Membongkar yang Disembunyikan: Homoseksualitas dalam Islam (2) - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Membongkar yang Disembunyikan: Homoseksualitas dalam Islam (2)

Membongkar yang Disembunyikan: Homoseksualitas dalam Islam (2)

oleh AHMAD ZAINUL HAMDI
-Dosen dan Ketua Divisi Pendidikan dan Penelitian di GAYa NUSANTARA dan Centre for Marginalized Communities Studies (CMARs)


Membongkar yang Disembunyikan: Homoseksualitas dalam Islam (2)


CATATAN DARI ERA NABI DAN SAHABAT

Setidaknya, ada tiga hadits yang sering diacu untuk mengharamkan homos3ksualitas.

1.  Hadits yang diriwayatkan oleh Musa al-Asy’ari: “idha ja’a alrajulu al-rajula fahuma zaniyani, wa idha atat al-mar’atu al-mar’ata fahuma zaniyatani” [apabila ada seorang laki-laki berhubungan s3ks dengan sesama laki-laki, maka keduanya adalah pelaku zina, jika ada perempuan berhubungan s3ks dengan sesama perempuan, maka keduanya adalah pelaku zina] (Lihat al-Husyani t.th.:113).

2.  Hadits yang berasal dari Ibn Abbas yang diriwayatkan oleh alKhamsah kecuali al-Nasa’i: “man wajad tummuh ya’malu ‘amila qawmi luth faqtulu al-fa’il wa al-maf’ul bih [barang siapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah baik yang menyetubuhi maupun yang disetubuhi] (Lihat al-husyani t.th.:181).

3.  Hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Hanbal: “la’ana Allah man ‘amila qawm luth” [Allah mengutuk orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth] (Lihat ibn Hanbal t.th.:396).


Dengan melihat ketiga hadits di atas, maka hampir tidak ada peluang bagi kaum homos3ks (dan kaum heteros3ks yang melakukan hubungan s3ks sejenis) untuk mendapatkan persetujuan dari Islam atas orientasi dan perilaku s3ksualnya. Ketiga hadits di atas secara jelas berisi kutukan Tuhan terhadap kaum homos3ks.

Tidak hanya kutukan, namun juga hukuman yang sangat berat akan ditimpakan kepada mereka. Bukan hanya hukuman di akhirat, tapi juga hukuman di dunia. Seakan-akan seseorang hanya karena dia seorang homos3ks, maka dia patut untuk dihukum. 

Akan tetapi, yang perlu dipertanyakan di sini adalah mengapa ketiga hadits tersebut tidak memiliki suara yang sama mengenai hukuman terhadap seorang pelaku s3ks sejenis? Hadits pertama menghukumi pelaku s3ks sejenis sebagai zina, di mana hukum untuk pezina sudah ada aturannya sendiri, sedang hadits kedua mengatakan secara eksplisit hukum bunuh, sementara hadits ketiga tidak menyebut apa-apa tentang hukuman.

Keragaman bunyi hadits tentang masalah ini juga tercermin dalam pendapat para Sahabat tentang hukum bagi pelaku s3ks sejenis. Sebagian Sahabat berpendapat bahwa hukum pelaku s3ks sejenis adalah dibunuh dengan bersandar pada hadits kedua. Sekalipun demikian, mereka juga berbeda pendapat tentang cara melaksanakan hukuman tersebut. Sebagian ada yang mengatakan dengan cara dirajam (dilempari batu sampai mati), sebagian mengatakan dibakar sampai mati (al-Mahalli t.th.:191).

Sebagaimana yang pernah diriwayatkan bahwa Sahabat Ali pernah merajam orang yang melakukan hubungan s3ks sejenis. Akan tetapi di sisi lain, diriwayatkan bahwa Abu Bakar pernah mengumpulkan para Sahabat untuk membicarakan satu kasus hubungan s3ks sejenis. Di antara para Sahabat, yang paling keras pendapatnya adalah Ali. Ia mengatakan bahwa, “Homos3ks adalah perbuatan dosa yang belum pernah dilakukan oleh para umat kecuali oleh satu umat (kaum Luth) sebagaimana telah kalian ketahui.

Dengan demikian aku punya pendapat bahwa pelaku homos3ks harus dibakar dengan api.” Dengan disetujuinya pendapat Ali, maka Abu Bakar mengirim surat kepada Khalid bin Walid untuk menyuruhnya membakar pelaku hubungan s3ks sejenis dengan api (Sabiq t.th.:394). 

Ada beberapa hal yang perlu dinyatakan di sini. Pertama, para Sahabat adalah orang-orang yang hidup sezaman dengan Nabi, mendengarkan ucapan dan melihat sikap dan perbuatan Nabi dan mereka mengikutinya. Jika memang sudah ada ketetapan dari Nabi, mengapa mereka berbeda pendapat dalam sebuah kasus yang begitu jelas. Kedua, kisah Abu Bakar mengumpulkan para Sahabat untuk membahas kasus hubungan s3ks sejenis membuktikan bahwa hingga saat itu belum ada satu ketetapan hukum apapun tentang homos3ksualitas dan/atau perilaku s3ks sejenis. Hal ini dikuatkan dengan situasi pertemuan di mana para Sahabat saling berbeda pendapat. Argumen Ali yang disandarkan kepada pendapat pribadinya dan bukan kepada ketetapan Nabi semakin membuktikan bahwa tidak ada ketetapan apapun dari Nabi tentang masalah ini. Ketiga, apa yang bisa dijelaskan ketika para Sahabat mengambil satu dalil dan mengabaikan yang lain sebagaimana yang tergambar kelompok ini yang lebih mengambil hadits kedua dan mengabaikan hadits yang pertama? Keempat, tampak jelas bahwa penilaian dan hukum terhadap homos3ks dan/atau pelaku hubungan s3ks sejenis ditentukan berdasarkan penilaian bebas orang-orang saat itu yang tentu saja dipengaruhi oleh prasangka dan kepentingan individu dan keyakinan-keyakinan umum zamannya.

Sebagian para tabi’in (generasi setelah Sahabat) berpendapat bahwa hukum pelaku s3ks sejenis adalah sama dengan hukum pelaku zina dengan berpedoman pada hadits pertama. Sebagaimana pezina, maka pelaku s3ks sejenis yang masih jejaka (ghayru muhson) akan didera dan dibuang, sedang yang sudah menikah (muhson) dijatuhi hukuman rajam. Argumen yang diberikan kelompok ini adalah bahwa seorang homos3ks dalam melakukan hubungan s3ks sejenis itu memasukkan penis ke dalam anus laki-laki-laki yang menjadi partnernya (sodomi). Berdasarkan hal itu, maka perilaku tersebut dianalogkan dengan zina sehingga baik subjek maupun objeknya harus dikenai hukuman sebagaimana hukuman bagi para pezina (al-Zahrani t.th.:12).

Beberapa hal yang perlu diajukan di sini adalah sebagai berikut: Pertama, mengapa kelompok ini memilih hadits pertama dan mengabaikan hadits kedua? Kedua, jika ketetapan para Sahabat dianggap sebagai keputusan hukum yang mengikat karena memiliki kualifikasi yang cukup tinggi (ijma’ shahabi), mengapa para tabi’in tidak mengikuti keputusan para Sahabat untuk menghukum bunuh dengan cara dibakar terhadap pelaku hubungan s3ks sejenis? Ketiga, jika hukum zina diberlakukan kepada para kaum homos3ks karena mereka memasukkan penis ke dalam anus, lalu apa hukum kaum homos3ks yang tidak melakukan sodomi atau anals3ks dalam perilaku s3ksnya? 

Sekelompok ulama membantah bahwa sodomi sama dengan zina. Oleh karena itu, maka hukum untuk pezina tidak bisa diberikan kepada pelaku sodomi. Menurut kelompok ini, hukum pelaku sodomi hanyalah berupa sanksi (ta’zir) (al-Nawai t.th.: 23).

Memang sebagaimana yang terjadi pada Sahabat dan Tabi’in, para ulama berbeda-beda pendapatnya dalam masalah ini. Imam Syafi’i menegaskan bahwa pelaku liwath dapat dikenai hukuman hanya jika dilakukan di depan publik.[4] Selanjutnya, al-Auza’i dan Abu Yusuf menyamakan hukuman sodomi dengan zina.[5]

Ini semua semakin meyakinkan kita bahwa wacana keislaman tentang homos3ksualitas sangat ditentukan oleh parasangka zamannya. Seluruh perbincangan dalam wacana keilmuan Islam harus dikembalikan kepada kapan, siapa, dan untuk kepentingan apa homos3ksualitas diperbincangkan. Tidak bisa hal ini semata-mata dikembalikan kepada bunyi teks suci karena faktanya bunyi hadits saling berbeda, para Sahabat dan Tabi’in saling berbeda pendapat, dan para ulama fiqh memiliki pendapat hukum yang saling bertentangan dan tidak jarang tidak konsisten.

Dari perspektif yang lain, ini bisa membawa kepada kecurigaan lain, jangan-jangan Nabi tidak pernah berkata apa-apa dalam masalah homos3ksualitas. Fakta sejarah tidak menjelaskan adanya kasus penghukuman atas praktik sodomi pada masa Nabi. Eksekusi pertama terhadap perilaku sodomi justru terjadi pasca Nabi. Misalnya, pada masa Abu Bakar terjadi hukuman mati (bakar?) terhadap pasangan pelaku sodomi. Lalu, masa khalifah Umar bin Khattab, beliau menginstruksikan agar seorang pelaku sodomi dibakar hidup-hidup, tapi karena mendapat kritik keras, lalu hukumannya dirajam.[6] Jika ketetapan hukuman bakar tersebut diputuskan berdasarkan dalil keagamaan yang pasti (al-Qur’an dan al-Hadits), bagaimana mungkin Umar membatalkan hanya karena mendapat kritikan?

MENAFSIRI TAFSIR: STRATEGI PERLAWANAN

Semakin terlihat di sini, setiap paham keagamaan bersifat perspektifis: Paham itu dikonstruksi berdasarkan perspektif tertentu, dan bersifat historis. Karena itu, maka tidak ada satu pun doktrin agama yang berada di luar sejarah. Dalam hal tafsir yang merupakan upaya memahami makna kitab suci, maka konstruksi makna teks selalu dihasilkan dari perspektif tertentu juga. 

Dengan pemikiran inilah kita bisa mengerti mengapa sekalipun di dalam al-Qur’an ada pengutukan terhadap Kaum Nabi Luth, tapi di berbagai pesantren ditemukan hubungan sejenis dengan istilah mairil. Mairil adalah hubungan antara laki-laki dengan lakilaki, di mana yang menjadi subjek dalam hubungan sejenis ini biasanya adalah santri senior dan yang menjadi objek adalah santri laki-laki muda yang berusia sekitar 15 tahun.[7] 

Mungkin sementara orang mengira bahwa perilaku mairil di pesantren semata-mata karena pesantren merupakan asrama yang hanya dihuni satu jenis kelamin sehingga sangat rentan terjadi hubungan sejenis, sebagaimana asrama-asrama lain. Memang benar bahwa banyaknya hubungan sejenis yang ditemukan di pesantren karena pesantren merupakan asrama yang hanya dihuni oleh satu jenis kelamin. Dalam pengertian ini, maka mairil sesungguhnya bukan tipikal pesantren, tapi bisa ditemukan di semua komunitas sejenis yang hidup besama dalam jangka waktu yang lama. Akan tetapi, pertanyaannya adalah kalau memang hubungan sejenis secara tegas dilarang bahkan dikutuk oleh Tuhan, mengapa di pesantren, yang merupakan lembaga pendidikan Islam, terkesan permisif terhadap praktik seperti itu? Tidak ada jawaban jelas. Tapi lacakan kepada teks-teks keislaman akan segera memberi jawaban yang mengejutkan karena doktrin kutukan terhadap perilaku s3ks sejenis bisa sangat mudah “disiasati”.

Kalau praktik mairil dianggap sebagai zina, maka definisi zina yang ada dalam teks-teks keislaman tidak bisa menjerat praktik mairil. Di dalam teks-teks keislaman, zina selalu didefinisikan sebagai hubungan s3ksual antara laki-laki dan perempuan di luar ikatan pernikah yang syah menurut hukum Islam (ata al-mar’ata bi ghoyri aqdin syar’iyin) (al-Syarbini t.th.:144). Dari definisi “zina” ini, maka praktik mairil tidak bisa dihukumi zina; karena definisi “zina” berkarakter heteros3ksual. Kalau merujuk pada praktik kaum Nabi Luth, maka di dalam kitab fiqh hal itu merujuk pada praktik hubungan sejenis secara anal yang diistilahi dengan liwath. Sehingga, pelaknatan Tuhan terhadap kaum Nabi Luth tidak bisa digunakan untuk menjerat praktik mairil karena secara umum praktik mairil dilakukan dengan teknik interfemoral (penis dijepit di antara pangkal paha yang sudah dilumuri dengan pelembab, biasanya memakai ludah).

Dari sini, akan muncul banyak pertanyaan dan kesadaran baru. Betapa teks-teks keagamaan tidak seperti yang diperkirakan selama ini, berada di luar sejarah dan berbagai relasi kepentingan, tapi sebaliknya, ia lahir di dalam sejarah. Mengapa, misalnya, zina selalu didefinisikan secara heteros3ksual sehingga hubungan sejenis tidak masuk di dalamnya, dan mengapa kisah Kaum Luth dimaknai semata-mata anals3ks, sehingga teknik hubungan s3ksual sejenis di luar anal tidak masuk kriteria pelaknatan? Pertama, kebanyakan penyusun kitab-kitab agama adalah kaum laki-laki dengan orientasi s3ksual heteros3ks sehingga rumusan-rumusan yang muncul

berperspektif laki-laki dan heteros3ksual. Kalau kaum homos3ksual diuntungkan karena wilayahnya tidak tersentuh, mungkin karena sang ulama yang heteros3ks tersebut lupa atau tidak menyadari tentang kemungkinan adanya hubungan s3ksual sejenis, maka kaum perempuan banyak dirugikan dalam hal ini karena hampir rumusanrumusan keagamaan selalu menempatkan perempuan menjadi objek s3ksual laki-laki. Andaikan sang ulama menyadari bahwa hubungan sejenis (laki-laki dengan laki-laki) tidak hanya anals3ks, tapi bisa mengeksplorasi seluruh bagian tubuh, maka bisa jadi definisi liwath tidak sesempit dan seteknis itu.

Terlepas dari lemahnya definisi-definisi tersebut, ini menyadarkan bahwa teks agama diproduksi oleh kepentingan dan sudut pandang tertentu. Tidak ada satu teks pun, sekalipun ia disebut teks suci, yang pemaknaannya melintasi batasan ruang dan waktu. Karena itu, sangat terbuka kemungkinan untuk memaknai ulang teks-teks agama sesuai dengan tingkat peradaban manusia. 

Setiap agama selalu mengklaim bahwa relevansinya melintasi ruang dan waktu. Dalam Islam juga ada adagium yang sangat terkenal menyangkut relevansi Islam ini, al-Islam sholih likulli zaman wa al-makan (ajaran Islam sesuai untuk setiap masa dan tempat). Akan tetapi, apa relevansi makna tersebut jika agama tidak sanggup menyelesaikan persoalan manusia dengan tetap menjunjung tinggi harkat dan derajat manusia?

Agama bukanlah sebuah patung batu yang sekali pahat selesai. Agama, sebagai fenomena kemanusiaan, harus terus bergulat mengiringi peradaban manusia yang terus berjalan. Oleh karena itu, agama tidak bisa dimaknai seperti sekumpulan naskah di dalam museum, di mana realitas hendak diukur dan diadili sesuai dengan kekunoan teks-teks tersebut. Keabadian agama terletak pada kesanggupannya untuk tetap mendorong kebaikan dan penghormatannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Di titik ini juga patut kita renungkan sebuah pertanyaan, untuk siapakah agama itu: untuk Tuhan ataukah untuk manusia? Jika memang agama diturunkan Tuhan untuk manusia, maka agama harus merelakan dirinya diukur dari kaca mata manusia. Jika sebuah agama dengan meneriakkan kata-kata Tuhan menebar teror kemanusiaan, maka sesungguhnya ia telah kehilangan alasan keberadaannya (raison d’etre). 

Begitu juga dengan praktik penafsiran, ia selalu dibatasi oleh konteks sejarah dan kepentingan si penafsir. Tafsir yang menyuarakan pelaknatan Tuhan terhadap homos3ksualitas memiliki konteks kesejarahannya sendiri. Yang pasti, praktik mairil di pesantren telah mengajarkan kepada kita tentang bagaimana sebuah kreatifitas yang cerdas mampu keluar dari keketatan sebuah doktrin.***

Rujukan

al-Bujayrimy, al-Syaikh Sulayman. Bujayrami ‘ala al- Khatib: Hasiyyah Khatimat al- Muhaqqiqin wa ‘Umdat al- Aimmat al Mudaqqiqin. juz I. Beirut: Dar el-Fikr.

Gadamer, Hans Georg. 1975. Truth and Method. London: Sheed and Ward.

Intersex Society of North America. 2010. Wahat is Intersex?. Dokumen elektronik, http://www.isna.org, diakses pada 13 April 2010.

al-Husayny, al-Imam Taqiy al-Din Abi Bakr bin Muhammad. Kifayat Ahyar fi Hall Ghayat al- Ikhtishar. juz II. Beirut: Dar el-Fikr.

Ibn, Hanbal. Musnad Ahmad ibn Hanbal. VI. Beirut: Dar el-Fikr. 

al-Jawy, Muhammad Nawawi Umar. Kasyifat Sajaa Syarh Safinat al Najaa. Surabaya: Nur al-Hidayat. 

al-Mahally, Jalaall al Din. Syarh al- ‘Allamah Jalal al-Din al-Mahally ‘ala al-Minhaj. IV. Beirut: Dar el-Fikr.

Mulia, Siti Musdah. Memahami Homos3ksualitas (Membaca Ulang Pemahaman Islam), makalah tidak dipublikasikan. 

al-Naway, Imam Abi Zakariyya Muhyiddin bin Syaraf. al Majmu’ ‘ala Syarh al-Muhadzdzab. juz 20. Beirut: Dar el-Fikr.

Qudamah, Ibnu. al-Mughni. Juz IV. Riyadh.

Rohmadi. 2004. “Status Perkawinan Homos3ksual Perspektif Fiqh,” Justisia, edisi 25, th. XI.

Sabiq, Sayyid. Fiqh al-Sunnah. juz II. Beirut: Dar al-Fikr. 

al-Suyuthi. al-Jami’ al-Saghir. Bandung: al-Ma’arif.

al-Syarbiny, Imam Khotib. Mughni al Muhtaj fi Ma’rifati Ma’ani al Minhaj. juz IV. Beirut; Dar el-Fikr.

The Southeast Asian Consortium on Gender, Sexuality and Health. 2005. A Glossary of Terms in Gender and Sexuality. Dokumen elektronik, http://www.seaconsortium.org/coreactivities/download.glossary.doc, diakses pada 20 Juni 2008.

WHO, 2002. Sexual Health. Dokumen elektronik, http://www.who.int/reproductivehealth/gender/sexualhealth.html, diakses pada 9 september 2008. 

al-Zahrany, Yahya bin Musa. Ayat wa Ahkam. Beirut: Dar al-Kutub alIlmiyyah.

Endnote:
[1] Gadamer (1975:264), seorang hermeneut kontemporer, menyatakan bahwa makna teks dilahirkan dari fusi antara horizon of reader dan horizon of text. Sehingga, interpretasi tidak semata-mata mereproduksi makna, tapi juga memproduksi makna. 

[2] Anjuran ganti kelamin sering disandarkan pada ayat al-Quran (49:13): inna khalaqnakum min dhakar wa untsa [sesungguhnya Kami menciptakan kalian semua dari pria dan wanita].  Sementara, pengharaman waria sering disandarkan pada sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Abu Dawud: la’an Allah al-mutasyabbihati min al-nisa’ bi al-rijal wa al-mutasyabbihin min al-rijal bi alnisa [Tuhan melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki dan melaknat lakilaki yang menyerupai perempuan] (Lihat al-Suyuthi, t.th.:124).

[3] S3ks mengacu pada sifat-sifat bilogis yang mendefinisikan manusia sebagai perempuan atau laki-laki. Sifat-sifat biologis ini adalah sebagai berikut: perempuan menghasilkan ovum, memiliki klitoris, vagina, payudara dan organ reproduksi, dengan susunan kromosom XX, sedang laki-laki menghasilkan sperma, memiliki penis dan skrotum dengan susunan kromosom XY. Definisi ini mengacu pada definisi jenis kelamin yang diberikan oleh WHO, ”Sex refers to the biological characteristics that define humans as female or male. While these sets of biological characteristics are not mutually exclusive, as there are individuals who possess both, they tend to differentiate humans as males and females” (Lihat WHO 2008). Sementara, gender adalah konsep yang merujuk pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial, dapat berubah-ubah dengan berlalunya waktu, dan sangat bervariasi di dalam dan di antara budaya. Gender merujuk pada perilaku yang dipelajari untuk menaati citra maskulinitas dan femininitas (Lihat The Southeast Asian Consortium on Gender, Sexuality and Health 2005). 

[4] Al-Syafi’i, salah seorang ulama fiqh yang sangat terkenal, memiliki pendapat yang berbeda-beda. Sesekali dia berpendapat bahwa hukum pelaku sodomi adalah bunuh, di tempat lain dia mengatakan dengan hukuman zina, sedang di tempat lain dia mengatakan hukuman sanksi (Lihat Rohmadi 2004).

[5] Siti Musdah Mulia, Memahami Homos3ksualitas (Membaca Ulang Pemahaman Islam), makalah tidak dipublikasikan.

[6] Mulia, Memahami Homos3ksualitas.

[7] Salah satu studi tentang topik ini, misalnya tesis master, Perilaku Homos3ksual di Pondok Pesantren, yang ditulis oleh Iskandar Dzulkarnain.

-Sumber: Jurnal Gandrung Vol. 1 No. 1 Juni 2010.


Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact