seorang yang hanya memiliki lubang untuk kencing yang terletak di tempat yang biasanya ditempati vagina, atau memiliki penis dan vagina sekaligus (al-Mughni t.th.:258; Sabiq t.th.:454). Akan tetapi, pembicaraan khuntsa dalam pengertian s3ks ini bisa secara tiba-tiba beralih menjadi khuntsa dalam pengertian transgender, seakan-akan transgender tersebut terbentuk karena identitas kelamin yang bercampur antara laki-laki dan perempuan, atau setiap inters3ks pasti menjadi waria sehingga inters3ks sama dengan waria.

Jika khuntsa dalam pengertian inters3ks dianjurkan untuk operasi ganti kelamin, maka khuntsa dalam pengertian transgender diharamkan.[2] Anjuran operasi ganti kelamin ini dalam rangka memperjelas identitas kelamin seseorang untuk secara tegas menjadi laki-laki atau perempuan, sedang pengharaman transgender dilakukan agar memenuhi tuntutan peran gender, misalnya seorang laki-laki tidak boleh berpakaian dan berperilaku sebagaimana umumnya dianggap sebagai pakaian dan perilaku perempuan, begitu juga sebaliknya. 

Jelas bahwa tuntutan ini didasarkan atas asumsi penyamaan antara s3ks dan gender. Pengetahuan awam meyamakan keduanya seakan-akan keduanya bersifat natural. Tidak mengherankan jika perilaku yang melawan ketentuan peng-gender-an (nonkonformitas gender) dianggap sebagai melawan kodrat seperti seseorang yang tidak mau menerima keberadaan identitas s3ksnya.[3] 

Penggolongan khuntsa menjadi dua macam tersebut juga menunjukkan betapa tidak memadainya ilmu medis saat itu dalam membicarakan fenomena inters3ks. Dalam kasus inters3ks, di mana seseorang memiliki kelamin ganda, maka pasti hanya salah satu darinya yang berfungsi; tidak mungkin kedua alat kelamin tersebut berfungsi. Oleh karena itu, maka ulama fiqh sendiri menyatakan bahwa khuntsa musykil (kedua alat kelaminnya berfungsi) hanya akan terjadi pada masa kanak-kanak. Ketika tumbuh dewasa akan menunjukkan tanda-tanda ke arah identitas s3ksual yang pasti, dan menjadi ghayru musykil (al-Jawi t.th.:43-44). Yang terjadi di sini sesungguhnya adalah bukan kedua alat kelaminnya berfungsi, namun karena masih kanak-kanak, maka belum bisa ditentukan mana sesungguhnya identitas s3ksual yang dominan.

Di samping itu, ilmu medis saat itu juga belum cukup berkembang dalam membicarakan inters3ks. Inters3ks tidak bisa semata-mata dilihat dari anatomi s3ksual eksternal. Inters3ks adalah istilah umum yang digunakan untuk berbagai kondisi di mana seseorang lahir dengan anatomi s3ksual dan resproduksi yang tampaknya tidak sesuai dengan definisi tipikal perempuan atau lakilaki. Misalnya, seseorang mungkin lahir tampak perempuan dari luar, namun memiliki anatomi tipikal laki-laki di dalam.  Atau orang dapat lahir dengan alat kelamin yang tampak di antara tipe laki-laki dan perempuan yang umum, misalnya, seorang anak perempuan mungkin lahir dengan klitoris yang mencolok besar sehingga tampak seperti penis, atau tidak memiliki lubang vagina, atau seorang anak laki-laki yang lahir dengan penis yang mencolok kecil sehingga tampak seperti klitoris, atau dengan skrotum yang terbelah sehingga berbentuk lebih seperti labia. Atau, seseorang lahir dengan genetika mosaik, sehingga sebagian selnya memiliki kromosom XX dan yang lain XY (Intersex Society of North America 2010).

Jelas wacana keilmuan Islam sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan keyakinan-keyakinan umum saat itu. Hanya dengan berpikir demikianlah, maka kita bisa memahami pembagian khuntsa menjadi musykil dan ghayru musykil dengan definisi sebagaimana yang terpapar di atas. Dengan melihat perkembangan peradaban manusia saat itu juga memungkinkan kita untuk memahami pengacauan antara s3ks dan gender.

Dengan mempertimbangkan kevakuman kosa kata alQuran tentang jenis kelamin di luar laki-laki dan perempuan, maka pengaturan terhadap khuntsa jelas-jelas merupakan kreasi bebas ulama. Dalam arti bahwa keputusan hukum dan berbagai aturan yang menyertainya tidak ditemukan dalam kitab suci, tapi merupakan kreasi ulama pada satu masa dan tempat tertentu yang sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan keyakinan umum saat itu. Ini memperlihatkan bahwa sebuah tafsir keagamaan yang sangat menentukan dalam kehidupan umat, diproduksi oleh cara pandang tertentu di zamannya.

Di samping khuntsa, konsep lain yang biasanya digunakan dalam khazanah pemikiran keislaman tradisional dalam mendiskusikan h0mos3ksualitas adalah liwath. Liwath adalah anals3ks atau sodomi. Liwath ini berasal dari kata ”Luth.” Luth di sini diambil dari kisah seorang Nabi, bernama Luth (Lot), dalam alQur’an yang diyakini bahwa umatnya dihancurkan oleh Tuhan karena melakukan hubungan s3ks sejenis. Sekali lagi, di sini terlihat tidak adanya pembedaan antara orientasi s3ksual dan perilaku s3ksual. H0mos3ksual adalah orientasi s3ksual, sedang sodomi adalah teknik dalam melakukan hubungan s3ks, baik dengan lain jenis maupun sesama jenis. 

Ini mengindikasikan kekurangtahuan dengan mengira bahwa laki-laki h0mos3ks pasti melakukan penetrasi anal atau sodomi dalam melakukan hubungan s3ksual dengan sesama jenis. Kekurangtahuan ini membawa persepsi yang keliru dengan mengidentikkan antara h0mos3ks dengan sodomi atau anals3ks. H0mos3ks merupakan ragam orientasi s3ksual, sedangkan sodomi atau liwath merupakan bentuk perilaku s3ksual. 

Jika yang diharamkan adalah sodomi/anals3ks/liwat, maka pengharaman itu berarti mengarah kepada perilaku s3ksual sodomi. Pertanyaannya adalah apa hukum seorang laki-laki heteros3ks yang melakukan sodomi terhadap istrinya sendiri? Jika yang diharamkan adalah h0mos3ksual, maka pertanyaannya adalah apa hukum seorang h0mos3ks yang tidak melakukan praktik sodomi? 

Pertanyaan ini penting dilontarkan karena ada perbedaan antara identitas s3ksual, orientasi s3ksual, dan perilaku s3ksual. Ketiganya tidak selalu berhubungan. Orang dapat saja melakukan perbuatan atau perilaku s3ksual tertentu tanpa didasari orientasi s3ksual tertentu dan/atau memiliki identitas s3ksual tertentu.

Memang, pembedaan antara identitas s3ksual, orientasi s3ksual, dan perilaku s3ksual membawa konsekuensi yang yang cukup signifikan. Seseorang yang melakukan sodomi tidak selalu h0mos3ksual dan dilakukan dengan sesama jenis. Seorang heteros3ksual tidak mesti tidak pernah melakukan sodomi terhadap sesama jenis. Seorang h0mos3ksual belum tentu tidak pernah melakukan hubungan s3ks dengan lawan jenis baik dengan menggunakan teknik anal, vaginal maupun oral.

Membicarakan liwath (sodomi/anals3ks) juga memunculkan pertanyaan lanjutan: jika pengharaman liwath disebabkan karena dianggap melawan “kodrat” hubungan s3ks sebagai sarana pelanjut keturunan (reproduktif), lalu apa yang bisa dikatakan oleh agama tentang bentuk-bentuk hubungan s3ks selain penetrasi vaginal (oral, interfemoral, onani, dijepit payudara, dsb.). Apakah semua ini dianggap sebagai haram?

Jelaslah bahwa wacana keislaman klasik tidak cukup memadai untuk mengimbangi diskusi s3ksualitas yang sudah berkembang sangat kompleks saat ini. Sekali lagi, ini karena seluruh perbincangan tentang h0mos3ksualitas di dalam Islam yang terus menerus direproduksi sampai saat ini adalah kreasi para ulama dalam kurun zaman dan tempat tertentu. Capaian ilmu pengetahuan dan keyakinan-keyakinan di zaman tersebut turut membentuk wacana s3ksualitas pada saat itu, tidak terkecuali wacana s3ksualitas dalam keilmuan Islam.

Terus ya: Membongkar yang Disembunyikan: H0mos3ksualitas dalam Islam (2)




Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact