Stres Positif dan Stres Negatif - HARISEHAT.COM

Breaking

logo

Stres Positif dan Stres Negatif

Stres Positif dan Stres Negatif


Stres Positif dan Stres Negatif


Dalam ilmu kedokteran, stres merupakan perasaan tertekan yang dapat membuat orang mudah tersinggung. marah, konsentrasi mudah hilang, suka termenung, hidup tidak bergairah, dan putus asa. Umumnya, penderita stres disebabkan karena kurang siap dalam menghadapi masalah. Ketidaksiapan itu bisa dimunculkan dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar. 

Perintis penelitian mengenai stres, Hans Seyle, ada dua stres, yaitu austres dan distres. Austres adalah gejala tekanan positif. Biasanya, gejala ini muncul dengan tekanan sesuatu yang bisa membuat orang senang, seperti memperoleh gaji, hendak menikah, anak melahirkan, ada kabar berhasil, berita pesta, dan lainnya. Sedangkan distres adalah perasaan yang jika dialami, maka seorang tidak sanggup mengatasinya. Dia mengalami tekanan mental yang memuncak Kategori ini sebagai tekanan negatif. 

Pada tubuh, kedua kategori stres ini berdampak sama. Sistenm syaraf otonom secara otomatis memprakarsai reaksi secara cepat. Hormon diproduksi, tekanan darah naik, dan denyut jantung meningkat tajam. Di samping itu, pernafasan juga semakin meningkat. Imbasnya, penderita ini menjadi murung dan frustasi yang hebat. 

Dalam Islam, austres maupun distres merupakan ujian dari Allah. Austres dianggap ujian karena itu dapat menghilangkan rasa ingat kepada Allah dan membuat orang lupa diri. Dalam Islam, sesuatu yang menyenangkan terlebih jika itu mendadak akan dapat menghanyutkan mereka. Sehingga, mereka lupa kepada Allah. 

Distres juga merupakan cobaan hidup, karena seorang hamba diuji untuk tidak boleh putus asa atas rahmat Allah swt. ketika mendapatkan cobaan yang maha dahsyat sekali pun. Apapun yang menimpa seorang hamba pada hakikatnya adalah untuk kebaikan dirinya. Di mata manusia, ujian mungkin dipandang sebagai ketidakberpihakan Tuhan pada dirinya. Padahal di mata Allah swt., itu semua adalah untuk kebaikan dirinya sendiri. 

Seperti anjuran Dr. Barnard, penulis buku 50 Ways to a Healthy Heart, bahwa selalu berpikir positif pada Tuhan merupakan upaya pencegahan agar seseorang tidak terkena gejala stres. Tetapi, kalau dia berpikir negatif, suatu ketika seseorang akan akan terkena stres ketika mendapat tekanan persoalan. Jika menghadapi dua gejala stres seperti ini, menurut Imam Ghazali, kuncinya adalah dengan memperbanyak zikir kepada Allah. 

Orang tidak cukup hanya dengan menjalankan shalat yang wajib, tapi juga shalat-shalat sunnah lainnya. Perbanyak berpuasa sunnah dan rajin melakukan shalat malam (Tahajud). Di samping itu, usai shalat juga harus disempatkan membaca banyak kalimat tahlil (dua kalimat syahadat), istighfar, tasbih, takbir, tahmid, doa, baca al-Qur'an, dan lainnya. 

Di samping itu, setiap anugerah yang diberikan Allah hendaknya selalu disyukuri. Sedikit atau banyak bukanlah standar kebahagiaan hakiki untuk hidup di dunia. Sikap stres, kata pengarang kitab Ihya Ulumuddin itu, adalah bentuk kufur nikmat. Maka, ketika seseorang mengalami gejala stres, dia harus cepat-cepat mendekatkan diri kepada Allah swt. 

(Tips Sehat Ala Rasulullah saw., Uup Ghufron/berbagai sumber)

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact