Belajar Hidup Sehat pada Orang-Orang Okinawa - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Belajar Hidup Sehat pada Orang-Orang Okinawa

Belajar Hidup Sehat pada Orang-Orang Okinawa

Belajar Hidup Sehat pada Orang-Orang Okinawa
Oleh dr. Handrawan Nadesul


HARISEHAT.COM ~ Supaya sama pandai dan sebijak orang Okinawa meraih umur panjang, hidup perlu diprogram ulang. Gaya dan pola hidup mereka itu yang perlu dunia kutip. Bagaimana bisa persis dunia mencontoh seperti yang selama berabad-abad sudah mereka lakukan turun-temurun.

Tubuh nelayan Okinawa ratarata kurus. Kini dunia medik juga membaca bagusnya status kesehatan seseorang atau suatu bangsa bukan dari sosok gemuknya. Bukan pula dari kelewat kurusnya. Sosok tidak gemuk, tetapi tidak juga kurus yang selalu harus setiap orang rindukan. 

Dengan memiliki sosok seperti itu, pintu cita-cita menuju masih tetap sehat dan mendapat umur panjang mulai terkuak. Tak cukup tidak gemuk, tetapi tidak kurus belaka, kalau sorot mata tak setajam mata elang. Kalau pikiran tak sejernih mata air. Percuma saja kalau gerakan badan tak segesit tupai. 

Selebihnya harus masih terus bisa tetap bugar. Lebih dari hanya itu. Bisa berhasil meraih rasa sentosa sampai terbenam mentari kehidupan. Untuk itu ada seberkas kaidah lain yang perlu dipatuhi. Ganti buku kehidupan Anda mulai dari bab paling awal. Tuliskan skenario baru bagaimana hidup lebih sehat ditata. Upaya antipenuaan (senescence) sebenarnya dimulai dari pola hidup. 

Kalau kebugaran penuh berujung rasa sentosa yang hendak kita kejar, jangan letih memperjuangkannya. Pertama-tama hal-ihwal makan kita. Sikap makan kita eloknya tak terlalu besar porsinya. Sedikit-sedikit tapi sering. Basisnya makanan serba alami. Jauhkan menu olahan (refined diet). "Berpindahlah ke menu alami yang telah cocok dengan tubuh manusia sejak jutaan tahun lalu," seru Geof Bond, MD. 

Orang-orang Okinawa, sebagaimana suku-suku di dunia yang populasi centenarian-nya tinggi, punya pola makan dan pilihan menu harian yang sama. Serba alami, porsi kecil, dan pantang menu serba olahan. Mereka memilih menu alami kaya karbohidrat, jenis padi-padian, kacang-kacangan, biji-bijian, umbi-umbian, selain sayur-mayur, dan bebuahan segar. Porsi protein lauk-pauknya tak berlebihan dan lebih didominasi yang berasal dari ikan. "Rakus makan ikan seperti nelayan Okinawa", kini menjadi ikon kedokteran modern. Sesedikit mungkin menu daging, atau unggas dengan pakan buatan (ayam dan itik ras), beralih memilih lebih banyak ikan laut dalam. Menu ikan lebih menyehatkan "usia emas" lantaran dua hal. 

Pertama, karena ikan kaya akan protein. Sepanjang usia tubuh kita membutuhkan kecukupan protein selain keanekaragaman jenis proteinnya (kecukupan asam-amino esensialnya). Manfaat lain ikan, lemak ikan tergolong lemak sehat (omega-3) dibanding lemak dari gajih daging sapi, daging babi, atau unggas. Terlebih daging ayam ras yang diberi pakan buatan sehingga berlimpah gajih lemak jenuhnya. Lemak jahat ini kini musuh nomor satu manusia modern. 

Ayam kampung (buras) yang pakannya dikais sendiri di alam bebas memperoleh kelengkapan gizi sesuai kodratnya. Masuk akal kalau kualitas dagingnya lebih menyehatkan dibanding daging ayam ras yang pakannya buatan manusia. Pakan yang terbatas dan belum tentu mencukupi kebutuhan ayam. Maka, tetaplah ingat bahwa basis segala yang menyehatkan hendaknya bersumber dari yang serba alami. 

Walau bukan ternak dengan pakan khusus pun, lemak jenuh daging merah (sapi, kambing, kerbau, babi) lebih tinggi dibanding daging hewan liar seperti rusa, babi hutan, kelinci, atau tupai. Begitu pula kualitas ikan dari laut dalam, pasti lebih menyehatkan dibanding daging ternak, unggas, dan ikan produk budi daya. Lebih menyehatkan setelah berumur kepala empat, bahkan sejak usia muda dan semasa kanak-kanak, sekiranya memilih sumber protein hewani dari ikan, atau hewan liar, ketimbang daging hasil ternak. Tujuannya demi tubuh tak kelebihan pasokan lemak jahat. 

Ternak hewan budidaya juga berisiko tercemar antibiotika, hormon, atau pestisida. Menu harian orang-orang Okinawa condong memilih semua jenis menu menyehatkan seperti disebut di atas. Air minum dari mata air, mengirup udara masih segar yang masih penuh berisi zat asam, sayur-mayur dan bebuahan bebas zat kimiawi yang dipetik dadakan. Semua masih segar dan lengkap kandungan zat gizi alaminya. Bukan buah dan sayur rekayasa genetik (transgenik), atau sudah disimpan lama dan diawetkan pula. 

Kini orang mencari yang menyehatkan itu pada sayur-mayur dan bebuahan organik. Makanan-minuman segar alami masih terkandung zat kehidupan (bioactive) seperti chlorophyl yang suplemennya sekarang mulai dicari orang pula. Fakta buruk di hadapan orang modern semakin memprihatinkan. Rata-rata sumber makanan orang sekarang kebanyakan hasil budidaya dan belum tentu masih segar pula. 

Melihat panjang rantai waktu antara masa panen sampai tiba di dapur rumah, bahan makanan masih perlu ikut campur pengawet, pendingin waktu penyimpanan, dan pestisida. Itu yang menjadikan menu berubah tak alami lagi. Sudah sejak di hulu sebelum tiba di meja makan, bahan makanan babak belur oleh aneka pencemar. Jenis menu orang modern penuh risiko masih melekatnya zat kimawi di kulit buah, di permukaan daun sayur-mayur, serta cemaran antibiotika dan hormon dalam daging. Itu semua "racun" orang modern yang sudah dipikul dan menumpuk dalam tubuh selama bertahun-tahun. 

Timbunan di tubuh konsumen yang menjadi "racun" (baca: torin) di organ-organ tubuh, khususnya lemak dan hati. Itu sebabnya, orang bergaya hidup modern dengan menu dan pola makan modern, memerlukan upaya detorification untuk menguras "racun" di tubuhnya. Belum kalau salah pula cara mengolah bahan pangannya. Sudah bahannya tak segar dan kehilangan sebagian zat gizinya oleh proses penyimpanan, pengawetan, dan pengiriman-jika diolah kelewat panas dan terlalu lama, selain sudah menambahkan ini-itu tambahan pangan (additif), akhirnya menambah buruk kualitas menu harian. Yang terhidang tak sesehat menu nelayan Okinawa lagi. Kita patut iri pada menu orang Okinawa. Kelebihan lain, selain menunya lebih menyehatkan, pola makan sehat orang Okinawa diselingi sesekali berpuasa makan.

Bahwa berpuasa makan di penglihatan medik terbilang menyehatkan Motor organ jeroan tubuh sementara waktu benar perlu diberi jeda. Perlu waktu mengaso buat mengendurkan keletihan oleh beban aktivitas rutin dari jam ke jam. Orang Okinawa penganut semi vegetarian juga Mereka lebih banyak mengonsumsi sayur-mayur, sereal, bebuahan, dan lauknya berasal dari telur dan susu. Menu daging-dagingan dibatasi. Bukti lain membatasi daging dan mendahulukan ikan ternyata menyehatkan. 

Pedusunan Okinawa berjuluk Shangri-la. Itulah pulau khayalan tempat kebahagiaan tanpa akhir hadir selayak di kayangan. Di sana orang mengalami hidup nyaris tanpa stres. Sentuhan jalinan ikatan komunitas tersimpul kuat sehingga hidup dalam suasana guyub. Mereka hidup di tengah alam yang masih perawan pula. Nenek moyang kita melakukan hal yang sama.

Kebalikan dari atmosfer Okinawa, orang sekarang rata-rata memikul beban stres melebihi kemampuan orang menyesuaikan diri dengan stresor-nya. Jatuh stres menjadi wabah baru orang modern. Kebanyakan penyakit orang modern sekarang lebih sebagai akibat kegagalan orang beradaptasi dengan stressor (konflik, tekanan, frustrasi, krisis). Didera stressor yang sama untuk waktu lama, membawa orang jatuh stres. Orang lalu memikul malstress. Ini jenis stres yang jahat. Supaya jiwa raga tahan banting, dalam hidup orang bukannya tidak memerlukan stressor. Namun, kalau stressor yang sama berlangsung terus-menerus untuk waktu lama, itu yang tidak boleh terjadi karena bikin orang jadi stres. Maka, jangan anggap enteng stres. Sepertiga penyakit yang muncul pada orang modern, stres pencetusnya.

Penyakit stres muncul akibat beban jiwa dihibahkan ke dalam penderitaan fisik. Diperiksa semua kondisi fisik normal. Namun, orang mungkin mengeluh maag, jantung berdebar, perut melilit, dan badan terasa tidak nyaman terus. Bukan sebab tubuh benar yang menderita, melainkan karena jiwa yang organ tengah perih-pedih memikul beban berat kehidupan. Faktor stres mengisi empat perlima penyebab penyakit menahun orang modern. Termasuk kasus serangan jantung yang tak bisa dijelaskan kenapa. Apabila pada pasien jantung tak ditemukan adanya satu pun faktor risiko, bisa jadi stres penyebab serangan jantungnya. 

Munculnya kasus atlet terserang penyakit jantung, misalnya, ingin mewakili fakta bahwa faktor stres ternyata bisa lebih kuat dari faktor fisik prima semata. Tak cukup memiliki tubuh sekokoh atlet kalau akhirnya stres bisa menaklukkan ketangguhan fisik. Tidak seperti itu jalan hidup yang ditempuh orang Okinawa. Hidup mereka terjaga dalam harmoni. Semua ditata serba seimbang. Bukan saja dalam hal makan dan minum, melainkan juga dalam bekerja (psychosprirituality), dan bagaimana elok menempuh hidup. 

Di ranah tradisi orang Okinawa, kekayaan duniawi diikhtiarkan sekaligus demi sebesar-besar kesentosaan hidup. Barangkali itu yang menumbuhkan rasa damai dalam hidup. Buat apa banyak harta, uang, dan kuasa, kalau tak lagi memungkinkan menikmati. Kalaupun dirasa perlu bekerja lebih keras, itu dilakukan sebagai upaya perjuangan ke luar. Dilakukan demi memampukan menempuh perjalanan panjang ke dalam jiwa dan roh. Bentuk berziarah ke dalam diri. Dari situ dosis tinggi vitamin batin mereka petik.

Untuk itulah hidup tertib perlu dibangun. Sambil tetap mengutamakan hidup berdisiplin, yakni dengan bersikap diri menjunjung tinggi kebenaran; menerima tanggung jawab, hormat pada kehidupan, menunda kepuasan, dan menata hidup seimbang, perlu pula membangun diri agar memberi manfaat bagi orang lain. Mampu meraih hidup menjadi bermakna jika hidup punya manfaat buat orang lain. 

Dari sana bersemi rasa sejahtera. Ada rasa nikmat dalam memberi. Orang Okinawa menggiatkan aktivitas fisik untuk segala kegiatan keseharian. Terus aktif menggerakkan jasmani. Mereka gemar berdansa, berkebun, dan berjalan kaki. Itu semua menyumbangkan tiga komponen kebugaran (total fitness) sejak mereka masih kecil. Exercise sudah menjadi bagian hidup. 

Ada yang lebih elok lagi ketika menyaksikan kehidupan nelayan Okinawa. Mereka bahkan menempuh kehidupannya dengan perasaan riang gembira, penuh canda, dan tawa. Hanya berpihak pada pikiran positif saja, menjauhkan pikiran negatif. Ini bagian dari pembersihan jiwa (psychohygiene). Tidak demikian kesibukan orang modern. Orang sekarang kehilangan banyak perasaan yang ditelan oleh hiruk-pikuk ombak kehidupan modern. Justru ketika hidup semakin keras, dosis ketawa kita semakin berkurang. Aktivitas tertawa, model tertawa yang sampai terpingkal-pingkal sekarang diterima dunia kedokteran sebagai obat ampuh pengendur perih-pedih kehidupan. 

Ada nilai tambah dari membiasakan tertawa. Tertawa terpingkal-pingkal menghasilkan hormon endorphin (morfin yang diproduksi oleh tubuh), yang membanjir dalam darah. Endorphin molekul bahagia. Semakin berbahagia, semakin membanjir endorphin dalam darah. Itu maka, demi hidup terpetik lebih indah, kita wajib mengutip segala tata laku kehidupan orang Okinawa. 

Studi panjang di sana membuktikan bahwa yang secara kodrati dibutuhkan oleh sekujur jasmani dan rohani telah dipenuhi oleh pola dan gaya hidup milik mereka di sana. Teraihnya umur panjang dan tetap sehat penduduk Okinawa bukan hadiah. Itu produk samping yang mereka petik setelah upaya merawat hidup pada tingkat kesehatan yang adiluhung, sejak masih di hulu, tekun mereka jalani. 

Buah model hidup ala orang Okinawa terukur oleh parameter medik. Penyakit jantung, stroke, dan kanker, penyakit utama kalangan usia lanjut, khususnya musuh kelompok orang modern, ternyata sudah langka di masyarakat Okinawa. Hal itu menjadi bukti lain bahwa membatalkan penyakit-penyakit orang modern ternyata memang dapat dimanipulasi. Bahwa dengan cara mengubah pola dan gaya hidup, penyakit yang sebetulnya tak perlu terjadi itu bisa digagalkan kemunculannya. 

Dalam masyarakat yang berpola dan bergaya hidup ala orang Okinawa, unit perawatan jantung koroner bisa dikurangi sampai empat per limanya. Risiko kanker boleh dipotong sepertiganya. Perawatan rumah sakit banyak yang bisa dihapus. Itu berarti ancaman penyakit yang merongrong umur manusia menjadi semakin alit. Bahkan dibandingkan dengan orang Jepang di wilayah lain, orang Okinawa jauh lebih sehat. Umur harapan hidup orang Okinawa mencapai 81,2 tahun. Angka itu lebih panjang dari rata-rata orang sebangsanya yang hanya 79,9 tahun. Itu berarti umur harapan hidup orang Okinawa terbilang yang paling panjang di dunia. Kaum wanitanya bahkan mencapai 86 tahun Kebanyakan dari orang Okinawa mencapai umur lebih 100 tahun.

Sumber: buku Jurus Sehat tanpa Ongkos (2008)

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact