Seksualitas: dari Ruang Privat ke Ruang Publik - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Seksualitas: dari Ruang Privat ke Ruang Publik

Seksualitas: dari Ruang Privat ke Ruang Publik

oleh Moh. Syarif Hidayat



Tak elok rasanya jika membahas s3ksualitas tanpa melibatkan Foucault, karena dalam sebuah bukunya yang terkenal The History of Sexuality (1979) ia membongkar sejarah s3ksualitas dan berbagai perubahan pandangan terhadap objek ini. Menurut Foucault, pada awal abad XVII, kegiatan yang mengarah kepada s3ksualitas masih sangat terbuka. Pada masa itu masih dijumpai kegiatan s3ksual yang tidak ditutup-tutupi. 


Kata-kata bernada s3ks dilontarkan dengan bebasnya dan berbagai hal yang menyangkut s3ks tidak disamarkan. Ketika itu yang harap dianggap halal. Ukuran untuk tingkah laku vulgar, jorok, dan tidak santun sangat longgar. Kita masih bisa menemukan berbagai kial yang menjurus, kata-kata polos, pelanggaran norma yang terang-terangan, aurat yang dipertontonkan, anak-anak bugil yang lalu-lalang tanpa rasa malu ataupun menimbulkan reaksi orang dewasa: tubuh-tubuh, pada waktu itu, tenggelam dalam keasyikan.

Perubahan pandangan terhadap s3ksualitas kemudian terjadi di masa ratu Victoria berkuasa. Pada masa tersebut, kaum-kaum borjuis sangat berperan dalam masyarakat. Golongan mereka mulai mengatur perilaku masyarakat golongannya sendiri dan berimbas pula kepada masyarakat umum. Dalam bahasa Foucault, pada zaman itu s3ksualitas dipingit rapi dan dirumahtanggakan. Dia menulis s3ksualitas menjadi jumud. Suami-istri menyitanya dan membenamkan seluruhnya dalam fungsi reproduksi yang hakiki. Orang tidak berani lagi berkata apa pun mengenai s3ks. Pasangan, yang sah dan pemberi keturunan, menentukan segalanya. Pasangan muncul sebagai model, mengutamakan norma, memegang kebenaran, mempunyai hak untuk berbicara dengan tetap memelihara asas kerahasiaan. Di masyarakat, sebagaimana di setiap rumah tangga, satu-satunya tempat yang dihalalkan bagi s3ksualitas—bahkan yang dikhususkan untuk itu dan amat subur—adalah kamar orang tua. Segi-segi lain dari s3ksualitas hanya merupakan jejak kabur. Kesantunan menghindari pengacuan badaniah, percakapan sehari-hari dibersihkan dari kata-kata “berani”. Sementara itu, orang mandul, jika terlalu menegaskan keadaannya dan terlalu menonjolkan diri, berisiko disebut tidak normal: ia akan menerima status itu dan harus menerima sanksi sosial.

Seiring perubahan zaman, terutama ketika kebebasan dan globalisasi melanda masyarakat Barat pada abad ke-19, pandangan terhadap s3ksualitas kembali menunjukkan perubahan. Perubahan yang dalam kasus Indonesia masih terasa lambat. Artinya, sebagai orang Timur, s3ksualitas masih harus berbenturan dengan berbagai norma yang selama ini telah menjadi domain yang sangat penting dan berkuasa dalam budaya Timur sehingga s3ksualitas memang masih tetap menempati posisinya di ruang privat yang hanya boleh disentuh oleh orang-orang yang balig.

Namun demikian, globalisasi yang membawa arus perubahan terhadap cara pandang terhadap masyarakat dan membawa pula ekses-ekses negatif (dalam pandangan budaya Timur) memerlukan jalan keluar yang lebih baik sehingga sebagai bangsa dapat menempatkan diri pada bangsa yang beradab sekaligus berkeadilan. Globalisasi (meskipun bukan satu-satunya yang menjadi sebab) telah mengantarkan persoalan s3ksualitas ke ruang yang lebih luas. Di dunia Barat, s3ksualitas telah kembali ke sejarah awalnya sebagai sesuatu yang tidak lagi ditabukan untuk dibicarakan atau dipertontonkan. Dalam hal ini batas-batas antara ruang privat dan ruang publik menjadi samar sebagaimana dikatakan oleh Berlant (dalam During, 1993).

Bagaimana sebenarnya memosisikan s3ksualitas di ruang publik? Ada baiknya pula kita mengetahui terlebih dahulu mengenai ruang publik. Menurut Habermas (1989), ruang adalah suatu wilayah yang muncul pada ruang spesifik dalam “masyarakat borjuis”. Ia adalah ruang yang memerantarai masyarakat sipil dengan negara, sebuah tempat ketika publik mengorganisasi dirinya sendiri dan tempat ketika “opini publik” dibangun. Lebih lanjut dikatakannya bahwa dalam ruang ini individu mampu mengembangkan dirinya sendiri dan terlibat dalam debat tentang arah dan tujuan masyarakat. Habermas kemudian mendokumentasikan apa yang dia lihat sebagai kemunduran ruang publik akibat perkembangan kapitalisme yang mengarah kepada monopoli dan penguatan negara. Namun, dia mencoba meletakkan pembaruan ini dengan istilah “situasi bertutur ideal”, yaitu ketika klaim kebenaran yang saling bersaing terikat kepada debat dan argumen rasional. Jadi, ruang publik dikonsepsikan sebagai ruang bagi debat yang didasarkan pada kesetaraan konversasional.

Namun, sebagaimana dikatakan Fraser (dalam Barker, 2009), dalam praktiknya kondisi semacam itu tidak pernah ada. Justru, ketimpangan sosial menegaskan bahwa warga negara tidak mendapatkan akses setara terhadap ruang publik. Kelompok-kelompok subordinat tidak memiliki kesamaan dalam berpartisipasi dan mereka tidak memiliki ruang untuk mengartikulasikan bahasa, kebutuhan, dan keinginan mereka. Menurut Fraser, konsep modern Habermas tentang ruang publik memerlukan penggerak yang fungsinya untuk mengelompokkan perbedaan status, menyelenggarakan diskusi dalam rangka mempertanyakan kebaikan bersama (mengesampingkan kepentingan bersama) dan menciptakan satu ruang publik saja (karena memang ini adalah milik bersama). Karena ketimpangan sosial tidak bisa dikesampingkan, banyak isu pribadi menjadi isu publik (misalnya kekerasan dalam rumah tangga), dan ada kebaikan-kebaikan umum tertentu yang saling bersaing, maka dia menyatakan bahwa konsepsi pascamodern tentang ruang publik harus menerima keinginan publik yang beragam dan ruang publik yang beragam pula sambil pada saat yang sama berusaha mereduksi ketimpangan sosial. Dia berpendapat bahwa feminisme merepresentasikan “ruang publik tandingan” bagi debat dan aktivitas politik.

Isu-isu s3ksualitas memang telah pula menjadi isu publik yang terkadang memang masih sangat sensitif. Lebih jauh persoalan ini tidak melulu pada s3ksualitas sebagai tindakan tetapi juga hubungannya dengan kajian gender. Konsep performativitas yang dikemukakan Buttler menyentuh pula hubungan s3ksualitas dengan ruang publik. Bagaimana sebuah performativitas gender direspons oleh masyarakat luas yang masih belum menerima konsep-konsep tentang tubuh dan kekaburan definisi mengenai s3ks dan gender. Masyarakat di ruang publik akhirnya dihadapkan pada kompleksitas s3ksualitas beragam yang sering berbenturan dengan dogma-dogma dan norma-norma masyarakat yang menjadi kuasa utama dalam urusan moral dan adab bermasyarakat. Persoalan yang kemudian timbul adalah bagaimana menjadikan tema s3ksualitas dapat diterima secara jernih oleh masyarakat dan tidak menimbulkan isu-isu negatif yang lebih mengarah pada kemunafikan-kemunafikan yang disimpan diam-diam dan pada akhirnya justru menjadi serba salah sendiri.

S3ksualitas memang dipahami juga sebagai ajaran dan topik yang dibahas di setiap agama, yang selama ini menjadi penjaga moral umat, dan bahkan ada aturan-aturan terhadapnya. Benturan antara agama dan sekularisme maupun hedonisme yang hidup bersama-sama di suatu masyarakat sebagai aturan moral yang saling mencari pengaruh menjadikan s3ksualitas seperti bola yang bergulir ke sana-ke mari. Ruang publik menjadi arena pertempuran yang demikian ramai dengan berbagai isu dan saling hujat. S3ksualitas sebagai naluri alami manusia harus memosisikan dirinya menurut kuasa yang dominan di ranah tersebut. Seperti juga ketika golongan victorian mendudukkan s3ksualitas di wilayah privat.

Dalam pandangan Foucault, kuasa yang bermain di masyarakat, terlebih jika dihubungkan dengan berbagai aparatus yang disebutkan Bourdieu, akan tetap menjadi pengendali terhadap berbagai gejala perubahan budaya yang ada di masyarakat. Keinginan sebagian kalangan yang memposisikan s3ksualitas sebagai sesuatu yang lumrah dan penuh kebebasan seperti di abad ke17 akan tetap berbenturan dengan kekuatan tak terlihat yang selama ini menjadi penggerak dan pendorong individu-individu di masyarakat untuk menghakimi sesuatu itu benar atau salah berdasarkan nilai-nilai yang telah tertanam dengan kuat pula. Meskipun sedang terjadi kemerosotan terhadap norma atau nilainilai masyarakat tersebut, kekuatan norma masih tetap ada pengaruhnya sepanjang penjaga-penjaga norma masih ada. Hal ini berbeda dengan apa yang dialami masyarakat di abad ke-17 yang lebih bebas mempertontonkan kebebasan s3ksual.

Kini, aparatus-aparatus yang berkuasa di masyarakat masih terlalu kuat untuk diruntuhkan dan dengan demikian, s3ksualitas masih harus mengikuti arah yang ditunjukkan oleh aparatus-aparatus tersebut. Dalam arti bahwa pengusung kebebasan s3ksualitas di ruang publik masih harus berjuang untuk mendobrak aparatus-aparatus tersebut.

Jadi, meskipun kini s3ksualitas sudah mulai merambah ke ruang publik, ia masih tetap harus berhadapan dengan berbagai pandangan dan pendapat di ruang tersebut. Berbagai aturan, larangan, penghakiman, dan bahkan hukuman akan membatasi ruang geraknya.



Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact