Seksualitas Tubuh Perempuan - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Seksualitas Tubuh Perempuan

Seksualitas Tubuh Perempuan

S3ksualitas Tubuh Perempuan




Dalam arti luas s3ksualitas mengacu pada sifat yang berkenaan dengan s3ksual. Laki-laki dan perempuan adalah dua manusia yang berbeda secara s3ksual tetapi diciptakan oleh Allah dari sumber tunggal (nafs in wahidatin),[15]dengan demikian penciptaan dan s3ksualitas seseorang tidak dapat dipisahkan dari penciptaan dan s3ksualitas lainnya. Ini menunjukkan bahwa lakilaki dan perempuan terikat satu sama lain tidak hanya oleh kebajikan sumber mereka yang sama tetapi juga oleh kebajikan saling ketergantungan s3ksualitas mereka. Oleh karena itu perbedaan s3ksualitas itu dimaksudkan oleh Allah untuk menciptakan kedekatan, bukan perlawanan diantara mereka dan dalam rangka menciptakan relasi yang seimbang tanpa memandang superioritas yang satu dengan lainnya.

Akan tetapi yang terjadi kemudian adalah perempuan dianggap sebagai sumber fitnah bagi laki-laki karena membawa daya tarik s3ksual sehingga segala aspek kehidupan perempuan secara keseluruhan harus tunduk ke pada s3ksualitas laki-laki. Hal ini nampak sekali dalam fatwa-fatwa CRLO yang selalu memandang perempuan sebagai seonggok fitnah yang berjalan dan bernafas. Sehingga sulit ditemukan sebuah fatwa yang membahas perempuan tanpa menyertakan beberapa bahasan tentang daya pikat perempuan dan fitnah yang ditimbulkan. Termasuk fatwa tentang boleh tidaknya perempuan pemakai BRA dan sepatu bertumit tinggi, CRLO menegaskan bahwa jika pemakaian BRA bertujuan untuk mengangkat payudara supaya kelihatan masih muda dan perawan, hal ini dilarang karena mengandung unsur penipuan. Disamping itu juga bisa menimbulkan fitnah karena menonjolkan bagian tubuh tertentu, begitupun pemakaian sepatu tinggi juga dilarang karena menonjolkan paha perempuan dan bisa menimbulkan fitnah.


Dalam fatwa-fatwa yang lain CRLO selalu menyertakan pertimbangan daya tarik s3ksual perempuan yang rawan menimbulkan fitnah dalam penetapannya. Oleh karena itu muncul fatwa-fatwa: perempuan boleh salat di masjid hanya jika mereka tidak menimbulkan fitnah, perempuan boleh mendengarkan seorang laki-laki membaca Alquran atau mengajar hanya jika mereka tidak menimbulkan fitnah, perempuan boleh pergi ke pasar hanya jika mereka tidak menimbulkan fitnah, perempuan tidak boleh menziarahi makam karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah, perempuan yang sedang salat sendirian tidak boleh mengeraskan suaranya jika hal tersebut dapat menimbulkan fitnah, perempuan tidak boleh menyapa laki-laki jika hal tersebut dapat menimbulkan fitnah; dan semua jenis dan warna pakaian dianalisis berdasarkan konsep fitnah. Tampaknya para ahli hukum yang membuat penetapan bahwa fitnah selalu mengiringi perempuan dalam semua perbuatan mereka dan ke mana pun mereka pergi, tidak menyadari bahwa hal tersebut bukanlah ciri alamiah perempuan, tapi merupakan proyeksi s3ksual laki-laki. Dengan memandang perempuan sebagai perwujudan daya tarik s3ksual, para ahli hukum tersebut tidak mengusung norma kesopanan, tapi sebenamya mengusung norma tak bermoral. Bukannya memalingkan pandangan dari atribut fisik perempuan, secara obsesif mereka malah memandang perempuan semata dari bentuk fisiknya. Pada prinsipnya, para ahli hukum ini menjadikan perempuan sebagai objek konsumsi laki-laki dan ini adalah bentuk pelanggaran moral yang sangat serius.[16]

Namun, tantangannya adalah bahwa para ahli hukum yang membuat penetapan semacam itu bersandar pada sejumlah hadis yang memposisikan perempuan sebagai sumber daya tarik s3ksual dan godaan bagi lakilaki. Para ahli hukum CRLO selalu mengutip hadis-hadis tersebut untuk mendukung penetapan tentang penyingkiran perempuan dan tentang larangan pembauran lawan jenis di tempat publik (ikhtilath). Terdapat sejumlah besar hadis yang menuturkan pesan bahwa perempuan adalah sumber fitnah yang bersifat alamiah. Dalam beberapa versi hadis yang paling populer, kita menjumpai hal sebagai berikut: Abu Sa'id al-Khudri meriwayatkan bahwa Nabi pernah bersabda, "Bumi ini subur dan indah, dan Tuhan telah menyerahkan amanah kepada kalian (dimuka bumi ini) untuk melihat amal perbuatan kalian. Jika muncul (godaan) dunia berhati-hatilah kalian, dan berhati-hatilah terhadap perempuan, karena fitnah pertama yang menimpa orang Israel adalah (fitnah yang berasal dari perempuan)”. Dalam sebuah riwayat yang mengaitkan antara 'aurah dan fitnah, dituturkan bahwa Abd Allah ibn 'Umar meriwayatkan bahwa Nabi pernah bersabda, "(Seluruh tubuh) perempuan adalah 'awrah sehingga ketika mereka keluar rumah, setan menjadikan mereka sebagai sumber godaan s3ksual."

Tidak mengejutkan bila hadis-hadits ini kemudian menjadi dasar bagi kebanyakan penetapan yang mengatur penampilan dan perilaku perempuan, meskipun seorang perempuan telah mengenakan hijab. Karena itu, sekalipun seorang perempuan telah menutup bagian tubuhnya yang sangat pribadi, ia tetap tidak boleh berbaur dengan laki-laki pada semua akivitas publik dan beberapa aktivitas pribadi. Yang penting dicatat adalah bahwa hadis-hadis tersebut menjadi alat untuk memposisikan perempuan sebagai pihak yang dicurigai dan berbahaya, dan untuk mengaitkan perempuan dengan ancaman yang harus dibendung. Oleh karena itu perempuan harus dikurung dalam ruang domestik yang terpisah sama sekali dengan wilayah publik.

Terhadap hadits tersebut El Fadl mengharuskan dilakukannya analisis persoalan tentang proses kepengarangan, sebab hadis-hadis fitnah dan penetapannya merupakan sebuah penyimpangan fakta-fakta historis Islam di Madinah. Sulit untuk mendamaikan hadis-hadis tentang fitnah dan penyingkiran perempuan dari kehidupan publik dengan berbagai riwayat ten tang partisipasi aktif perempuan dalam kehidupan publik, baik pada masa Nabi atau masa sesudahnya.Pada kenyataannya, riwayat-riwayat yang mencatatkan peristiwa penyingkiran perempuan dari ruang publik relatif lebih sedikit dibandingkan riwayat-riwayat yang menceritakan kebalikannya. Di antara riwayat itu tentang lomba lari antara Nabi dan isterinya, tentang Aisyah dan perempuan muslim lain yang menonton pertandingan olah raga di Madinah, perempuan-perempuan yang bertanya dan mengeluh kepada Nabi tentang berbagai persoalan, dan perempuan-perempuan yang turut serta dalam pertempuran dalam berbagai jumlah kekuatan. Lebih jauh lagi, laki-laki dan perempuan saling mengunjungi satu sama lain dan bertukar hadiah. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa perempuan menghampiri Nabi di jalanan dan menuntun tangannya, duduk bersamanya, dan mendiskusikan persoalan mereka. Dalam riwayat-riwayat tentang praktik historis ini tidak ada sedikit pun isyarat tentang fitnah atau dampak fitnah.

Yang penting dicatat adalah bahwa mayoritas hadits tentang fitnah tidak menggambarkan praktik historis. Hadis-hadis tersebut hanya menyajikan penegasan, harapan, klaim, dan aturan normatif. Jika hadis-hadis tersebut kita yakini autentisitasnya maka terdapat banyak sekali kesenjangan antara penegasan normatif Nabi dan praktik historis yang terjadi di Madinah. Dilihat dari sudut lain, riwayat-riwayat yang menggambarkan prakik historis mungkin saja telah dibesar-besarkan atau hadis tentang fitnah yang mungkin telah dibesar-besarkan. Adalah tidak mungkin bahwa para Sahabat dan Nabi sendiri selalu melanggar perintah normatif Nabi tentang fitnah dalam praktik yang sebenarnya. Jawaban khas CRLO terhadap jenis argumentasi seperti ini adalah dengan mengklaim bahwa semua peristiwa yang disebutkan di atas teriadi sebelum diturunkan perintah hijab. Ketika hijab diwajibkan, semua peristiwa yang disebutkan di atas menjadi tidak relevan. Namun, dengan memandang bahwa hijab baru diperkenalkan pada tahun-tahun terakhir sebelum wafatnya Nabi, kita akhirnya tiba pada sebuah kesimpulan yang janggal bahwa kebanyakan pengalaman historis Islam, sejauh mengenai hubungan gender, benar-benar tidak mempunyai dampak hukum apa-apa. Di samping itu, kebanyakan tafsir Alquran menyebutkan secara eksplisit bahwa hijab diwajibkan hanya kepada para isteri Nabi. Pada kenyataannya, ayat tentang hijab secara eksplisit menyebut para isteri Nabi dan menjelaskan bahwa para isteri Nabi berbeda dengan pe rempuan muslim lainnya.

Lebih jauh hadist-hadits fitnah biasanya dikaitkan dengan batasan ‘awrah (bagian tubuh yang harus ditutup ketika shalat) perempuan. Ketentuan tentang 'awrah itu sendiri baru diturunkan setahun dua tahun terakhir sebelum wafatnya Nabi dan merupakan persoalan yang terpisah dengan persoalan fitnah.Meskipun persoalan 'awrah sebenarnya memerlukan pembahasan khusus, penting dicatat bahwa berdasarkan proses ke pengarangan yang melahirkan hukum tentang 'awrah, batas awrah perempuan budak berbeda dengan batas 'awrah perempuan merdeka. Perempuan budak tidak diwajibkan menutup rambut, lengan, atau sebagian kaki mereka. Jika diskursus tentang 'awrah dikaitkan dengan diskursus tentang fitnah, maka tidak ada alasan untuk membedakan keduanya. Yang jelas, perempuan budak memiliki potensi yang sama dengan perempuan merdeka dalam hal memicu fitnah, tapi ketentuan untuk masing-masing kelompok ini temyata berbeda.Kenyataan bahwa proses kepengarangan yang membedakan batas 'awrah perempuan merdeka dengan perempuan budak merupakan alasan yang cukup memadai untuk mengkaji ulang ketentuan tentang 'awrah dan ketentuan tentang fitnah yang dialamatkan bagi perempuan.

Persoalan selanjutnya yang relevan di sini adalah bagaimana menguji dan menilai proses kepengarangan hadits-hadits tersebut. Satu hal yang harus diakui bahwa terdapat sejumlah suara pengarang yang berperan membentuk hadits yang dinisbatkan kepada Nabi. Andaikata Nabi dipandang sebagai sumber sebuah pernyataan tertentu ada seseorang atau beberapa orang yang terlibat dalam proses seleksi dan konstruksi yaitu pemilihan pernyataan tertentu yang dianggap layak untuk diingat. Pernyataan tersebut diucapkan dalam sebuah konteks yang dipandang atau tidak dipandang relevan oleh para perawi, sehingga beberapa hadits Nabi diriwayatkan dengan menjelaskan konteksnya sementara hadits-hadits yang lain tidak. Oleh karena itu sangat dimungkinkan Ada sejumlah kepentingan tertentu yang melatarbelakangi periwayatan hadis yang merendahkan kaum perempuan.

Terdapat bukti faktual yang cukup untuk menunjukkan adanya bias yang sangat kuat dari dinamika sosial pada masa awal Islam yang dengan berbagai cara telah membentuk hadis tersebut. Ini dimulai semenjak wafatnya Rasul yang memicu banyak pemberontakan, termasuk yang dilakukan oleh wanita dari Kindah dan Hadramaut pada masa Abu Bakar. Beliau ke mudian mengutus al Muhajir bersama pasukan dan kudanya kepada wanita-wanita itu. Riwayat ini cukup menggugah sebab mengapa oposisi para perempuan ini mesti dipandang cukup mengancam Islam dan sampaisampai harus mengirim pasukan untuk menumpas mereka. Selanjutnya pada masa pemerintahan Umar (634-644 M) yang merupakan periode ketika banyak institusi utama Islam dilahirkan, sebab Umar menyebarkan serangkaian aturan keagamaan, kewarganegaraan dan hukum pidana termasuk batasan-batasan hukum bagi perempuan. Ia berusaha membatasi wanita di rumah-rumah mereka dan mencegah mereka menghadiri sholat berjamaah di masjid. Tidak berhasil dalam usaha terakhir ini ia menyelenggarakan sholat terpisah dengan mengangkat seorang imam tersendiri untuk kaum pria dan wanita. Ia memilih seorang imam pria untuk kaum wanita.[17] Umar juga melarang istri-istri nabi untuk menunaikan ibadah haji. Larangan ini pasti memicu ketidakpuasan para istri nabi sekalipun sejarah tidak mencatat ketidakpuasan itu, sama seperti halnya sejarah tidak mencatat oposisi apapun oleh janda-janda muhammad atas upaya Umar mencegah kaum wanita menghadiri sholat di masjid.

Meskipun pada masa Utsman (644-656 M) larangan bagi para Istri Nabi untuk pergi haji dan larangan untuk pergi ke masjid sudah dicabut, akan tetapi pemulihan kebebasan oleh Ustman kepada kaum wanita hanya bertahan sebentar dan kemudian berbalik arah tanpa bisa ditawar-tawar lagi. Di tengah kepentingan sosial dan dinamika tersebut ada alasan kuat untuk menambahkan, membesar-besarkan membentuk dan menyusun ulang sebuah riwayat. Di tambah lagi munculnya Abu Hurairah dalam riwayatriwayat yang merendahkan perempuan tersebut semakin menambah tingkat ketidakpastian berkaitan dengan proses kepangarangan.[18] Secara substansif analisis yang sama juga berlaku terhadap hadits-hadits tentang tulang rusuk yang bengkok, standar kecerdasan yang rendah dan perempuan sebagai jelmaan setan dan pembawa sial.Dengan demikian nampak kemungkinan yang paling nyata bahwa sebagian besar atau semua hadits anti perempuan muncul sebagai resistensi laki-laki atas peran aktif perempuan di ruang publik pada masa awal Islam.

Dengan demikian fatwa CRLO tentang s3ksualitas perempuan di atas mengarah pada gagasan tentang kesenjangan mendasar antara Kehendak Tuhan, Keadilan Tuhan, dan tujuan serta peran Syar’ah. Meskipun demikian, tidak perlu digunakan keberatan berbasis iman pada penetapan tentang fitnah yang memperlakukan perempuan secara tidak adil, sebab telah nampak sekali bahwa penetapan semacam itu didasarkan pada penyalahgunaan berbagai buki. Penyalahgunaan rersebut berkaitan dengan kegagalan menerapkan rasionalitas dan keseimbangan dalam melakukan pembuktian terhadap persoalan tertentu. Lebih jauh lagi, penyalahgunaan itu bisa juga berupa keengganan menerapkan pendekatan kritis terhadap buktibukti yang memiliki konsekuensi, serius berupa ketidakadilan yang menyakitkan dan berkesinambungan terhadap separuh orang Islam (perempuan).

_____
Catatan Kaki:
[15] Tentang nafs in wahidatin terdapat dalam sejumlah ayat Al Qur’an misalnya surah An Nisa (4) ayat 1, Surah al An’am (6) ayat 98, Surah Al A’raf (7) ayat 189, Surah Luqman (31) ayat 28, Surat Az Zumar (39) ayat 6 DEPAG RI, Al Qur’an dan Terjemah, 1997. 17 Riffat Hasan dalam Jeane Becher, Perempuan, 135

[16] El Fadl, Atas Nama Tuhan, 348.

[17] Sebuah titik tolak lain dari sebelumnya sebab diketahui bahwa Rasulullah mengangkat seorang wanita Ummu Waraqah untuk bertindak sebagai imam bagi seluruh anggota keluarganya, yang meliputi, sejauh bisa dipastikan kaum perempuan dan laki-laki. Lihat: Laila Ahmed, Wanita dan Gender, 73.

[18] Kritik yang sangat menonjol terhadap Abu Hurayrah adalah bahwa ia masuk Islam pada masa akhir kehidupan Nabi,yaitu tiga tahun sebelum Nabi wafat. Ternyata, Abu Hurayrah meriwayatkan hadits yang dinisbatkan kepada Nabi lebih banyak daripada hadits yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat Nabi selama sekitar dua puluh rahun. Lebih jauh lagi, dibandingkan dengan para Sahabat seperti Abu Bakr ,Umar, Ali, atau Abu Dzar al-Ghifari, Abu Hurayrah tampaknya tidak merniliki hubungan yang lebih khusus dengan Nabi.

[19] El Fadl, Atas Nama Tuhan, 367.


Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact