Virus Hepatitis lebih Bahaya dari HIV AIDS - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Virus Hepatitis lebih Bahaya dari HIV AIDS

Virus Hepatitis lebih Bahaya dari HIV AIDS

Virus Hepatitis lebih Bahaya dari HIV AIDS

HARISEHAT.COM ~ Masyarakat agaknya kini harus lebih waspada terhadap penyakit hepatitis. Riset membuktikan virus hepatitis mampu 100 kali lebih menularkan dibanding dengan virus HIV. Karena virus Hepatitis B dapat bertahan sampai beberapa minggu di luar tubuh manusia dan dapat ditemukan dalam tubuh manusia di aliran darah, air mani, air ludah, dan cairan tubuh lainnya. 

"Seseorang sangat mungkin cepat terserang virus hepatitis bila ia berhubungan erat dengan cairan tubuh sescorang yang terinfeksi hepatitis," Sebagaimana HIV/AIDS, penularan hepatitis B juga dapat terjadi dari seorang ibu ke bayinya melalui proses persalinan, hubungan seks yang tidak aman dengan orang yang terinfeksi virus hepatitis B, penggunaan pisau cukur, jarum suntik, sikat gigi, alat menikur/pedikur serta tato yang alatnya digunakan secara bersama-sama dengan penderita Hepatitis B dan tidak dibersihkan secara steril. 

"Karena tanpa gejala yang khas, manusia seringkali tidak menyadari dirinya berisiko tinggi menderita Hepatitis B. Dan kemudian secara tidak sengaja menularkannya kepada orang lain," ujarnya. 

Hepatitis B adalah penyakit radang hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B. Saat ini diperkirakan lebih dari 350 juta penduduk dunia menderita penyakit ini. Diperkirakan satu dari 20 penduduk di Indonesia menderita Hepatitis B. Indonesia termasuk daerah dengan prevalensi sedang sampai tinggi berkisar antara 4-34 persen. 

"Untuk itu, sangat disayangkan jika masyarakat tidak segera melakukan deteksi sedini terhadap kemungkinan terkena Hepatitis B. Karena bila belum terkena, biayanya sangat murah, cukup disuntik dengan vaksin hepatitis B," 

Vaksinasi sangat penting diberikan, terutama bagi bayi baru lahir. Tujuannya untuk memberikan kekebalan bagi bayi yang belum terinfeksi virus Hepatitis B. 


Pengalaman di Thailand membuktikan, pemberian vaksinasi Hepatitis B sedini mungkin mampu menurunkan prevalensi Hepatitis B dari diatas 10 persen pada tahun 1970'an menjadi kurang dari 6 persen saat ini. 

Pengalaman serupa juga dialami oleh Jepang. Dimana setelah 20 tahun melakukan vaksinasi Hepatitis B bagi bayi baru lahir, negeri Sakura itu mampu menurunkan prevalensi Hepatitis B menjadi 0,01 persen dari sebelumnya 1 persen. 

"Sedangkan untuk kasus Indonesia, kegiatan imunisasi Hepatitis B harus lebih digalakkan di daerah NTT, yang mana prevalensi Hepatitis B tertinggi di Indonesia. Prevalensi Hepatitis B di Jakarta antara 2,6 persen hingga Cantik, Sehat dan Trendi 4 persen. Prevalensi terendah Hepatitis B di Yogyakarta. 

Kalaupun telah terinfeksi dengan virus Hepatitis B, masyarakat tak perlu cemas. Karena perkembangan ilmu kedokteran saat ini memungkinkan penderita Hepatitis B diobati melalui dua cara pengobatan. Yakni pengobatan secara oral dengan menggunakan Lamivudine dan interferon yang diberikan secara injeksi. 


Namun interferon kurang disukai karena efek samping dan cara pemberian yang tidak aman. Sehingga Lamivudine telah digunakan oleh lebih dari 3.000 pasien dengan cara diminum sekali sehari, selain juga harganya yang lebih murah. Bahkan Lamivudine telah direkomendasikan oleh para ahli penyakit hati di kawasan Asia Pasifik.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact