Membandingkan Pengobatan Barat dengan Timur - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Membandingkan Pengobatan Barat dengan Timur

Membandingkan Pengobatan Barat dengan Timur

Membandingkan Pengobatan Barat dengan Timur


HARISEHAT.COM ~ Pengobatan barat atau timur selama ini berjalan terpisah-pisah. Belakangan ini ada tren baru di un medis yang menggabungkan kedua ilmu tersebut sebagai pilihan pengobatan.

Pendidikan kedokteran dan pelayanan medis di Indonesia hingga saat ini masih bertumpu pada kedokteran Barat. Hal itu cukup dimaklumi mengingat sejak awal adanya pendidikan kedokteran di Tanah air, 2 Januari 1849. Waktu itu pendidikannya hanya diselenggarakan di rumah sakit militer, dimana memang merujuk pada ilmu kedokteran Barat. Wajarlah bila sampai sekarang, pola pengobatan yang berkiblat pada kedokteran Barat itu telah mendarah daging pada insan dokter Indonesia. Tak ayal banyak di antara para tenaga medis yang kurang bisa menerima pengobatan kedokteran alternatif, semisal akupunktur. 

Padahal pengobatan itu kini telah jelas secara evidence based medicine bermanfaat untuk kesehatan masyarakat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia selaku pemegang kebijaksaanaan kesehatan melihat maraknya pengobatan ala timur itu sebagai perkembangan yang pesat dari pemanfaatan pengobatan traditional akupunktur dalam sistem pelayanan kesehatan formal. “Depkes RI sendiri melihat fenomena itu sebagai sesuatu hal yang positif dan perlu disikapi secara arif melalui pembinaan dan pengawasan yang baik sehingga penyelenggaraannya berlangsung dengan aman, bermanfaat, dan dapat dipertanggung jawabkan jelas Dr. R. Bambang Sardjono, MPH, Direktur Bina Kesehatan Komunitas Depkes RI. Lebih lanjut Direktur Bina Kesehatan Komunitas itu mengatakan, Sistem kesehatan Nasional (SKN) kita sebagian besar mengacu kepada pelayanan kesehatan konvensional (modern). Meski demikian UU kesehatan kita juga memberi ruang pelaksanaan pengobatan traditional di dalam menunjang kesehatan masyarakat. 

Sesuai dengan UU Kesehatan No.23 tahun 1992 pasal 47 yang menyebutkan,“Bahwa pengobatan traditional merupakan salah satu upaya pengobatan dan atau perawatan — Cara lain di luar ilmu kedokteran atau itu telah mendarah daging pada insan dokter Indonesia. Tak ayal banyak di antara para tenaga medis yang kurang bisa menerima pengobatan kedokteran alternatif, semisal akupunktur. 

Padahal pengobatan itu kini telah jelas secara evidence based medicine bermanfaat Untuk kesehatan masyarakat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia selaku pemegang kebijaksaanaan kesehatan melihat maraknya pengobatan ala timur itu sebagai perkembangan yang pesat dari pemanfaatan pengobatan traditional di Indonesia. Hal itu didorong oleh kesadaran masyarakat untuk memelihara kesehatannya melalui prinsip “back to nature“ (kembali ke alam). Masyarakat di negara barat mulai takut dengan obat yang rata-rata merupakan zat kimia. Seperti diketahui, zat kimia kerap merusak organ dan menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, mereka mulai aktif mencari dan meneliti pengobatan alternatif minimal efek samping serta teruji secara klinis. Tak ayal akupunktur sebagai suatu prosedur yang aman dan bermanfaat diterima dengan baik. 

Demikian juga dengan obat bahan alami. Bahkan, badan kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) pun mengakui dan telah memasukkan Komunitas itu mengatakan, Sistem kesehatan Nasional (SKN) kita sebagian besar mengacu kepada pelayanan kesehatan konvensional (modern). Meski demikian UU kesehatan kita juga memberi ruang pelaksanaan pengobatan traditional di dalam menunjang kesehatan masyarakat. Sesuai dengan UU Kesehatan No.23 tahun 1992 pasal 4/ yang menyebutkan,”"Bahwa pengobatan traditional merupakan salah satu upaya pengobatan dan atau perawatan cara lain di luar ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan. Pada prinsipnya pengobatan tradisional yang sudah ada di Indonesia dapat dipertanggung jawabkan manfaat dan keamanannya sehingga harus ditingkatkan dan dikembangkan untuk digunakan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.” 

Kedua metode pengobatan itu, baik yang berasal dari Barat maupun Timur merupakan ilmu pengobatan yang terus berkembang mengikuti perkembangan pola penyakit yang ada. Masing-masing dengan filosofi dan dasar keilmuan yang berbeda. Keduanya tidak perlu saling dipertentangkan karena memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. 

Bila digabungkan, Ta Ledua metode pengobatan itu bisa saling melengkapi dalam pelayanan kasehatan untuk mencapai derajat kasehatan masyarakat yang optimal. Meski tak sepesat di luar negeri, perkembangan kedokteran Timur di Indonesia sudah mulai tampak menggeliat.“Hal itu bisa dilihat dari perkembangan pendidikan berupa pendidikan ilmu akupuntur yang dapat dijumpai di beberapa universitas negeri, seperti Universitas Airlangga atau Poltekkes Solo yang kesemuanya setara D3" ujar Dr. Bambang. Selain itu telah ada pula pendidikan dokter spesialis akupunktur di Fakultas Kedakteran Universitas Indonesia. 

Lebih lanjut Dr. Bambang menambahkan, pemerintan juga berupaya menerapkan sistem pengobatan traditonal ke dalam sistem kesehatan Nasional secara komprehensif yang sudah dilakukan di banyak negara. Untuk Indonesia sendiri penerapannya telah dilakukan di beberapa rumah sakit swasta, RS Kanker Dharmais dan RS Persahabatan. Untuk di luar kota ada di RS Dr. SutoMO di Surabaya dan RS Panti Rapih di Yogyakarta. Selain itu pelayanan akupuntur juga sudah mulai diberikan di puskesmas. 

Secara ilmiah, khasiat pengobatan traditonal masih banyak yang lemah dalam pembuttian. Misalnya saja khasiatnya baru diakui berdasarkan turun temurun. Diterima tidaknya pengobatan tradisional di masyarakat tentu berdasarkan dengan penelitian yang secara ilmiah telah dilakukan. 

Oleh karena itu Depkes RI dengan dibantu lembaga-lembaga penelitian terkait telah melakukannya. Di sisi lain para praktisi di bidang pengobatan tradisional diharapkan memberikan pengobatan secara aman, bermanfaat, terjangkau dan dapat dipertanggungjawabkan. Di Indonesia untuk saat ini sudah ada unit fungsional yang disebut Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) sebanyak 13 buah,yang tersebar di 13 propinsi. Dua di antaranya telah ditingkatkan kelembagaannya menjadi unit pelaksanaan teknis (UPT ) Depkes. Sentra tersebut bertugas untuk pengkajian/penelitian/pengujian, pendidikan, pelatihan, dan pelayanan tentang obat dan cara pengobatan tradisional. 

Pemerintah sendiri sangat mendukung pengembangan pengobatan tradisional di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa unit di Depkes yang terkait dengan pembinaan dan pengembangan upaya kesehatan tradisional.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact