Trik Rasulullah Mengatasi Wabah Virus Corona (Covid 19) - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Trik Rasulullah Mengatasi Wabah Virus Corona (Covid 19)

Trik Rasulullah Mengatasi Wabah Virus Corona (Covid 19)

Trik Rasulullah Mengatasi Wabah Virus Corona (Covid 19)




"Jika kalian mendengar suatu negeri yang sedang dilanda penyakit Tha'un [wabah], maka janganlah kamu memasukinya. Dan apabila penyakit tersebut melanda suatu negeri janganlah kamu keluar darinya." 
(HR. Bukhari) 

HARISEHAT.COM ~ Sebagian kita mungkin masih ingat wabah SARS yang sempat menghebohkan dunia. Ketika wabah ini mengemuka, para pakar kedokteran kewalahan untuk memberantasnya. Demikian juga dengan virus corona atau covid-19 yang meresahkan dunia. Dengan adanya virus corona ini, seakan dunia sudah kiamat. Orang-orang ketakutan setengah mati.

Akhirnya, mereka mengajukan beberapa solusi. Antara lain: di beberapa negara yang telah terjangkit, para pakar tersebut menganjurkan kepada tiap orang untuk memakai masker agar terhindar dari udara yang mengandung virus SARS. Sebab, virus ini kabarnya menular via udara. Dan, konon, bila ada yang tertular, orang tersebut bakal tak tertolong. Demikian salah satu kasus wabah yang terjadi pada tahun 2003 yang lalu. 
Sebetulnya, jauh sebelum SARS tersebut mencuat, kisah penyakit berkategori wabah itu telah ada sejak zaman dahulu. Penyakit itu bukan hanya ujian atau cobaan, tapi juga bahan renungan ('ibrah) dari Allah swt. untuk hamba-Nya. 



Nah, pada zaman Nabi Muhammad saw-lah, wabah sering disebut-sebut dengan Tha'un. Secara harfiah, tha'un dalam bahasa Arab berarti salah satu bagian dari penyakit menular. 

Sementara itu, menurut para ahli kedokteran, sebagaimana dikatakan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Ath-Thibb An-Nabawy (Sistem Kedokteran Nabi), tha'un itu pembengkakan parah yang menyebabkan kematian, mengeluarkan rasa panas yang menyakitkan serta menyebabkan sekeliling bengkak (benjolan) itu berwarna hitam legam yang akhirnya menjadi koreng (luka). 

Biasanya, penyakit ini timbul pada tiga tempat anggota badan, yaitu di ketiak, di belakang daun telinga, dan pada kulit daging yang lunak (tipis). Penyebabnya adalah adanya darah kotor yang mengalir, membusuk dan merusak di dalam diri si penderita. Setelah itu, ia akan berubah menjadi penghancur yang akan merusak anggota tubuh. 
Kerapkali darah itu pecah dan bernanah hingga menyebabkan peredaran darah terganggu. Maka, kalau sudah begitu, penderita akan mengalami muntah-muntah, tubuh gemetar secara terus-menerus dan kemudian semaput. Begitulah salah satu dari sekian gejala wabah (tha'un) yang pernah ada. 

Tak aneh, bila banyak korban tha'un yang meninggal dunia karena tidak sanggup menahan beban sakit yang dideritanya. Namun, Nabi pernah bersabda, “Penyakit tha'un menjadi syahid bagi setiap muslim." (HR. Bukhari) 

Penyakit tha'un, seperti dilansir Ibnu Qayyim, pada umumnya timbul dari buruknya cuaca. Hal ini terjadi karena perubahan udara menjadi bau, busuk dan pengap. Ini terjadi pada akhir musim panas dan biasanya pada musim dingin. Pada akhir musim panas, iklim menjadi jelek lantaran sampah dan kotoran yang membusuk tidak sempat kering di saat musim panas datang. Sedang pada musim dingin adalah karena dinginnya udara, lumpur menguap dan sampah membusuk tidak sempat kering hingga menyebabkan udara menjadi panas, lembab dan bau. 

Wajar bila Hipocrate (460-377 SM), seorang ahli kedokteran Yunani Kuno berkata, "Musim dingin adalah musim yang paling menimbulkan penyakit dan kematian; sedang musim semi adalah musim terbaik dari segala musim di mana kematian sedikit sekali terjadi." 
Kendati demikian, menurut hemat penulis, tha'un tidak selamanya hadir karena semata-mata musim yang jelek. Artinya, wabah (tha'un) d├ípat juga menyebar karena faktor lainnya. Karena tha'un termasuk jenis penyakit yang menular dengan cepatnya, maka tak heran bila para penderita tha'un itu kebanyakan terpusat dalam satu daerah atau wilayah tertentu. 

Kasus SARS atau corona di atas, misalnya. Solusi paling memungkinkan hanya suntikan antibiotik dan memakai masker guna tindakan preventif-nya. Akan tetapi, pada zaman dahulu, Rasulullah saw. punya cara tersendiri menanggulangi tha'un ini.

Menurut beliau, sebagaimana termaktub dalam hadits pada pembuka tulisan ini, larangan memasuki daerah yang dijangkiti penyakit tha'un dan larangan bagi penduduk daerah tersebut untuk keluar adalah cara pencegahan terbaik agar penyakit tersebut tidak menular. 

Memasuki daerah yang dijangkiti penyakit menular berarti menyongsong datangnya penyakit dan memasukkan diri ke dalam cengkeraman penyakit. Sedang menghindarkan diri dari memasuki daerah tersebut adalah upaya awal yang ditunjukkan Allah swt. untuk mencegah diri dari terkena penyakit. 

Menurut Ibnu Qayyim, ada dua aspek kenapa Rasulullah saw. melarang orang yang daerahnya terjangkit tha'un untuk keluar. 

Pertama, mendidik jiwa percaya kepada Allah, bertawakal kepada-Nya, serta bersabar menghadapi musibah. 

Kedua, sesuai dengan pendapat para ahli kedokteran, orang yang menjaga dan menghindarkan diri dari penyakit menular harus mengeluarkan segala kelembaban yang masih tersisa di badanya, mengurangi makan dan menghindarkan segala yang lembablembab dan basah kecuali berolah raga dan mandi. 

Oleh karena itu, bagi penderita tha'un, olahraga dan mandi ini harus rutin dilaksanakan guna mengeluarkan segala kotoran dari badan dan membersihkan kotoran yang berasal dari luar tubuh. 

Sementara itu, beberapa alasan larangan Rasulullah saw. bagi orang luar memasuki daerah yang sedang dijangkiti tha'un antara lain; 

Pertama, guna menghindarkan diri dari sebab-sebab yang menimbulkan penyakit dan menjauhinya. 

Kedua, menjaga kesehatan sebagai pokok kehidupan dunia dan bekal untuk persiapan diri menuju kehidupan akhirat. 

Ketiga, Agar tidak menghirup udara yang telah kotor oleh wabah penyakti yang merusak. 

Keempat, menjaga diri dari menjenguk atau membesuk secara langsung orang yang berpenyakit menular supaya tidak ditulari penyakit itu. 



Karena betapa susahnya menanggulangi penyakit tha'un ini, maka Rasulullah saw, menjanjikan tempat yang mulia di sisi Allah bila ada penderita yang terkena tha'un meninggal dunia. "Penyakit tha'un itu membuat setiap muslim yang mati karenanya menjadi syahid." (HR. Bukhar).

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact