Hidup Sehat Menjadi Orang Desa - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Hidup Sehat Menjadi Orang Desa

Hidup Sehat Menjadi Orang Desa

Hidup Sehat Menjadi Orang Desa
Oleh dr. Handrawan Nadesul


HARISEHAT.COM ~ Kehidupan sehari-hari orang Okinawa bukan tertib dan teratur saja. Mereka hidup serasi dengan irama alam. Masih bisa tenang di tengah mobilitas gerak kehidupan modern yang serba bergegas. Sebaliknya kita menyaksikan irama kehidupan orang modern tak lagi tenang mengalun. Derap hidup orang modern harus berjingkrak menyalahi kodrat kerja semua organ tubuh. Ketika umur sudah semakin terulur, irama hidup bergegas seperti itu sudah tak lagi cocok. Eloknya ketika sudah tiba di puncak kehidupan, lingkungan di mana kita akan hidup sentosa perlu kita pilih, Tak mungkin mengubah lingkungan apa pun sekiranya bukan wilayah yang cocok buat usia tua.

Kalau lingkungan hari tua tak lagi cocok, kita perlu dimampukan menyesuaikan diri berada di tengah lingkungan yang sudah terbentuk dan tak mungkin diubah itu. Untuk itu perlu energi beradaptasi. Tak setiap yang sudah uzur mampu melakoninya. Lingkungan sosial perkotaan dan kota besar tak ramah buat "usia emas" Secara fisis penuh polusi mengotori tubuh yang sudah serba menurun ketahanannya untuk kuasa melawannya. Itu stressor tersendiri. Belum ketika harus berada di tengah komunitas yang lebih belia, yang tampil beringas. Ketika ketahanan jiwa sudah getas, lingkungan sosial kota bukan pilihan yang cocok. 

Sanitasi lingkungan sekarang cenderung jorok dan orang-orang tidak higienis lagi. Ketika umur semakin bertambah, daya tahan tubuh sering tak kuasa lagi melawan infeksi, Maka, kondisi seperti itu tak lagi bersesuaian dengan ketahanan fisik kelompok "usia emas" yang sudah kian rentan. Perlu arif memilih bakal di mana hidup menjalani "usia emas". Kelompok "usia emas" rata-rata sudah meraih prestasi kehidupan. Martabat sudah terbangun dan bijak melihat pahit-getirnya kehidupan. Kelompok ini sendiri yang seyogianya memosisikan diri di ranah yang lebih cocok. Tujuannya agar semua yang sudah dicapai dan diraih, termasuk tegaknya harkat martabat, tidak harus pupus atau terkoyak akibat keliru memilih berada di lingkungan yang salah. 

Demi kebugaran jiwaraga, hanya memilih hidup di pedesaan, misalnya. Perlu dipikirkan ulang oleh kelompok "usia emas", demi meraih tingkat paling bugar dalam hidup, pertimbangkan memilih bentuk gerakan "ruralisasi". Gerakan hijrah ke rural, pulang dari puncak kehidupan. Bukan untuk berdiam diri. Tetap

beraktivitas sesuai dengan kapaes tas, pengalaman, dengan kesukaan pribadi. Hanya memindahkan ke giatannya di geografis yang lebih bersesuaian dengan umur. Bagi mereka yang mulai uzur, harus tulus mundur "menepi" ke wilayah yang lebih bersesuaian dengan kondisi umur. Umur yang semakin rentan terinfeksi (oleh polusi biologis di perkotaan), tidak tahan menahan stressor (akibat irama kehidupan kota besar yang serba bergegas), tak gesit lagi menghadapi lincah serta dinamisnya kehidupan kota besar yang tak selalu ramah pada kelompok usia uzur. Irama pedesaan dan hidup di daerah cenderung bisa lebih alon-alon. 

Bersesuaian pula dengan gerak hidup sosok yang mobilitasnya sudah lebih terbatas, lamban, serta kurang cekatan lagi. Kultur orang pedesaan juga lebih santun. Bagi kelompok usia yang di tengah hiruk pikuk kehidupan kota berisiko merasa diri disisihkan, di pedesaan masih kembali bisa merasakan kehangatan hidup. Hidup dalam sentuhan komunitas yang ramah-tamah. Sebuah milieu yang lebih manusiawi. Paguyuban yang masih bisa membuat yang sudah sepuh merasa tetap diperlakukan sebagai manusia. 

Merasa hidup diterima orang lain, merasa ada manfaat bagi orang lain, merasa diri hadir, bagian dari kehidupan yang sering hilang dalam komunitas kultur modern orang sepuh di perkotaan. Itu yang bikin banyak kelompok "usia emas" merasa kesepian. Usia emas harus menjauh dari kultur orang yang terancam kesepian akibat kehilangan komunitas. Itu terjadi manakala hidup terasa menjadi tidak guyub lagi dan terancam kehilangan makna. Dan, itu juga stressor tersendiri. Semua itu malah berisiko bikin orang lekas menjadi tua (premature aging).

Alasan lain kenapa kelompok "usia emas" arifnya memilih hidup di pinggiran, karena secara geografis daerah pedesaan juga masih lebih menyehatkan. Udara masih tebal kandungan oksigen yang diperlukan paru-paru orang usia lanjut karena tiga per lima kapasitas. paru-paru usia uzur sudah susut. Lain dari itu, air minum alami dari mata air lebih menyehatkan. Tubuh tidak tercemar mineral berbahaya. Ginjal terbebas dari logam berat, selain cemaran lain dalam air minum. Seperti ini yang merusak sumber air minum perkotaan. Berdomisili di daerah rural masih dapat bebas bergerak badan di pagi hari di dekat rumah, jauh dari ancaman ganasnya lalu lintas kota yang semrawut. Hidup tenang ketika cahaya matahari masih kaya ultraviolet untuk ikut menjaga kekukuhan tulang. Di pedesaan juga masih memungkinkan mendapatkan sayur-mayur dan bebuahan segar yang sukar ditemukan orang di kota. Itu berarti semua sumber zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk memelihara kebugaran seluruh sel tubuh lebih mungkin terpenuhi. Kehidupan orang kota memikul efek samping orang modern yang muncul akibat revolusi industri. Bisa saja panjang umur, tetapi timbunan racun industri, cara makan, pilihan menu, dan gaya hidup orang kota, merongrong sosok kesehatan ketika umur sudah semakin mengulur. 

Alhasil, hidup di perkotaan benar bisa berumur panjang, tetapi belum tentu masih bisa tetap sehat. Kita mendengar sekarang orang mempertimbangkan memihak kepada menu slow food (Dr. Carlo Petrini). Orang semakin menginsyafi terpaksa dan sudah saatnya harus membelot dari penjajahan menu fast food. Orang menemukan slow food dalam tradisi menu pedesaan.

Penyakit terkait usia tua muncul sebab bakat genetik yang dibawa (genetic preprogram cell death). ditambah lingkungan yang dirusak oleh racun (dalam makanan, minuman, gas di udara, gelombang elektromagnetik) dan gangguan pada pembuluh darah tubuh sendiri. Umur manusia ditentukan pula oleh kondisi pembuluh darah tubuh. Semua faktor yang memperburuknya kita temukan dalam kehidupan perkotaan. Termasuk akibat memilih menu yang salah dan membiarkan penyakit menahun lama dipelihara. 

Orang-orang di Barat yang telanjur keliru bergaya dan berpola hidupnya sampai ke hilir, kini berbondong-bondong tengah melakukan koreksi. Gerakan kembali ke alam nyaris seperti kegiatan pemadam kebakaran. Tidak demikian halnya dengan orang yang hidup di Timur. Mereka sudah mencegah semuanya sejak di hulu. Seperti itu galibnya cara dan gaya hidup nenek moyang kita. Sekarang generasi dunia perlu mengubah pola dan gaya hidup kembali seperti yang nenek moyang kita jalani. 

Sikap kita perlu satu hal. Memetik yang bagus dari cara sehat orang di Barat, sekaligus memetik hikmah dari bersahajanya cara sehat orang Timur. Ini sebuah sinkretisme hidup sehat. Persenyawaan antara unsur kehebatan teknologi Barat dengan unsur kearifan Timur yang membentuk senyawa baru bernama kesehatan manusia yang mumpuni. 

Kemudahan dan keterjangkauan mendapatkan layanan gawat darurat perlu menjadi pertimbangan sebelum memutuskan hidup di daerah pedesaan. Perlu memilih wilayah yang berdekatan dengan lokasi rumah sakit. Pilihan ideal pada daerah yang lengkap unit layanan gawat daruratnya.

Sumber: buku Jurus Sehat tanpa Ongkos (2008)

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact