Strategi Pendidikan Seks untuk Anak Autis - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Strategi Pendidikan Seks untuk Anak Autis

Strategi Pendidikan Seks untuk Anak Autis

oleh  Zahra Lutfi Masyitah 

Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 4 Ayat 2 disebutkan: “Bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus”. Undang-Undang di atas menjelaskan bahwa anak yang memiliki kelainan emosional dan lain-lain memiliki kesempatan yang sama dalam mendapatkan pendidikan sesuai dengan kekhususannya termasuk pendidikan s3ks untuk anak autis seperti yang akan peneliti bahas dalam penelitian ini. Ketetapan dalam Undang–Undang No. 20 Tahun 2003 tersebut bagi anak penyandang kelainan sangat berarti karena memberi landasan yang kuat bahwa anak berkelainan perlu memperoleh kesempatan yang sama sebagaimana yang diberikan kepada anak normal lainnya dalam hal pendidikan dan pengajaran.

Dikatakan Tjin Wiguna, spesialis kesehatan jiwa Rumah Sakit Mangun Kusumo, Jakarta, masa pubertas adalah fase yang kritis dalam perkembangan jiwa setiap orang. Oleh karena itu, jika tidak mendapat arahan yang tepat, banyak remaja mengalami krisis identitas, tidak menutup kemungkinan pelarian dari itu semua adalah hal-hal yang negatif. Kajian tentang autis sebagaimana kajian individu yang lain tidak dapat dilepaskan dari komponen-komponen hidup manusia sebagai individu. Salah satu komponen yang dimaksud antara lain perhatian individu terhadap s3ks.[4]


S3ks adalah bagian integral dalam kehidupan manusia. S3ks tidak hanya berhubungan dengan reproduksi tetapi juga berkaitan dengan masalah kebiasaan, agama, seni, moral, dan hukum. Sebagian kepercayaan populer meyakini, bahwa insting s3ksual tidak dijumpai pada masa kanakkanak dan baru akan muncul pertama kalinya pada suatu periode kehidupan yang disebut pubertas. Kepercayaan ini meski merupakan kekeliruan yang sudah lazim, namun memiliki konsekuensi yang sangat serius, terutama ketidaktahuan orangtua mengenai prinsip-prinsip fundamental kehidupan s3ksual. Kajian mendalam tentang manifestasi s3ksual selama masa kanak-kanak mungkin akan menunjukan ciri-ciri esensial dari insting s3ksual dan mampu menunjukan kepada kita proses perkembangan serta komposisinya dari berbagai sumber.[5]

Walaupun sebagian masyarakat menolak membicarakan persoalan s3ksual, namun dalam kenyataannya mereka tidak dapat menghindari keingintahuan remaja atau anak-anak tentang s3ksualitas, karena persoalan s3ksual adalah hal yang alami. Begitu pula dengan anak autis, kajian tentang autis sebagaimana kajian individu yang lain tidak dapat dilepaskan dari komponen-komponen hidup manusia sebagai individu. Salah satu komponen yang dimaksud antara lain perhatian individu terhadap s3ks.

Schwier dan Hingsburger mengatakan, penelitian menunjukan bahwa pada individu berkebutuhan khusus (special needs individuals), dalam hal ini autis, juga terjadi perkembangan yang kurang lebih sama dengan individu normal lainnya. Remaja autis yang kurang dapat mengendalikan s3ksualitasnya cenderung lebih sering melakukan masturbasi bahkan sebagian dari mereka ada yang melakukannya berulang-ulang.[6] Fakta ini menunjukan bahwa jelas penyandang autis juga memiliki nafsu atau dorongan s3ksual yang ditunjukan melalui masturbasi sebagaimana remaja pada umumnya.

Remaja autis juga mengalami perubahan fisik, emosi, dan sosial yang hampir sama. Perubahan fisik pada remaja antara lain mulai terjadi perubahan pertumbuhan rambut di tubuh bagian tertentu seperti rambut di wajah, ketiak dan di daerah sekitar kemaluan, dan terjadi perubahan pita suara pada pria dan menstruasi pada wanita.10 Oleh karena itu remaja autis akan cenderung mengalami frustasi ketika menginjak usia remaja jika tidak diimbangi dengan pendidikan s3ks yang cukup. Rasa frustasi tersebut tentu tidak sehat, apalagi bila anak bingung oleh berbagai perubahan fisik dan hormon dalam dirinya.

Bentuk perilaku s3ksual yang sering ditunjukkan oleh anak autis yang mengalami puber yaitu menyentuh organ-organ vital atau alat kelamin, melakukan masturbasi ditempat umum, membuka baju atau celana di tempat umum, menyentuh orang lain sembarangan, menyingkap rok, dan memeluk orang lain secara mendadak (Lawrie & Jilling, 2004 dan ray, Marks & bray garethson, 2004). Sekitar 75% remaja autis menunjukan beberapa perilaku s3ksual dan kebanyakan melakukan masturbasi (Sulivan & Caterino, 2008). Kebanyakan dari mereka melakukan masturbasi  dalam waktu yang lama, dan melakukan masturbasi yang berdampak menyakiti diri sendiri (Cambridge, carnabay & Mc cartny, 2003 Waish, 2006).[7]

Fauziah Rachmawati dalam buku Pendidikan S3ks Untuk Anak Autis mengatakan, seorang dosen pernah bercerita tentang seorang anak perempuan di SD Autis yang saat haid membawa pembalut dan berlari-lari sambil menunjukan pembalut tersebut kepada teman-temannya, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba  mencium gadis yang disukainya, juga kisah anak usia 14 tahun yang gemar memegang (maaf) buah dada perempuan.  Tiga peristiwa tersebut tentunya kurang pantas bagi remaja pada umumnya. Karena itu penting sekali memberikan informasi positif mengenai s3ksualitas sejak dini. Pendidikan s3ks yang terus menerus juga akan membantu mengurangi stress dan perasaan terisolir yang biasanya muncul pada remaja autis.[8]

Perilaku s3ksual individu autis sebenarnya tidak terganggu, tapi ekspresi mereka yang mencerminkan ketidakmatangan perkembangan sosial dan emosianol yang menjadikan pendidikan s3ks bagi anak autis terlihat tabu. Dari uraian di atas sangat menarik peneliti untuk meneliti strategi pendidikan s3ks untuk anak autis menurut Fauziah Rachmawati karena beberapa alasan, yaitu: 1). Anak autis adalah anak yang memiliki gangguan perkembangan yang kompleks, di mana gangguan ini menyebabkan anak autis menjadi unik berbeda dengan anak-anak normal yang sebaya dengan mereka. 2). Anak autis memiliki hak yang sama dalam mendapat pendidikan, termasuk pendidikan s3ks, membekali anak autis dengan pendidikan s3ks diharapkan mampu menjadikan anak autis menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. 3). Pendidikan s3ks bagi anak termasuk dalam hal ini anak autis masih sangat jarang dikaji dan dibicarakan untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang strategi pendidikan s3ks untuk anak autis.

Endnote:

[4] Fauziah Rachmawati, Pendidikan S3ks, Hlm. 34-35.

[5] Nurruna Yuniarti, Pendidikan S3ks Bagi Anak Dalam Islam (Kajian Terhadap Pemikiran Abdullah Nashih Ulwan). Skripsi Fakultas Tariyah UIN Sunan Kaliaga. 2008. Hlm.6.

[6] Fauziah Rachmawati, Pendidikan S3ks, Hlm.52. 10 Ibid., Hlm.36.

[7] Annisa Sholihatina, Pengetahuan dan Sikap Orang Tua Terhadap Pendidikan S3ksual Remaja Autis Pada Fase Pubertas si SLBN Cibiru dan SLB Pelita Hafidz Bandung, Skripsi

(2012). Pdf. http:// eprins.uns.ac.id Diakses 11 Oktober 2014, 22.20 WIB

[8] Fauziah Racmawati,  Pendidikan S3ks, Hlm.33-38.



Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact