Wanita Indonesia - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Wanita Indonesia

Wanita Indonesia

Wanita Indonesia
Oleh Putu Wijaya


HARISEHAT.COM ~ Ibu saya, kakak perempuan saya, ibu tiri saya, keponakan saya, pacar saya dan kemudian istri saya, juga tetangga dan kenalan-kenalan saya, adalah kaum wanita. Tetapi bicara tentang apa yang sedang mereka tuntut, tiba-tiba saya merasa tidak mungkin menghubungkan mereka dengan diri saya atas jalur mana pun yang sudah saya sebut tadi. Lalu tiba-tiba saja kata ”wanita” atau yang oleh orang lain disebut "perempuan” kadangkala juga ”kaum ibu” atau ”kaum hawa” menjadi satu sosok yang terlepas dari yang lainnya. Sesuatu yang berdiri sendiri. Yang kemudian selalu membutuhkan kehadiran kata pendampingnya yaitu ”pria”, sering disebut ”lelaki” atau ”kaum bapak” atau "kaum adam”. Kalau keduanya dihadirkan bersama-sama, lalu tampak persamaan dan perbedaannya, dan kemudian jelas bagaimana wanita dan bagaimana pria.

Tetapi pada hemat saya, kita selama ini sudah terlalu jauh untuk hanya memandang wanita sebagai wanita dan pria sebagai pria. Ini yang menyebabkan segala pembicaraan di sekitar itu menjadi pembicaraan tentang paham, pandangan maupun citra yang berbeda-beda. Karena itu telah memanggil kita untuk bicara terlalu umum, tentang sejumlah wanita. Tentang satu dunia. Padahal di situ ada nama. Ada hubungan-hubungan pribadi yang mungkin sekali bisa berbeda seratus persen dengan seandainya tidak ada individu. Bagi saya berbicara tentang pergerakan kaum wanita, sebagaimana juga bicara tentang pergerakan kaum lelaki, kaum lainnya seperti kaum buruh, kaum cendekiawan dan sebagainya, lebih mengandung arti berteori dan membunuh manusia yang berdaging bernyawa serta hidup dalam dunia. 

Kalau sekarang saya harus bicara tentang wanita, saya ingin menolak bicara tentang wanita pada umumnya. Itu tidak manusiawi. Itu pasti akan melahirkan slogan dan kemudian korban-korban. Karena kalau misalnya saya menyetujui bahwa wanita itu tertindas, hak-haknya sudah diinjak oleh kaum pria — bahwa wanita sudah dikibulin, sudah diperbudak oleh lelaki — bila kemudian saya hubungkan dengan seorang wanita yang menjadi ibu saya, kekasih saya, atau kenalan saya, saya masih harus mencocokkannya, Karena banyak yang betul, tetapi banyak juga yang sangat keliru. Misalnya bicara tentang persamaan hak. Beberapa wanita yang saya kenal justru bisa tak berbahagia kalau mereka harus sama dengan pria. Padahal hanya selangkah dari mereka, saya juga berhadapan dengan seorang wanita, teman saya, yang benar-benar merasa berbahagia dengan persamaan hak tersebut. Bahkan persamaan hak dalam segala hal, termasuk persamaan hak dalam kebutuhan seksual. 

Negeri ini sedang berkembang. Masyarakatnya juga sedang dalam proses menyusun tata pergaulan baru. Tradisi sedang diuji dengan tumbuhnya kebutuhan efisiensi yang membentuk moral ban) di kota-kota besar, Bahkan kota kecil pun mulai menawar-nawar nilai lama, karena adanya perubahan ekonomi dan berkembangnya penduduk serta modernisasi yang memerlukan cara pergaulan yang baru. Tetapi karena keadaan masyarakat sedemikian heterogin, sulit untuk menemukan satu slogan yang bisa dihantam-kromo akan dikunyah dengan pas oleh semua warga. Sulit menemukan satu slogan yang bisa disetujui mutlak dan kemudian diperjuangkan dengan habis-habisan oleh kaum wanita. 

Saya kira saya mengerti arti kemerdekaan dan kesempatan yang lebih baik untuk kaum wanita. Tetapi begitu banyak kaum wanita sendiri yang tidak tahu apa sebenarnya yang dikehendaki oleh pemimpin-pemimpin mereka. Ada yang sama sekali tidak mengerti bahwa hak mereka terlalu sedikit. Mereka sudah berbahagia dengan apa yang ada, karena tradisi mengajarkan kepada mereka ukuran kebahagiaan seperti itu. Setelah mereka dibuat melek, lalu seketika mereka tiba-tiba merasa tercampak ke neraka. Dalam waktu yang hanya berbeda beberapa detik dengan kondisi dan situasi yang sama, tiba-tiba mereka meloncat ke sisi yang lain dan merasa tidak berbahagia. Merasa perlu untuk berontak supaya merdeka. Kemerdekaan yang mungkin sekali kalau sudah mereka dapatkan belum dapat dinikmati, karena untuk itu selera, rasa, idiom-idiom kebahagiaan baru itu belum mereka pahami.

Ini sama halnya dengan banyak orang udik — seperti saya misalnya — meninggalkan kampung dan mencoba hidup di Jakarta. Dalam tempo 10 tahun, mungkin cara bergaul, cara memenuhi kebutuhan, cara bekerja dan bersiasat dalam pergaulan sudah benar-benar kota. Tetapi jauh di dalam hati saya masih benar-benar utuh desa dan seringkali merindukan kebahagiaan sebagaimana orang udik. Misalnya merindukan kesetiaan, sopan-santun, tenggang-rasa, bahagia dengan sisa-sisa rasa rikuh — merindukan hubungan kekeluargaan dari orang-orang di sekeliling yang mungkin sekali sudah asing sekali dengan semua itu. Sehingga seringkali misalnya saya tiba-tiba sulit mengerti cara berpikir anak-anak muda yang sejak kecil sudah makan tata pergaulan Jakarta. Saya cenderung menuduh mereka memberontak, padahal mungkin dari sudut mereka sayalah yang sudah berusaha memaksakan nilai pergaulan kampung di dalam kota.

Dengan contoh ini saya tak ingin mengatakan bahwa kita harus menolak slogan, pergerakan, usaha memerdekakan atau lebih meluaskan kemungkinan bagi kaum wanita. Agaknya itu tetap perlu diusahakan di mana-mana, meskipun barangkali bisa bertentangan dengan kenyataan. Ini harus diakui oleh kaum wanita sendiri. Kalau berani mengatakan bahwa sudah banyak kaum lelaki yang tidak merupakan halangan dan musuh lagi, pada gilirannya harus diakui pula bahwa banyak kaum wanita sendiri ingin mempertahankan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak pergerakan. Kemudian rasanya yang penting adalah untuk tetap juga memberikan kemungkinan hidup pandangan-pandangan mereka itu. Kalau pergerakan memang maksudnya untuk lebih membahagiakan kaum wanita, kita h:rus berani menerima bahwa setiap wanita masih merdeka meletakkan ukuran kebahagiaan masing-masing. Apakah ingin berdiri sama tegak. Apa mau lebih tinggi. Atau apa mau lebih rendah. Asal mereka tahu saja bahwa ketiga kemungkinan itu bebas dipilih. 

Saya tidak setuju dengan propaganda dan penghasutan. Karena bagi saya itu penipuan. Pada akhirnya hanya akan mencari kalah dan menang. Juga tak ada faedahnya untuk menciptakan satu situasi untuk menggiring sejumlah wanita ke arah satu cara berpikir. Karena yang sukses kemudian adalah program pergerakan. Sedangkan wanita-wanita itu pada akhirnya harus mengakui bahwa di samping sebagai anggota pergerakan, mereka juga adalah sebuah nama yang kemudian lebih banyak berhubungan dengan jabatan, tetangga, suami, saudara, anak-anak dan sebagainya. Pergerakan, kalau toh itu masih dianggap mutlak ada, jangan sampai malah memenjarakan para wanita. Jangan sampai membunuh mereka. Bagi saya tetap, wanita yang ideal adalah wanita yang hidup. Memiliki pikiran, perasaan yang hidup tidak hanya di bawah satu slogan, tetapi. dalam kemerdekaan yang terbuka untuk segala hal-hal baru yang nyata. 

Kalau ada seorang wanita menolak menjadi ibu, artinya ia merasa tidak perlu harus melahirkan — sebab kenapa dia harus melahirkan kalau dia memang tidak mau? Kalau ada seorang wanita ingin memiliki kebebasan penuh, termasuk kebebasan seksual, meskipun sudah ada dalam ikatan perkawinan, karena dia merasa itu adalah haknya. Kalau ada seorang wanita ingin bekerja, mengejar mati-matian kariernya, karena ia merasa tidak perlu lagi wanita menjadi budak di dalam rumah. Kalau ada seorang wanita yang main sepak bola, bertinju, terjun ke bidang politik, masuk Angkatan Bersenjata, menjadi pembajak, menjadi buruh kasar pemecah batu. Kalau ada seorang wanita yang menjadi pemimpin. Bahkan kalau ada seorang wanita yang menjadi keberatan menyusui, memandikan serta mendidik anaknya — itu bukanlah karena ia sudan digerakkan oleh satu slogan, hasutan, propaganda, teori dan dendam, serta kekecewaan hidup. Tetapi karena benar-benar itu dapat membahagiakannya.

Kita akan segera berhadapan dengan sebuah pribadi yang mandiri. Yang memiliki sikap yang lahir dari pengalaman, latar belakang, pendidikan dan kebutuhannya di masa depan. Pribadi semacam ini hadir karena memilih. Kemudian menanggung seratus persen konsekuensi dari pilihan itu. Ia tidak akan punya kebutuhan untuk menjebak orang lain untuk mengikutinya. Ia akan sadar mungkin sekali itu hanya membahagiakan dia dan tak begitu saja bisa pas pada wanita lain. Dan pribadi semacam ini tentunya tidak akan merasa bahwa semua yang dilakukannya bukan satu jalan yang lebih modem, lebih baik, lebih merdeka dari orang lain. Tapi semata-mata lebih ia butuhkan. Lebih membahagiakan dirinya. 

Kaum lelaki mungkin sudah terlalu curiga. Singkatnya orang seperti saya memang sudah terlalu curiga. Barangkali ini bagian dari senjata terakhir kaum lelaki. Curiga bahwa mungkin sekali banyak wanita tak tahu apa yang sudah dikerjakannya. Namun ini adalah bagian dari mekanisme sehat yang menunjukkan bahwa mungkin sekali lelaki sudah mulai kalah di negeri ini. Dan kalau lelaki sudah mulai kalah, ngambek, mogok, tak bersikap, para wanita telah menambah pekerjaannya. Karena banyak mungkin menjadi kecewa melihat kaliber lawan jenisnya yang ternyata kelas kambing. Akan banyak yang menemukan kesulitan untuk menganggap bahwa mitos yang menghantui sebutan "'jantan”, "jagoan” pada suami, pacar atau teman laki-lakinya ternyata gombal. Karena mungkin sekali diam-diam pada mulanya mereka tidak benar-benar berniat menang, tapi hanya ingin melawan, memberontak, lebih diperhitungkan, lebih dianggap, dan mungkin sekali untuk lebih dimanjakan dan dipuja. 

Saya kenal beberapa wanita yang benar-benar memerlukan untuk menang dari situasinya yang memang tergencet. Pekerjaannya, latar belakangnya, serta totalitas dirinya memerlukan satu status yang lebih merdeka dari keadaan yang dideritanya. Kebanyakan di antara mereka merasa banyak sekali wanita di negeri ini harus dimerdekakan. Banyak lelaki dan tata cara lama yang harus dihajar. Mereka adalah wanita-wanita yang melihat ego lelaki sudah terlalu dibebaskan untuk berkembang, tumbuh dan kemudian berkuasa, sedang wanita dipukul rata sebagai kelompok yang lebih lemah. Mereka bergerak bukan untuk lebih dimanjakan atau dipuja, tapi untuk mendapat kesempatan yang sama. Artinya ada kemampuan yang meledak-ledak dalam dirinya sehingga ia punya keharusan untuk mencarikan saluran. Ia hancurkan apa saja yang menghalanginya, karena ja ingin berhasil. 

Saya kenal juga beberapa wanita yang memiliki potensi yang sama, kebutuhan yang sama, akan tetapi menempuh jalan yang lain. Dia melesat ke depan, berhasil dan berbahagia, tetapi tidak menjadi sebagian dari slogan. Dia tetap hadir tidak hanya sebagai manusia yang sukses tetapi juga sebagai sebuah nama yang kemudian memiliki bermacam-macam tali ikatan dengan sekitarnya Orang tuanya, tetangganya, suaminya, anaknya teman-temannya atau pacarnya. Ia tidak masuk dalam permainan "wanita” — ”pria”. Ia luluh dalam satu kehidupan yang dihuni oleh manusia tak perlu disebut wanita.atau pria. Wanita seperti ini tahu betul apa yang bisa, mungkin dan sangguh dilakukannya. Tapi ia memilih. Ia tidak melakukan banyak hal dan tak peduli kalau karena itu dianggap bodoh”. 

Saya tidak ingin mengatakan mana yang lebih baik. Keduanya ada. Kita pasti tidak akan berbahagia dan akan membuat mereka tidak berbahagia kalau memaksa mereka mengingkari dirinya. Apa lagi kalau itu terjadi dalam sebuah perkawinan. Sayang sekali kalau pergerakan cita-cita, kecenderungan yang telah memiliki jalur masing-masing harus ditambatkan pada kutub lain. Pada masing-masing mereka, dengan pribadi-pribadi yang begitu utuh dan kuat, kita tidak mungkin ikut campur. Sementara itu mereka pasti tahu juga bahwa di luar mereka masih banyak lagi kecenderungan lain, yang juga telah lengkap dan selesai sebagai sebuah pola, yang tidak mungkin dicampuri. Sehingga pada akhirnya kalau toh ada pergerakan, usaha untuk memperjuangkan semacam program, tidaklah dimaksudkan untuk mencampuri bentuk-bentuk pribadi yang sudah ada. Tapi hanya sekadar merampungkan sebuah target dalam jangka waktu tertentu. 


Tulisan ini tidak didukung oleh data-data dan saya sendiri bukan seorang sosiolog. Saya tulis ini sebagai seorang lelaki. Melihat negeri ini dan slogan-slogan yang dibuat di kota-kota saya jadi ngeri kalau harus diterapkan secara umum ke pelosok. Di tempat pekerjaan misalnya saya memerlukan seorang wanita sebagai teman, tetapi di rumah saya membutuhkan seorang istri dan di desa mungkin saya ingin menemukan seorang nenek dan seorang ibu. Saya tidak tahu apa ini bagian dari ego lelaki yang harus diganyang. Saya sadar rasa tidak bahagia mungkin sekali setiap saat akan mengancam kalau kita tidak menemukan cara berpikir dan program yang sama. Sementara perceraian masih selalu dihebohkan sebagai kegagalan perkawinan — bukannya jalan terbaik untuk mengakhiri penderitaan, dan hidup bersama tanpa nikah masih tetap diincar-incar Hansip — bukannya dianggap sebagai usaha untuk menyelamatkan lembaga perkawinan. 

Negeri ini sedang tumbuh. Manusianya juga sedang berceloteh dan mengembangkan teori-teorinya, termasuk berusaha untuk nyaplok berbagai pola yang mungkin lebih enak, lebih pas dan lebih membahagiakan. Para lelaki memang tak pantas hanya menjadi saksi saja. Mereka boleh menolak, tetapi boleh menyokong. setiap usaha untuk lebih membahagiakan wanita, karena wanita juga mestinya tidak hanya kepingin disokong. Mungkin tidak semua orang bisa berbuat seperti almarhum John Lennon yang karena simpatinya pada kaum wanita kemudian menyokong agar Yoko Ono menempuh hidup di luar rumah, sementara ia sendiri merawat anaknya di rumah. Mungkin kaum lelaki di negeri ini ada yang hanya bisa membiarkan saja semuanya mengalir. Dan kalau sudah begitu, tinggal adakah wanita siap menerima seorang lelaki sebagai badut saja. 

Kalau ada wanita ingin kebebasan, asal ia paham betul apa yang dikehendakinya dan segala konsekuensinya, saya pribadi selalu bersikap tidak menghalangi. Sebaliknya kalau ada wanita yang ingin menyerah, dilindungi dan mengabdi, asal dia tahu betul ia sebenarnya memang memilih itu, saya juga tidak berniat untuk mengusiknya. Rasanya akan makin kikuk kalau kita harus selalu ingat perbedaan wanita dan pria. Alangkah menariknya kalau kita bisa berkumpul dengan hak dan kewajiban yang sama, tanpa diganggu oleh perbedaan “perbedaan yang elementer itu. Karena masih banyak perbedaan antara wanita dengan wanita dan pria dengan pria, sudah mulai demikian 'menyoloknya sekarang. Saya kira musuh wanita kini bukan pria. Dan sebaliknya,. Musuh kita adalah orang yang tidak sependapat dengan kita yang bermaksud menyerang kita dengan target supaya prinsip kita hancur. Di luar itu, sekadar perbedaan saja, rasanya bukan harus dipertengkarkan. Bahkan sekadar berbeda pandangan mengenai wanita pada umumnya juga bukan soal. Sedihnya, menghargai sikap inilah yang sering tak kita temui, karena kita sudah diamuk semangat gotong royong yang membabi buta. Maunya putih-putih semua, merah-merah semua. 

Kembali kepada soal wanita. Di negeri ini saya melihat wanita bekerja berat. Belum bebas dari beban penderitaan ekonomi. Masih banyak yang percaya bahwa mereka memang lemah. Karenanya kaum lelaki banyak yang merajalela. Tetapi di samping itu juga saya lihat beberapa orang “wanita sendiri sadar tak sadar telah berusaha menularkan cara hidupnya yang mereka anggap paling membahagiakan tanpa melihat kondisi wanita yang lain. Bagi saya ini persoalan serius yang memerlukan diskusi .yang panjang, tapi sering disepelekan. 

Jakarta, 9 Juni 1981

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact